Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 21. MASEV (REVISI)



"Hmm. "


"taktik yang sama ! Tapi selalu bisa mengecoh semua orang. "


"Atau.... Karena kami yang terlalu bodoh untuk ditipu! HAHAHAHAHAHA "


"Aku mengagumimu! Tapi dia benar, kau terlalu menyebalkan haha. "


Tangan bersarung darah itu kembali menari dengan indahnya diatas kanvas putih. Warna merah beraroma pekat yang selalu jadi favoritenya.


Lukisannya kini menampilkan pemandangan sebuah kota yang sangat indah, sebuah kota tempat dimana sosok itu berada. Jika dilukis dengan warna yang sesuai mungkin semua orang akan terpesona. Tapi melihat lukisan ini sekarang, bisa dipastikan mereka akan pingsan.


"Selalu merah! Aku bosan melihatnya. " seru seseorang.


'Dia' menoleh, tersenyum simpul dibalik kerudung merahnya. Senyum mengerikan yang jika dilihat secara jelas.


"Hai, Masev! "


Sosok yang dipanggil Masev itu melangkah mendekat. Ada sebuah robot mainan disalah satu tangannya. Tubuh tegap dan gagah yang berisi bocah 10 tahun itu merengkuh'nya'. Membuat 'dia' semakin melebarkan senyumannya.


"Kau terlalu dewasa untuk bocah 10 tahun. "


"Diam sayang! aku merindukanmu. " nada suaranya berubah, berat dan datar. Mainannya ia lempar kesembarang arah, melepaskan kerudung yang menutup rambut indah kesukaannya.


Mengucup perlahan, setiap sisi tanpa terlewat. Kecupannya turun ke leher, memberikan tanda indah disana. Kedua tangannya dengan cepat melepas jubah yang menutupi tubuh polos itu.


"Masevhhh..." 'Dia' mengerang atas tindakan lelaki itu padanya.


"Namaku, hanya namaku yang boleh kau keluarkan. " perintahnya mutlak.


Tubuh ramping indah itu terangkat, melayang diudara. Sosok bernama Masev melemparkan'nya' keranjang, meninggalkan lukisan yang masih belum selesai.


"Aku akan bermain cepat. " ucapnya sambil menanggalkan seluruh pakaiannya.


Selanjutnya hanya ada suara lembut yang meneriakan nama Masev, dan ******* lelaki itu yang menggema. Permainan cepat yang dia katakan hanya omong kosong belaka, nyatanya hingga beberapa jam berikutnya kadua orang itu masih bergumul dengan kegiatan mereka.


.


"Selalu manis seperti biasa. "


"Pemilik tubuh itu akan terkejut jika tau kau yang sebenarnya, Masev. "


"Mm. "


Masev kembali mendekatinya, memandang penuh kagum sosok didepannya. "Jangan pernah berfikir untuk mengambil alih tubuhnya, kita hanya penjaga. Mengerti? "


Tangan indah yang sudah bersih itu terangkat, mengelus rahang pemuda didepannya. "Aku tau. " memberikan kecupan singkat disisi rahang tegasnya.


"Aku akan menemuimu satu bulan lagi. "


"Aku akan menantikan itu sayang. "


Masev kembali mengambil mainannya, melangkah keluar tanpa mengatakan apapun lagi. 'Dia' tersenyum memperhatikan hingga pintu itu tertutup. Kembali menutup kepalanya dengan kerudung.


Matanya melirik lukisannya yang tersisa setengah, dia sudah tidak ingin melanjutkan lagi, catnya sudah hilang karena Masev membersihkannya. Dia harus mencari cat yang baru.


"Aku akan menggunakan cat mu lain kali, Masev. " pandangan matanya berubah tajam, dingin, dan mematikan.


.


Galih memegangi kepalanya yang terasa sakit. Dia baru saja bangun dari 'tidurnya'. Terasa seperti ada yang salah, auranya berbeda dengan Erick. Apa Masev? Tapi itu bukan miliknya.


Siapa dia? Siapa lagi yang ada dalam tubuhnya.


Galih menatap pantulan dirinya dalam cermin kamar mandi. Dahinya mengkerut, dia merasa seperti baru saja selesai berhubungan.


"Damn!! Siapa yang main-main dengan tubuhku? " geramnya.


Galih melayangkan tinjunya pada kaca dengan keras, menimbulkn bunyi kencang. Pintu kamar mandi digedor kasar, diiringi dengan suara teriakan Keano dari luar.


"Papah, papah!! " suara teriakan Keano terdengar dari luar, menggedor pintu dengan keras. "Buka pintunya pah!! " teriaknya lagi.


"Papahh!!! "


Galih melangkah kearah pintu cepat, putranya pasti khawatir. Pintu terbuka, raut panik Keano menyambut. "Papah!! Papah kenapa?? "


"Papah gak apa - apa sayang."


"Kenapa tangan papah berdarah? " Keano bertanya dengan khawatir.


"Hanya luka kecil. It's okay, don't worried hm. "


"Ayo Keano obati, pah. "


"Baiklah " Galih hanya bisa pasrah ketika sang putra menarik tangannya keluar dari kamar mandi.


Selama sang putra mengobati lukanya, pikiran Galih tidak pada tempatnya. Lelaki itu termenung, merenungkan apa yang terjadi pada tubuhnya. Sebenarnya apa yang terjadi? ini bukan pertama kalinya dia merasa seperti ini.


Kevin masuk kedalam kamar, langkahnya melimbat putra sulungnya yang tengah mengobati sang papah. "ada apa ini? " tanyanya.


Keano menoleh cepat begitu mendengar suara sang daddy, "dad... " panggilnya. "ada apa Keano? "


"papah terluka " jawab Keano. Kevin menatap tajam istrinya, sedangkan yang ditatap hanya menunduk takut.


"papah memukul kaca westafel kamar mandi, dad! Dan sekarang tangan papah terluka " adunya lagi.


"Galih! "


"I'm sorry " Galih bercicit takut.


"Keluarlah sayang, biar daddy yang lanjutkan "


"mm, kalau gitu Keano keluar dulu "


Kevin berbalik kembali menatap tajam istrinya. "what are u doing? " tanyanya marah. "maaf hubby, aku tidak bisa mengendalikan emosiku "


"what's wrong? "


"I don't know. Ada yang memakai tubuhku untuk melakukan ***! "


"***? " Galih mengangguk. "how can? "


"aku gak tau, saat aku bangun aku merasa baru saja berhubungan. Erick tidak mungkin selancang itu kan? "


"kita ke periksa kondisimu! "


"tapi--"


"tidak ada tapi! " final Kevin.


....


"Betapa indahnya, berdiri tegak dan berkata, aku hancur dan aku selamat."


....


T B C?


Bye!