Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 65



Suasana didalam kamar Ara menjadi canggung. Ara terus menutup wajahnya dengan tangan karena malu, sedangkan Aldre menunduk dengan wajah memerah.


'Bego banget Aldre! Bego bego bego' maki Aldre dalam hati. 'Bisa panjang nih besok urusannya'


'Aaaaaaaa malu banget. Kenapa harus ka Charles si? Huaaaaa mamah, Ara maluuuuuu' Ara merutuki dirinya dalam hati.


Aldre menoleh pada Ara yang masih menutup wajahnya. "Ra" panggilnya. Ara melepaskan tangannya, melirik lelaki disampingnya.


"Eeeee, udah malam. Kita tidur lagi? " ajak Aldre gugup. Ara mengangguk kecil, "i-iya"


Keduanya naik ke atas ranjang dengan canggung, menarik selimut menutupi tubuh mereka.


Berbaring dengan posisi saling membelakangi. Larut dalam pikiran masing-masing, sampai mereka terlelap.


Pagi harinya


Sinar matahari pagi menyapa dari balik tirai jendela. Menyambut setiap manusia dengan kehangatannya.


Kedua kelopak mata si tampan putra bungsu keluarga Skholvies terbuka. Sinar matahari yang menerpa langsung wajahnya seolah membangunkan Aldre dari tidur nyenyaknya.


Kepalanya menoleh kesamping, mendapati gadisnya masih terlelap seolah tidak terusik sedikitpun dengan hangatnya sinar mentari.


Aldre merubah posisinya, memeluk tubuh kecil Ara dari belakang. Mengecup tengkuk gadis itu lembut. "Wake up honey" bisiknya.


Kembali memberikan kecupan bertubi seperti yang ia lakukan semalam. Ara menggeliat kecil, terusik dengan kegiatan yang dilakukan Aldre pada wajahnya.


"Mmmhhh"


"Good morning, honey" sapa Aldre lembut. Ara menoleh, bibirnya mengerucut kesal karena tidurnya terganggu.


"Aldre ganggu Ara! Masih ngantuk tau" ucap Ara kesal. "Ini sudah pagi, sayang. Katanya mau menjenguk Carissa, hm? "


"Oh iya. Untung Al ingetin hehehe"


"Cup cup cup"


"Alllllll"


"Apa sayang? " Ucap Aldre menggoda Ara.


Pipi gadis itu memerah malu. "Awas ah. Ara mau mandi tau" Ara berusaha menyingkirkan tangan Aldre yang masih merengkuh pinggangnya.


"Kamu pake blush on ya? " goda Aldre lagi. "ALLLLLLL!!! "


"Hahahaha"


Dengan gerakan secepat kilat, Ara berlari menuju kamar mandi, gadis itu bahkan hampir terjatuh karena tersandung karpet.


BRAKK


Pintu kamar mandi yang tertutup kencang cukup membuat Aldre terkejut. Lelaki tampan itu menggeleng kecil, masih terkekeh geli dengan tingkah menggemaskan gadisnya.


Didalam kamar mandi


"Aldre jelek, Aldre jelek, Aldre jelek pokoknya Aldre jelek"


"Issshhh. Al rese banget si, kenapa godain Ara terus kan jadi maluuuuuuu. Nanti kalo Ara baper gimana? " misuhnya.


"Aldre jelek! Ihhh sebel, dasar jelek! "


"Iya iya, Al jelek. Yang penting kan Al cinta kamu, sayang" suara Aldre menyahut dari luar.


Ara melotot kaget, bibirnya menganga kecil. Apa suaranya sekeras itu? Sampai Aldre bisa mendengar?


Gagang pintu kamar mandi yang bergerak membuat Ara waspada. 'Aduuhhh, Ara lupa kunci pintunya' batin Ara gelisah.


Pintu terbuka, menampilkan Aldre dengan wajah tengilnya. Alisnya bergerak naik tuun menggoda Ara, membuat pipi gadis itu semakin memerah.


"Kamu ngapain? Ara mau mandi! " seru Ara kencang. Aldre tidak menjawab, kakinya melangkah masuk, lalu mengunci pintu dari dalam.


"Alllll"


"Apa sayang? "


"Ihhh, kamu mau ngapain? Keluar gak!! "


Aldre menggeleng. "Kalo dikamar mandi memangnya mau ngapain? " melangkah pelan mendekati Ara.


"Alllll"


"Morning ***? Carissa bisa menunggu" goda Aldre yang kesekian.


Ara menatap Aldre takut. Gadis itu tidak sadar melangkah mundur masuk kedalam shower. Aldre menyeringai, langkahnya menjadi lebih cepat.


