
Masih ditempat yang sama
Puluhan, tidak tapi ratusan mayat bertebaran dimana-mana. Kondisi yang tidak lagi utuh. Ada yang terbelah, ada yang terbakar, ada yang hanya menyisakkan sebagian anggota tubuhnya.
Alun-alun desa berubah menjadi lautan darah yang sangat mengerikan. Warga desa merasa ketakutan yang luar biasa. Setelah ini mereka tidak akan lagi bisa tinggal dengan nyaman. Mau tidak mau, mereka harus meninggalkan tanah kelahiran mereka, ketempat yang lebih baik.
Isabella begitu menikmati kegiatannya. Sang Godmother terus menari dengan pedang yang terayun dengan indahnya. Tarian yang sama sekali tidak terlihat menyejukkan hati. Tapi menjadi kehancuran.
Jovan mendongakkan kepalanya, menatap kaka tertua bundanya. "Kapan bunda akan berhenti, paman? "
"Tentu saja jika semuanya selesai" jawab Devan dengan santai. "Apa kau tertarik? "
"Ayah tidak akan senang"
"Ya. Ayahmu akan mengamuk jika kau menjadi seperti bundamu"
Danesh berlari panik mendekat kearah paman dan keponakan itu. "Ada apa Danesh? " Tanya Devan.
"Gawat Lord. Mereka menambah pasukan. Mafia Asia dan Amerika bergabung membantu mereka! " Danesh panik. Hal ini diluar ekspetasinya. Pasukan mereka jelas akan kalah dalam jumlah.
"HAHAHAHAHA" Tawa bahagia Roxy menggelegar. "SUDAH AKU KATAKAN BUKAN? MENYERAHLAH! TIDAK ADA GUNANYA KALIAN MELAWAN KAMI!!! " padahal dia sedang sekarat, tapi masih bisa bantak bicara.
Tepat setelah itu, lebih dari 1000 pasukan menyerang. Mereka meyerbu kearah sang Godmother. Isabella menghentikan gerakannya, menatap segorombolan orang yang mengelilinginya. Seringai wanita itu semakin melebar.
Galih menatap panik sang suami. "Hubby! " kilat mata Kevin mulai berubah. Netranya menggelap. Tidak ada gunanya menahan diri lagi. "Tidak akan ada yang bisa menyentuhnya, Love! "
"Menyerahlah Godmother! " teriak salah satu pemimpin mereka. "Kau akan kalah! Tidak ada gunanya. Jauh lebih baik kau melayani kami!! " ucapan senonoh itu diiringi tawa menjijikan mereka.
"AYOLAH. JANGAN BUANG-BUANG ENERGIMU! KEMARILAH, AKU AKAN DENGAN SENANG HATI MENERIMA PELAYANMU!! "
Jovan mengepalkan tangannya erat. Auranya menggelap mendengar bunda tercintanya dilecehkan seperti itu.
Bahkan Haybie menggeram dengan sangat keras. Harimau besar itu begitu ingin mencabik tubuh mereka.
"Apa kau pikir bisa mnyentuh putriku, Laxo? " pria bernama Laxo itu menoleh ke atas. Disana diatas bukit, sang Godfather dan pasukannya La Cosa Nostra tengah berdiri gagah.
"La Cosa Nostra" gumam Laxo. "Bukankah mereka sudah musnah? " tanyanya tak percaya.
"Dan kau percaya? " seru Isabella. Laxo menoleh pada sang Godmother. "Aku dan Godfather masih hidup Laxo. Bagaimana bisa mereka hancur? Bodoh! "
Laxo menatap tajam musuh lamanya. Tangannya yang menggenggam sebuah Desert Eagle menunjuk kearah tuan Revano. "MASA MU SUDAH HABIS GODFATHER! "
"BEGITU? APA KAU TAKUT? " tuan Revano menaikkan sebelah alisnya.
"AKU TIDAK PERNAH TAKUT PADAMU, SIALAN!!!"
"ISTIRAHATLAH JIKA SAKIT, KAU BEGITU PUCAT"
Laxo menggigit bibirnya gugup. "Sial!! Serang!!! " seluruh pasukan musuh menyerang Isabella bersamaan. Wanita itu menyambutnya dengan senang hati.
"Pegang ini Jovan! " tuan Revano menyerahkan sebuah pedang berwarna hitam dengan gambar burung Phoenix disetiap sisinya. Persis seperti milik Isabella.
Pedang yang dipegang Jovan saat ini adalah pasangan dari pedang milik Isabella. Memiliki energi yang lebih kuat.
Dark of Phoenix
Pedang hitam itu jauh lebih mematikan, siapapun yang terkena ayunannya, maka tubuhnya akan langsung meledak. Tapi tergantung dari bagaimana sang pemilik menyatukan jiwanya dengan Dark of Phoenix.
