Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
101 | GODFATHER IS BACK?



"Bisakah kita bertemu?"


"Bertemu? Aneh sekali kau mengajakku bertemu duluan"


"Apa yang ingin kau cari tau dariku... Aldre Jeverus Skholvies"


Kedua sudut bibir Aldre membentuk garis lurus. Wajahnya tenang tanpa ada ekspresi apapun.


"Devan Antonio Courtland"


"Aku di Paris" jawaban cepat Aldre dapatkan dari lawan bicaranya.


"Jam 7 Malam ini, Balery Resort Miami!"


"Kau bercanda?!"


"Aku sedang malas berpergian jauh. Jika kau tidak ingin datang tidak masalah, toh informasi ini bukanlah hal penting bagiku" Aldre mematikan sambungan telponnya begitu saja.


Senyum miringnya terpatri. "Benar dugaanku, kau ingin menjadikan kaka iparku alat balas dendammu" desisnya.


Aldre meraup kunci mobilnya kasar, lalu berjalan keluar dari apartmentnya menuju basement.


Lelaki itu mengendari mobilnya membelah jalanan kota Los Angeles. Tujuannya adalah mansion megah milik sang kaka, Galih yang terletak dipinggir kota.


"Apa kakaku ada?" Tanya Aldre pada penjaga begitu ia tiba disana.


"Tuan Galih berada dikediaman orang tua anda tuan. Tapi tuan Kevin baru saja tiba" jawab penjaga tersebut.


Aldre mengangguk kecil, "terimakasih" balasnya.


Aldre melangkah menuju lantai dua, tempat kamar sang kaka berada. Kebetulan kakanya itu tidak ada, jadi dia bisa berbicara dengan kaka iparnya itu tanpa sembunyi-sembunyi.


"Tumben kau datang kesini, bocah nakal" Kevin keluar dari ruang ganti hanya dengan celana pendek yang menempel ditubuhnya.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu" jawab Aldre cepat.


Kevin meletakkan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya keatas ranjang. "Apa itu?" Kepalanya memiring kekiri.


"Aku tau kenapa 'dia' mengincar dirimu" ujar Aldre.


"Kau tau?"


"Ka Devan"


Kevin terdiam. "Ka Devan? Apa maksudmu?"


" 'dia' ingin menjadikanmu alat balas dendam untuk melawan ka Devan"


"Bagaimana kau tau?" Kevin menatap lekat adik iparnya itu. "Kalung itu... Ka Devan yang menghancurkannya sebelumnya"


"Malam ini, aku akan menemuinya" lanjut Aldre lagi. "Apa kau datang sendiri kesini?" Tanya Kevin. Aldre mengangguk.


"Duduklah"


.


.


"Apa anda serius ingin menemuinya? Bagaimana jika itu hanya sebuah jebakan?"


Seorang lelaki dengan rambut gondrong berwarna blonde berusaha menghentikn pria paruh baya yang saat ini tengah mengemasi beberapa pakaiannya kedalam koper.


Pria paruh tersebut menghentikan kegiatannya. "Tidak ada yang bisa menjebakku dengan mudah. Kau lupa siapa aku?" Ucapnya dengan wajah pongah.


"Setiap orang memiliki kelemahan" jawab lelaki berambut gondrong dengan sarkas.


Pria paruh baya itu terkekeh remeh. "Jika itu dirimu-- jelas saja aku akan percaya. Tapi itu tidak berlaku untukku" jarinya menunjuk tepat didepan wajah yang lebih muda.


"Kau terlalu sombong! Jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan mau repot-repot datang menolongmu"


Kekehan kecil itu berubah menjadi tawa lebar. "Aku tidak butuh pertolongan, tapi aku yang menolong"


Pria paruh baya itu keluar dari kamarnya sambil menggeret koper besar miliknya. Tawa lebarnya masih terdengar meski ia sudah melangkah jauh.


"Aku rasa dia masih belum paham siapa yang menempati posisi tertinggi di dunia bawah! TCruel'd tidak lagi dalam masa kejayaannya, pria tua! Jauh lebih baik jika kau berbaring nyaman diatas tanah!"


Lelaki berambut gondrong itu mendesah lelah. Pria dengan sejuta kebodohan itu begitu bangga dengan statusnya sampai dia lupa ada yang lebih tinggi darinya.


.


.


Sudah belasan tahun sejak terakhir kali ia menginjakan kakinya kedalam bangunan megah miliknya yang berdiri didalam sebuah hutan terlarang di pedalaman Italia. Jalurnya hanya bisa dilalui dengan helikopter.


