Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
8. Happy Birthday Erick



Langkah kaki yang terdengar saling bersahutan berlari menuruni anak tangga, menimbulkan bunyi cukup keras dari benda yang menghantam lantai.


"Ouh? Mamah sama papah kok udah pulang?" seruan itu berasal dari Erick yang terkejut melihat kehadiran orang tuanya. Bocah 14 tahun itu masih berdiri mematung di tengah anak tangga.


Di belakangnya, Jeno menurunkan bahu lemas. Acara mengajak sang kekasih jalan-jalan sepertinya akan batal karena paman dan bibinya sudah kembali. Jelas saja Erick pasti akan memilih bersama orang tuanya.


Erick berlari kecil menuruni anak tangga, menghampiri kedua orang tuanya yang sudah tersenyum lebar menatapnya.


"Kenapa kalian tidak bilang akan pulang hari ini?" tanya Erick begitu dirinya memeluk tubuh sang mamah.


Ana tersenyum lembut, mengusap penuh sayang rambut putra sulungya. "Mamah sama papah ingin membuat kejutan untuk my dan Harena. Oh ya, dimana adik mu?"


"Masih di kamar bersama Valerie. Kejutan apa?"


Daniel mengeluarkan sesuatu dari salah satu paper bag yang di bawanya. Sebuah kotak berukuran sedang berwarna biru.


"Happy birthday Erick" ucap Daniel penuh semangat sambil menyalakan lilin yang tertancap di atas kue.


"Eh??" Erick mengerjapkan matanya bingung. Dirinya sama sekali tidak ingat jika hari ini ia berulang tahun.


Begitupun Jeno yang tersentak setelah mendengar seruan Daniel. Pantas saja ia merasa seperti melupakan sesuatu sejak bangun tidur tadi.


"Bagaimana aku bisa lupa?" gumam Jeno yang tidak terdengar siapa pun.


"PAPAH MAMAH!!!"


"OUH? Ka Erick selamat ulang tahun" Harena yang baru saja turun bersama Valerie berseru dengan kompak


Erick dan yang lainnya tertawa kecil dengan tingkah menggemas kedua sahabat kecil itu.


"Ayo tiup lilinnya sayang. Make a wish dulu ya" ucap Ana. "Baik mah"


Erick memejamkan kedua matanya, kedua tangannya mengepal di depan dada. Merapalkan segala macam doa baik di dalam hatinya.


Setelah hampir 5 menit merapalkan doa dalam hati, Erick kembali membuka kedua matanya, lalu meniup lilin yang berada di atas kue.


"Yeeee!!! Potong kuenya potong kuenya" Harena dan Valerie kembali bernyanyi kompak dan semangat. Keduanya begitu excited untuk segera mencoba kue cokelat berhias strawberry di atasnya itu.


"Eittss.. Tidak sekarang potong kuenya, karena kita harus sarapan dulu" timpal Justin menghentikan nyanyian kedua gadis kecil itu.


Keduanya mendesah kecewa, tapi tetap menurut untuk pergi ke ruang makan. Harena dan Valerie berlari, berlomba siapa yang lebih dulu sampai di ruang makan.


Jeno mendekat pada Erick, menarik pinggang sang kekasih untuk menempel pada tubuhnya. Erick yang mendapat perlakuan seperti itu melotot kaget, sedangkan sang pelaku hanya memasang senyum tampannya.


"Jangan gitu ih. Gak liat ada orang tua kita" bisik Erick.


"Mm" Jeno mendekatkan bibirnya ke telinga Erick, kemudian berbisik. "Happy birthday, love"


Pipi Erick bersemu merah mendengar ucapan selamat yang keluar dari bibir Jeno. Kepalanya tertunduk guna menyembunyikan semburat merah di pipinya.


"Malu eh?" goda Jeno


"Maaf ya. Aku sempet lupa ulang tahun kamu tadi"


"Jika aku dapat hadiah" Erick menawar. Tau kekasihnya itu pasti akan memberikan apa pun yang dirinya minta.


Jeno tertawa merdu. Tawa yang mampu membuat hati Erick berdesir. "Kamu mau apa hm?"


"Hehehe. Nanti aku pikirin dulu ya"


"Sure"


Setibanya di ruang makan, mereka di suguhkan dengan pemandangan meja makan yang penuh dengan berbagai hidangan. Justin cukup terkejut karena tidak biasanya istri tercintanya mau memasak sebanyak ini. Jika sarapan, Isabella biasanya hanya memasak dua atau tiga. Itu juga sudah termasuk dengan roti dan susu.


"Tumben sekali" ucap Justin menaikkan sebelah alisnya menatap sang istri.


Isabella memutar bola matanya jengah. "Hari ini calon menantu ku ulang tahun. Tentu saja aku ingin merayakannya. Lagi puls, kita hanya punya waktu pagi ini karena jika malam nanti sudah pasti keluarga Skholvies telah menyiapkan pesta" jelas Isabella.


"Erick masih kecil ka Bella" Daniel menginterupsi perkataan Isabella yang mengatakan bahwa Erick adalah calon menantu wanita itu.


"Diam kau! Aku tidak butuh persetujuan mu" balas Isabella sinis.


"Hah, mengalah saja lah" gumam Daniel pasrah. Tidak akan habis jika melawan wanita satu ini untuk berdebat.


Erick mendongakkan kepalanya, menatap Jeno yang 5 cm lebih tinggi darinya. "Calon menantu?" matanya berkedip polos.


Jeno tersenyum lebar, melayangkan satu kecupan kecil di kening Erick. "Bagi ayah dan bunda, kamu adalah calon menantu mereka" jelasnya.


"Tapi kan aku masih kecil"


"Tidak sekarang sayang. Nanti, jika kita sudah dewasa"


"Hm?"


"Sudh, jangan di pikirkan. Ayo kita sarapan, nanti makanannya keburu dingin"


"Oke" dengan semangat Erick duduk di kursi. Matanya berbinar cerah melihat banyaknya hidangan yang tersaji di meja makan.


"Makanlah Erick. Semua ini milik mu" ucap Isabella dengan senyum manisnya.


"Sungguh?" tanya Erick berbinar.


Isabella mengangguk. "Tentu saja. Makan yang banyak ya"


"Asiiikkkk. Terimakasih aunty"


"Sama-sama menantu ku"


***


See you!!