Jovan menatap pedang ditangannya dengan seksama. Persis mirip sang bunda. Ia tau bagaimana menggunakannya, Karena Isabella pernah mengajarinya. Pedangnya sangat ringan, tapi akan 1000x menjadi lebih berat jika diayunkan.
"Pedang itu adalah pasangan dari milik bundamu. Jika kau bisa menyatu dengannya, maka pedang itu akan menjadi milikmu! "
"Pergilah dan bantu bundamu! Kami akan mengurus sisanya! " perintah tuan Revano.
"Baik, Godfather! " secepat kilat Jovan berlari menuruni bukit. Diikuti Haybie dibelakangnya. Apapun yang menyangkut Isabella, Haybie tidak akan membiarkannya.
"Justin tidak akan senang mendengar ini! " seru Devan. "Pikirkan itu nanti" tuan Revano berlari kesisi yang lain.
.
Begitupun dengan Jovan. Anak itu seolah kehilangan kendali atas dirinya. Jiwanya dan pedang yang berada digenggamannya menyatu dengan baik.
Masev kembali mengambil alih tubuh Galih. Tubuhnya dikepung lebih dari 10 orang, tapi tidak membuatnya gentar sedikitpun.
Tak berbeda dengan sang istri dan alter egonya. Jiwa gelap Kevin yang telah lama tertidur, kini bangkit hanya untuk menikmati pesta.
Sedangkan Leo dan Harves yang masih berada diatas bukit. Mereka menjadi sniper jarak jauh, bersama Neoura yang memimpin pasukan.
Suara dari dentingan besi, disambut dengan suara tembakan, dan ledakan memenuhi seluruh desa. Warga desa hanya bisa pasrah pada keadaan tempat tinggal mereka yang sudah tak lagi terlihat.
Dengan susah payah Roxy mencoba bangkit, ia ingin menghabisi Aldre yang berada tak jauh darinya. Tapi Jos lebih cepat menahan tubuhnya untuk tetap berada diposisinya. Lelaki itu menggeram kesal saat dinginnya ujung senapan menepel bagian belakang kepalanya.
Sedangkan Sin dan Thomas, mereka sudah pasrah dengan keadaan. Tak mampu dan ingin lagi untuk melewan. Dan Metio, hanya bisa berharap keselamatan saudaranya.
.
"Kau yakin tidak ingin istirahat? Laxo? " saat ini Laxo dan Godfather berhadapan
Satu lawan satu. Kedua musuh lama kembali bertemu.
Laxo mengeratkan genggamannya pada pistol dan belati ditangannya. "Kau akan mati ditanganku kali ini, Revano!! "
"Jangan sampai meleset!! " tuan Revano mengerlingkan matanya menggoda. Sejak dulu pria didepannya ini tidak pernah bisa memberikan goresan sedikitpin padanya.
"Sialan!! " Laxo berlari menyerang lebih dulu. Geraknnya brutal dan berantakan, tidak satupun yang dapat mengenai lawannya.
Tuan Revano memang senang menggoda musuhnya. Sang Godfather hanya mengindar main-main tanpa melawan sama sekali.
"REVANO!!!! "
"HAHAHAHA"
"BRENGSEK!! SIALAN KAU!!! "
Tak jauh dari posisi mereka, Haybie berbaring dengan pose nyaman. Harimau besar itu seperti tengah menonton kartun favoritnya. Tubuhnya yang berlumuran darah tidak sesuai dengan ekspresi polos yang tertera diwajahnya.
Sesekali menggeram kecil pada musuj yang berusaha mendekatinya. Memberikan peringatan pada mereka untuk tidak mengganggu waktu santainya. Dan konyolnya mereka justru menurut dan menjauh.
"Apa yang kau lihat boy? " Tanya tuan Revano, melirik kesayangannya.
"Rawwwrrr" Haybie menyahut dengan auman kecil. Seolah memberitau 'aku sedang menikmati pertunjukanmu, pah'
"Apa ini cukup menghiburmu? "
"Rawwwrrrr (sangat menghibur) " Haybie membalas dengan gembira
"Revano!!! " teriak Laxo. suara cempreng sekali jika berteriak seperti itu. macam kucing kejepit.
"Apa? " keduanya berhenti.
"Jangan main-main brengsek!! " Laxo berseru kesal. Revano memang sialan. pria tua itu tidak bahagia jika tidak menjahilinya.
"Aku sedang berbicara dengan anakku? Apa masalahmu? " balas Revano tengil.
"BRENGSEK!!! " teriak Laxo marah.
....
T B C?
BYE!