Ia sudah bersumpah untuk tidak lagi terjun kedalam dunia gelapnya. Terakhir karena putra bungsu sahabatnya, itupun ia hanya menyapa musuh lamanya. Tidak benar-benar menggunakan tangannya untuk menghabisi siapapun.


Dan sekarang, dirinya terpaksa kembali karena keselamatan putra sulungnya, menantu, dan adik ipar putranya yang dipertaruhkan.


"Selamat datang kembali, Godfather"


Bungkukan hormat dari ratusan pasukannya yang menatap dibangunan megah itu menjadi sambutan begitu ia melewati gerbang utama mansion atau bisa disebut markas besar 'The Fault Blood'.


Mata setajam pedang milik Godfather menatap seluruh pasukan miliknya. "Kalian sudah tau apa yang membuatku kembali kesini bukan?" Ujarnya dengan lantang.


"Siap, Godfather" jawaban kompak dari seluruh pasukan menggema.


"Lakukan sesuai perintah yang kalian dapatkan, tidak boleh ada cacat sedikitpun. Dan, aku ingin kalian mengabaikan apapun perintah Godmother, karena saat ini aku yang memimpin. Paham?"


"Laksanakan, Godfather"


"Bagus"


Revano Courtland, sosok asli sang Godfather yang pernah berjaya dan sangat ditakuti pada masanya, bahkan hingga kini sosoknya masih terus menjadi sorotan meski hampir puluhan tahun tidak lagi aktif dalam dunia bawah. Sepak terjangnya yang terkenal mengerikan dan sadis, hanya orang-orang tolol yang akan dengan sukarela mengajukan diri menjadi musuhnya.


Revan melangkah masuk kedalam bangunan utama markas besar The Fault Blood miliknya. Kelompok mafia terbesar ini, ia sendiri yang membentuknya. Karena itu, segala perintahnya adalah mutlak. Meski tidak berlaku bagi sang putri yang telah mengambil alih posisinya sebagai Godfather. Isabella William Courtland, The Godmother Princess of Hell.


.


.


"Ada apa, Bee?" Justin menatap heran sang istrj yang sejak tadi teru melamun. Tidak biasanya wanita itu melamun seperti ini.


"Masalah ini lebih rumit dari yang aku bayangkan, Boo"


"Maksudmu?"


Isabella melirik benda Perak dengan liontin merah yang masih bertengger manis dileher suaminya itu. "Kau yakin tidak tau siapa yang memusnahkan kalung itu sebelumnya?" Justin menggeleng.


"Ka Devan!"


"A-apa?"


"Dia juga yang membunuh pemimpin Tcruel'd. Dan sekarang, putra sulungnya menuntut balas dendam. Karena itu ia mengincar ka Kevin" jelas Isabella.


Justin terkesiap, harusnya ia mengenal Kelompok yang pernah dipimpinnya lebih dalam. Ia benar-benar terkejut dengan fakta yang baru ia ketahui ini.


"Itu artinya... Pria itu yang membangkitkan kalung ini?"


Isabella mengangguk, "kalung itu tidak benar-benar musnah, dan aku aku... Ka Devan terlalu ceroboh"


Justin mendesah kasar. Ini tidak akan selesai dengan cepat. "Apa yang harus kita lakukan, Bee?"


"Menunggu perintah"


"Perintah? Who?"


"Papah!"


"What the ****!!"


"Nyawamu, ka Kevin, dan yang terpenting adalah putra sulungnya. Kesayangannya dalam bahaya, Boo! Tidak mungkin papah akan diam saja, dan aku tidak bisa mengambil alih The Fault Blood karena papah turun tangan sendiri"


"Apa ka Devan tau?"


"I'm not sure! Tapi kita harus memperingatkan Aldre untuk tidak bertindak ceroboh"


"Harusnya tidak serumit itu sampai papah turun tangan sendiri"


"Tidak jika hanya pria itu yang kita lawan. Papah memiliki banyak musuh yang masih mengharapkan kematiannya, Boo. Pria itu tidak akan bertangan kosong jika dia sampai berani mengincar seorang Black Sweeper, dan menutut balas dendam pada Lord of Phoenix! Hanya orang sinting yang berani melakukannya"


Justin terdiam mencerna setiap perkataan Isabella. Harusnya.... Sial! Dia benci terlibat seperti ini!


.....


T B C?


BYE!