Buggg


Tangannya bergerak membuka kaosnya sendiri, menampilkan tubuh tegapnya yang berotot. Ara menahan nafas, benar-benar takut Aldre akan melakukan apa yang diucapkannya.


"A-al"


Aldre menunduk, membiarkan hidungnya dan Ara saling menempel. "Kamu akan tau, kenapa semua orang begitu menggilai *** setelah merasakannya, sayang" bisiknya tepat ditelinga Ara.


Lelaki itu menggosokkan hidung mancungnya dengan hidung mancung Ara. Menggerakkannya dengan sensual.


"A-al. Jangan seperti ini"


"Seperti apa sayang? "


"Al... Ara mohon"


"Sudah cukup! Aku tidak ingin menahannya lagi. You're mine! "


Aldre menelusupkan kepalanya di leher Ara, menghisap lembut leher putih gadisnya. Tubuh Ara menegang, kedua tangannya meremat kencang bahu telanjang Aldre.


Aldre melepaskan hisapannya, melihat hasil karyanya disana. Tanda merah keunguan menghiasi leher Ara. Lagi, Aldre kembali menelusupkan kepalanya.


Tangannya bergerak membuka kancing piyama Ara, meloloskan kain satin tersebut dari tubuh gadisnya. Menyisakan bra tipis yang masih menempel di tubuh bagian atasnya.


Ara tidak mampu menolak perlakuan Aldre. Tubuhnya seolah pasrah dengan apa yang lelaki itu lakukan.


"Kau tau bahwa aku bukan yang pertama yang menyentuh tubuhmu, Ara? "


Ara mengangguk kecil, cukup terkejut karena Aldre sudah mengetahuinya. "Iya. Maafkan Ara, Al"


"Aku akan memaafkanmu, hanya jika kamu menuruti keiinginanku! How? " terkesan memanfaatkan memamg, tapi Aldre sungguh tidak perduli. Ia tidak ingin lagi membagi gadianya dengan siapapun.


"Ara akan melakukan apapun yang Al mau"


"Promise? "


"Promise"


Kembali melanjutkan aksinya. Dan kini Ara benar-benar pasrah. Tangan Aldre bergerak menarik turun celana Ara. Mengusap inti gadis itu yang masih tertutup kain hitam tipisnya.


Menarik kedua kaki Ara untuk bertengger dipinggangnya. Aldre menggendong tubuh Ara, membuka kunci, melangkah menuju pintu kamar mandi, dan kembali membuka kuncinya.


Berjalan kearah ranjang. Menghempaskan tubuh gadisnya dengan sedikit kencang. Aldre merangkak naik, mengukung tubuh kecil Ara. Bibirnya melahap rakus bibir mungil Ara.


Tangannya kembali bekerja, menyentuh semua yang ingin ia sentuh. Melepaskan seluruh kain yang tersisa. Kimi keduanya sama-sama naked.


"Kamu siap? " mata Aldre menggelap, nafsunya sudah berada diujung. Dan Ara menyadari itu, kepalanya mengangguk kecil. "Iya Al"


Aldre menarik pinggul Ara agar lebih menempel padanya, membuka paha gadis itu lebih lebar. Menuntun miliknya untuk masuk.


Ara meringis menahan sakit. Menggigit bibirnya kencang hingga berdarah, kukunya menancap sempurna dipunggung tegap Aldre.


"Sial! Kenapa sempit sekali" Aldre menggeram kencang.


Aldre manarik keluar miliknya, lalu kembali memasukannya dalam sekali hentak.


"Aakkkhhh sakittt Alll" air mata Ara menetes, tubuhnya terasa seperti terbelah jadi dua.


Aldre menunduk, melihat penyatuan mereka. Matanya terbelalak melihat darah yang mengalir keluar. "Ra? Kamu... "


Ara membuka kedua matanya, menatap tepat manik cokelat lelaki diatasnya. "Masev tidak pernah menyentuh bagian itu, Al. Dia tau itu bukan miliknya" ucap Ara lirih.


"Maafkan aku, Ra. Aku akan berhenti sekarang"


"Tidak, tidak apa-apa. Lanjutkan saja Al"


"Kamu yakin? "


"Iya"


"Baiklah. Katakan jika kamu ingin aku berhenti"


Aldre mulai menggerakkan tubuhnya secara perlahan. Gerakannya lembut dan hati-hati, tidak ingin menyakiti gadisnya.


Keduanya begitu menikmati kegiatan mereka, sampai tidak sadar sudah melewatkan batas waktu sarapan.


.....


"Aku mengingatmu sebagai jalan buntu. Kaulah labirin terindah di mana cintaku rela tersesat tanpa perlu diselamatkan." - Wira Setianagar


.....


T B C?


BYE!