
Seusai sarapan keempat remaja tampan dan cantik itu duduk di halaman belakang mansion, mengobrol santai di pagi hari.
"Ayo aku antar pulang" Jeno bangkit dari duduknya, berdiri di hadapan Erick yang tengah asik menikmati kue kering buatan bibi mady.
Kepala Erick mendongak menatap sang kekasih yang terlihat lebih tinggi darinya, kemudian menggeleng kuat. Menolak ajakan Jeno untuk pulang.
"Sayang. Bunda gak akan ngijinin kamu nginep lagi malam ini"
"Ini masih pagi!" bantah Erick.
"Tapi--"
"Gak mau!!"
"Udahlah Jen, biarin Erick disini dulu. Lagian nanti kamu tinggal nganter Erick ke depan komplek, soalnya paman Daniel dan Aunty Ana pasti udah pulang ke rumah" lerai Jesslyn.
Rumah Erick nyatanya memang tidak jauh dari mansion Scander, hanya berjarak dua blok dari wilayah mansion milik Justin Scander itu. Karena itu, jika ada urusan genting yang mengharuskan mereka pergi dalam waktu lama, Daniel dan Ana lebih sering menitipkan anak mereka pada Justin dan Isabella, karena rumah mereka yang lebih dekat.
Erick menganggk setuju dengan apa yang dikatakan Jesslyn. Sedangkan Jeno lagi-lagi harus mengalah pada sang kekasih, kembali menjatuhkan dirinya di sebelah Erick.
Jesslyn dan Erick kembali melanjutkan obrolan mereka sedangkan Jeno dan Jovan hanya menyimak percakapan keduanya.
Tangan Jeno tidak tinggal diam, mengusap pipi Erick, mengelus rambutnya, atau sesekali memainkan jari-jari sang kekasih. Membawanya dalam genggaman tangannya yang hangat. Sesekali Erick akan melirik tingkah kekasihnya itu, tapi tidak menghentikan Jeno yang asik dengan kesenangannya.
"Jari kamu lentik banget, kecil lagi" gumam Jeno cukup keras. Erick mendengus, "sombong banget mentang-mentang jarinya gede" balasnya sinis.
Jeno terkekeh kecil. "Aku gak sombong, sayang. Tapi emang jari kamu tuh kecil banget, liat tuh sampe kalah sama Jesslyn"
"Ya maap nih ya, aku bukan atlit kaya kalian bertiga, aku juga gak suka olahraga, jadi maap aja kalau KECIL!"
"Maaf ya. Kalau gitu mulai besok aku mau kamu mulai rutin olahraga sama aku. Oke?"
Erick melotot tidak suka setelah mendengar perkataan Jeno. "Ap--" belom sempat dirinya membantah, Jeno sudah lebih dulu memotong ucapannya. "Aku gak terima penolakan atau aku akan cuekin kamu sebulan" ucapnya tak mau di bantah.
"Nyebelin banget sih!"
"Nanti aku kasih vitamin ya, biar kamu kuat"
"Menghadapi kenyataan?!" seru Erick asal.
"HAHAHAHA" Tawa Jesslyn dan Jovan meledak. Erick memang selalu tau cara mematahkan perkataan Jeno.
Jeno mendelik pada kedua saudaranya, lalu kembali menatap Erick yang juga tengah menatapnya sinis.
"Aku serius sayang"
"Kebanyakan serius entar botak kepala kamu"
"Hahahaha"
"Erick..."
"Apasih aha manggil mulu. Lagi absen lo!"
"Ya tuhan, kuatkan hati hamba"
"Menerima segala cobaan yang berhembus mesra"
"Jawabin terus kalau aku ngomong"
"Kalau diam ntar cepirit kan gak lucu"
Byuuurrrr..
Keempatnya kompak menoleh kebelakang mendapati sang ayah, Justin yang menjadi pelaku penyemburan kopi.
