
Seperti sebelumnya, pertemuan Masev dan Cloe hanya akan diisi dengan kegiatan panas mereka. Dan kali ini mereka melakukanya dikamar Ara, bukan ruangan menyeramkan milik Cloe.
Masev terus menggerakan tubuhnya tanpa henti, dan Cloe yang terus mengerang nikmat. Hanya ada nafsu dan erangan setiap kali mereka bertemu.
"Ouuuhhhh Masevvhh" ******* Cloe mengalun indah. Masev menggeram mendengarnya, ******* gadis dibawahnya bagai musik penyemangat baginya.
"Aku bilang jangan mendesah sayang, kau membuat ku tidak bisa berhenti" kesal Masev.
Cloe menyeringai, dengan sengaja semakin mengeraskan desahannya. Hal itu sukses membuat Masev bagai kerasukan, lelaki itu semakin mempercepat tempo gerakannya.
Keduanya terus mengulang kegiatan panas mereka hingga beberapa jam kemudian. Seperti sebelumnya, satu ronde saja tidak cukup bagi mereka.
Dan kini, Ara harus merelakan kamarnya menjadi tempat kedua pasangan yang tengah bergairah itu memadu kasih.
.
.
"Aku mengerti" ucap Isabella sebelum mengakhiri sambungan telponnya.
"Ada apa? " Tanya Kevin yang baru saja masuk. Isabella menoleh, keningnya mengerut melihat wajah pucat lelaki didepannya. Tangannya terjulur menempel dikening guna mengecek suhu tubuh Kevin, "tidak panas" ujarnya.
"Aku tidak sakit! "
"Lalu? "
"Entahlah. Sejak tadi aku memikirkan istriku" ucap Kevin khawatir.
"Tadi bang Javin telpon, dia bilang Cloe mengambil alih tubuh Ara" Kevin mendongak cepat setelah mendengar perkataan iparnya. "Cloe? " tanyanya memastikan.
Isabella mengangguk. Kevin paham sekarang kenapa perasaannya terus gelisah sejak tadi, dan pikirannya terus tertuju pada sang istri. "Masev" ucapnya lirih.
"Cloe ingin Masev menemaninya. Masev terpaksa mengambil alih tubuh Ge karena Cloe mengancam dengan pisau. Dan kamu pasti tau apa yang akan terjadi selanjutnya di antara mereka"
"Apa Cloe bisa hamil, dear? " tanya Kevin tiba-tiba, sukses membuat Isabella terkejut. "A-apa? "
Kevin menatap Isabella dalam, netra cokelatnya tidak bisa berbohong tentang apa yang dipikirkannya saat ini. Dan Isabella cukup mengerti dengan perasaan lelaki itu.
"Ya, tentu saja. Hanya jika mereka memang berniat memilikinya"
"Apa Aldre tidak akan kecewa jika dia tau bahwa dirinya bukanlah yang pertama? Meski itu bukan Ara"
"Aku tidak bisa mengatakan bahwa Aldre tidak akan kecewa, ka. Tapi aku yakin Aldre akan mengerti. Selama bukan Ara yang melakukannya, maka tidak ada alasan bagi Aldre untuk membenci Ara kembali"
"Dan kau sendiri mengerti karena kau sedang merasakannya sekarang, ka" ucap Isabella lagi.
Tubuh yang semula tegang itu kini sedikit rileks. Isabella benar tidak ada alasan baginya untuk marah pada sang istri. Karena bagaimanapun Galih tidak menginginkan hal itu, tapi sosok lain dalam tubuhnya.
Meski Kevin akui, rasanya sangat sakit ketika tubuh orang yang kau cintai disentuh orang lain. Marah pun tak ada gunanya, karena tubuh itu tidak hanya milik istrinya sendiri, tapi kedua sosok lain yang juga tinggal didalamnya.
"Bisakah kita percepat rencana ini, dear? " pinta Kevin. "Kenapa? Kau merindukan Ge?" Kevin mengangguk.
"Bersabarlah! sebentar lagi mereka akan bergerak, lalu setelah itu kita jalankan rencana kita"
.
.
PRANG BRAK!!
Suara benda jatuh dan hancur terus terdengar sejak 30 menit lalu diruang tamu mansion yang berdiri ditengah hutan tersebut.
Pasalnya sang pemilik terus mengamuk dan melempar asal benda-benda disekitarnya. Kondisi ruangan mewah itu kini bak seperti terkena badai.
Baru saja salah satu anak buahnya menghubungi, bahwa salah satu cabang perusahaannya mengalami anjlok saham yang mengakibatkan kebangkrutan. Dan perusahaan cabang itu adalah sumber terbesar bagi perusahaan utama.
Sudah bisa dipastikam bahwa ini adalah ulah Aldre. mengingak suadara angkatnya itu yang kini menguasai seluruh bisnis keluarga Romanov.
Sin yang berdiri diujung anak tangga menatap jengan Roxy yang sudah seperti pasien RSJ. "Ada apa dengan laki-laki itu? Apa dia gila? " gumamnya aneh.
Badan sexy gadis itu berbalik menatap cctv yang letaknya berada sangat tinggi. "Hey Jerk! " panggil Sin. Roxy menoleh dengan amarah yang masih menguar. "Apa?!"
"Kemarin kau bilang tidak ada cctv didalam ruangan ini. Lalu... What's that? " Sin menunjuk kearah kamera kecil tersebut. Roxy menengadah, mengikuti arah yang ditunjuk Sin.
Matanya membola terkejut. "Damn! Siapa yang melet--" ucapannya terhenti, seketika mengingat seseorang yang sejak tadi menjadi penyebab kemarahannya.
"Aldre!! " ucap Roxy geram yang masih bisa didengar Sin.
"Aldre.... " lirih Sin. Tubuhnya melemas mengingat apa yang dilakukannya dengan Roxy beberapa hari lalu. Aldre sudah pasti melihat semuanya.
"Sayang sekali, padahal aku sedang menikmati pertunjukan" sebuah suara berat muncul dari cctv. Keduanya menoleh, Roxy jelas tau suara siapa itu.
"ALDRE!!!! " teriaknya marah.
Tawa keras Aldre terdengar, "ouhhh sepupuku sayang, apa kabarmu hm? Lama tidak berjumpa! "
"Diam kau sialan!! "
"Omong-omong tubuh sahabatmu begitu indah dan luar biasa" tak ada sahutan. Roxy menyeringai merasa dirinya menang kali ini, sedangkan Sin wajah gadis itu tampak pucat.
"Benarkah? " lirih, suara Aldre terdengar lirih.
"Hahaha, sayang sekali ya. Dia menjadi penghianat, aku harap kau tidak teluka! "
"Kau tau, ka.... Sejak dia berbicara buruk tentang gadisku.... Aku tidak pernah lagi menganggapnya sebagai sahabat! "
.....
"Aku tahu hatiku nggak akan pernah sama, tetapi aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku akan baik-baik saja." - Sara Evans
.....
T B C?
BYE!