
"Hal apa yang begitu penting hingga kamu ingin bertemu dengan paman? "
"Santai paman, duduklah dulu. "
Kevin menatap tajam keponakannya, sedangkan yang ditatap hanya bersikap santai. "Paman sedang tidak ingin main-main Vion!! " ucapnya memperingati.
"Baiklah, duduklah dulu paman. Aku akan mengambil sesuatu. " Vion menyerah, niatnya yang ingin menggoda sang paman sirna sudah. Remaja 18 tahun itu bangkit dari duduknya, berjalan kesalah satu lemari didalam ruangan, mengambil sebuah amplop cokelat besar dari sana.
Meletakkannya diatas meja, tepat dihadapan sang paman. "Apa ini? " Tanya Kevin bingung.
"Bukalah, paman akan tau apa isinya. Ini tentang paman Aldre. "
Kevin meraih amplop itu lantas membukanya, membaca isinya dengan hati-hati. Matanya melebar mendapati informasi yang tertulis disana, rahangnya mengeras. "Darimana kamu mendapatkan informasi ini? "
Vion tidak langsung menjawab, tangannya meraih sebatang rokok, mengapitnya dibibir dan menyalakan batangan nikotin itu.
"Temanku. Aku mendengar bahwa pewaris selanjutnya bukanlah berasal dari keluarga mereka. Jadi aku mencari tahunya, dan-- inilah yang aku dapatkan. " jelas Vion.
"Siapa yang tau hal ini selain temanmu? "
"Keluarga mereka tentu saja. Tapi selain itu -- aku tidak yakin apakah bibi Isabella belum mengetahuinya. "
"Rahasiakan hal ini dari siapapun, dan jangan biarkan orang lain tau tentang hal ini. Mengerti? "
"Hmm.. Apa paman akan memberitahu paman Galih? " Kevin terdiam sejenak, memikirkan langkah apa yang harus diambilnya. "Tentu saja, tapi tidak sekarang."
Vion menghembuskan asap terakhirnya, sebelum mematikan batang nikotin tersebut. "Bukankah dia pergi terlalu jauh paman? " . "Dia bahkan mengambil langkah yang tidak pernah kita bayangkan. "
Mata sebiru laut milik Vion menatap jauh hamparan langit, pikirannya menerawang kemasa lalu. Pamannya yang pendiam dan manis, tidak menyangka akan menjadi seperti ini.
Seandainya dia mau melawan sang daddy untuk tetap ikut dengan pamannya dulu, mungkin dia bisa mengantisipasi hal seperti ini.
"Andai saja daddy mengijinkanku ikut dengan paman Aldre dulu, mungkin tidak akan seperti ini akhirnya. " Vion berucap dengan lirih. Kevin menatap keponakannya dengan sendu, dia mengerti betapa remaja dihadapannya ini begitu menyayangi adik iparnya.
"Bagaimana jika kau justru ikut terjerat Vion? Kita tidak bisa mengubah takdir. "
"Apa paman Daniel tau? "
"I'm not sure. "
Setelah perbincangan itu, tidak satupun dari mereka mengeluarkan suara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Kevin sibuk dengan pikirannya tentang sang istri dan keluarganya, sedangkan Vion berpikir bagaimana mendapatkan incarannya.
Lamunan mereka buyar akibat dering ponsel milik Vion. Dengan malas lelaki itu meraih benda pipih diatas meja. "Hmm. "
"Dimana kau? " Vion menjauhkan ponselnya dari terlinga, begitu suara saudara kembarnya menggelegar.
"Ck, jangan berteriak. " decak Vion. "Kau dimana sialan? "
"Kenapa? "
"Jangan balik bertanya bodoh, kau membiarkanku menghadapi daddy sendirian setelah kekacauan yang kau buat? Dasar saudara kembar brengsek! " Vien mengumpat marah membuat saudara kembarnya meringis.
Kevin hanya menggelengkan kepalanya, tidak lagi heran dengan kelakuan dua bocah nakal ini.
Kevin mendengus, "pulang! Sebelum daddymu semakin mengamuk. " perintahnya. Vion memasang wajah memelasnya, "ayolah paman.. "
"Pulang anak nakal. Kau tidak kasihan pada saudara kembarmu? Pulang! Atau paman yang akan menghajarmu. "
"Iyaiya. Paman gak asik. "
.
Kevin tiba dirumahnya tepat sebelum makan malam, lelaki itu tidak kembali ke mansion Skholvies tapi kembali ke mansionnya sendiri. Karena tadi sang istri, Galih menghubungi bahwa dia dan anak-anak sudah pulang kemansion mereka.
"Selamat datang tuan. " sapa kepala pengawal.
"Mm."
Jajaran para pengawal dan pelayan berbaris didepan pintu, menyambut kedatangannya. Itu adalah hal biasa bagi para sultan iya kan? Iyadong, hihihihi..
"Daddyyy, kenapa baru sampai? " Kinan yang baru keluar dari dapur segera berlari menhampiri sang daddy. Bibir mungilnya mengerucut lucu.
"Jalanan macet sayang. "
"Kenapa tidak pakai helikopter? "
"Tidak ada helipad disini. "
"Kalau gitu buat sekarang! "
"Baiklah, akan daddy buat nanti. "
"Kiran, biarkan daddy bersihkan tubuhnya dulu sayang. " seru Galih yang sejak tadi memperhatikan mereka.
"Baiklah, aku akan menyusul ka Keano ke kamar. " gadis itu berlari menaiki tangga. "Jangan berlari!! " Galih berteriak, meski tak didengar putrinya karena gadis kecil itu sudah menghilang dibalik tembok.
Galih menatap intens Kevin, suaminya itu terlihat tidak tenang. Lelaki itu cukup peka untuk mengetahui ada yang dirahasiakan suaminya.
"Ada yang ingin kamu katakan, hubby? " tanya Galih pelan. Dia tidak akan memaksa lelaki itu untuk bercerita, sampai dia mau menceritakannya sendiri.
Kevin menggeleng, tersenyum tipis, meraih tubuh sang istri untuk dipeluknya. "Tidak ada, love. Aku hanya lelah. "
"Baiklah, aku sudah menyiapkan air hangat untuk berendam, tapi sepertinya sudah dingin. Mau aku siapkan yang baru? "
"Tidak, tidak perlu. Kamu siapkan makan malam saja. "
"Mmm. "
......
TBC?
BYE!