"HAHAHAHA" Jovan semakin terbahak, apalagi setelah melihat reaksi sang ayah yang ternyata sejak tadi menguping pembicaraan mereka.
"Ayah ngapain disini?"
"Ayah gak apa-apa?"
"Mantap ayah hahaha"
"Maaf uncle"
"Dasar Jovan kurang ajar. Ayah tersedak ini"
"Kkkkkk"
**
Jeno sudah duduk anteng di atas motor besarnya, menunggu Erick yang tak kunjung selesai memakai helm. Sejak 15 menit lalu, cowok itu hanya memainkan helmnya,memutar-mutar atau melemparnya seperti bola.
"Mau sampai kapan kamu mainin helm kaya gitu?" tegur Jeno yang sepertinya sudah mulai jengah dengan tingkah sang kekasih.
Wajah Erick merengut, melayangkan tatapan kesal pada kekasihnya. "Kamu gak sayang aku!" sungutnya.
"Kalau aku gak sayang kamu, aku udah putusin cowok ambekan kaya kamu dari kemarin" balas Jeno dengan enteng.
"Jeno!"
"Ayo naik, aku anter kamu pulang"
Tidak ada jawaban dari Erick, cowok itu masih terus menampilkan raut kesalnya.
"Jangan menatap aku seperti itu, aku gak akan berubah pikiran. Cepet naik!"
"Huaaaa Jeno gak sayang aku huaaaa hiks hiks!!"
"Drama king"
"HUAAAAAA"
"ERICK!!"
Setelah perdebatan panjang di selingi drama picisan yang Erick ciptakan, akhirnya kini keduanya sudah sampai di rumah Erick. Daniel menyambut kedatangan sang putra dan kekasihnya, lelaki itu sudah berdiri di depan pintu selama 20 menit menunggu putra satu-satunya pulang.
"Masuk! Papah udah nungguin kamu" Ucap Jeno.
"Gak mau! Siapa lo nyuruh-nyuruh gue?!"
"Terserah" Jeno kembali menyalakan mesin motornya, bersiap untuk pergi dari sana. Namun Erick menahannya, kedua tangannya dengan cepat melingkar di tubuh Jeno.
"Lepas" perintah Jeno yang di balas gelengan kuat oleh Erick. "Gak mau!"
"Erick!"
"Jeno!"
"Lepas gak?!"
"Gak mau!!"
Jeno beralih menatap Daniel meminta pertolongan, namun Daniel justru malah tertawa kecil lalu menggeleng pelan.
"Uncle, anaknya nih. Cape banget Jeno sama tingkahnya" Jeno berseru dengan suara memelas.
"Gak boleh ngomong gitu Jeno!" protes Erick yang terima.
"Apasih ah. Udah lepas!"
"No!!"
"Astaga!!"
Jeno mendesah frustasi, tidak mengerti dengan tingkah kekasihnya yang berubah menjadi manja seperti ini. Biasanya baru menyentuh bahu saja Erick sudah melotot tapi sekarang justru tidak mau berpisah dengannya barang sedetik pun.
"Kalau tugas ku gak selesai dan aku di hukum guru, buku kamu yang bakal aku sobek-sobek!!" ancam Jeno yang sukses membuat Erick melepaskan pelukannya.
Meski saling mencintai, nyatanya Erick dan Jeno cukup berambisi dengan nilai. Mereka tidak mau saling tertinggal walau hanya satu angka. Posisi mereka bahkan selalu menjadi yang paling atas setelah Jovan, ranking 1 dan 2 paralel.
"DASAR JENO JELEK!! KAMU JELEK HUEK!!" dengan langkah kesal dan hentakan kuat, Erick melangkah masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Jeno begitu saja.
Daniel hanya bisa tertawa melihat tingkah sang putra. "Terimakasih ya Jeno"
Jeno mengangguk sekali. "Sama-sama uncle. Kalau begitu Jeno pulang dulu"
"Hati-hati"
"Shaloom"
"Shaloom"
****
See you!