
Kelas telah usai beberapa menit lalu, sebagian siswa memilih untuk langsung menuju kantin guna mengisi kembali energi mereka, sedangkan sebagian lainnya memilih masuk ke dalam perpustakaan atau berjalan-jalan di area taman.
Jeno, Geo, Kanfa, Hiro, dan Noer adalah salah satu dari sebagian siswa yang memilih untuk berjalan di sekitar area sekolah.
Mereka berjalan hingga ke area bangunan paling di depan yang merupakan bangunan kampus.
Jeno memandang bangunan paling megah itu dengan tatapan penuh minat. "Apa kita bisa masuk?" tanyanya.
Jeno tau bahwa setiap warga Cartesy Family School boleh memasuki area gedung Cartesy University, tapi dia tetap ingin memastikan bahwa mereka tidak melanggar aturan apapun.
"Tentu saja" jawab Noer. "Semua warga Cartesy Family School boleh memasuki gedung ini. Tapi ada beberapa area yang di larang" lanjutnya.
"Area yang dilarang?" seru Kanfa.
"Mm. Beberapa area yang hanya boleh di masuki oleh orang-orang tertentu" jelas Geo. "Menara Academy salah satunya" Geo membawa pandangannya pada sebuah menara tinggi yang berada di tengah-tengah asrama kampus, diikuti Kanfa, Hiro, Jeno dan Noer.
"Dan.... Museum Cartesy" lalu menunjuk sebuah bangunan di sisi barat gedung kampus yang mirip seperti sebuah mini castle dan di kelilingi oleh pagar yang sangat tinggi. Hampir mencapai setengah bangunan tersebut.
"Apa ada yang pernah mencoba menorobos masuk ke sana?" tanya Hiro. Geo mengangguk. "Tentu saja. Banyak yang mencoba dan aku salah satunya"
Spontan Noer tertawa mendengar perkataan Geo. Ia ingat betapa bodohnya tindakan Geo yang menyelinap masuk ke area kampus di malam hari hanya untuk mendekati bangunan museum yang sangat di jaga ketat itu.
Jeno menatap jengkel sahabatnya itu. "Tingkah tolol apa yang kau lakukan?"
"Ck. Aku hanya penasaran bagaimana bentuk bangunannya, jadi aku mendekat. Tapi alarmnya berbunyi dari jarak 100 meter, aku sudah seperti maling yang kepergok satu kampung" jelas Geo dengan wajah masam.
Noer kembali tertawa, namun kali ini lebih keras. Kanfa dan Hiro kebingungan melihat Noer yang tertawa begitu keras karena mereka tidak tau apa yang terjadi.
"Alarmnya berbunyi sangat kencang sampai membangunkan semua orang. Dan Geo satu-satunya orang yang tertangkap basah berada dengan jarak paling dekat dengan pagar bunga pertama" jelas Noer sambil menunjuk barisan bunga yang tersusun rapih seperti pagar.
Jeno mendengus. "Dasar tolol"
Geo mendelik tak suka ke arah Jeno. "Diam kau! Akan aku tertawakan di depan wajah sialan mu itu jika kau penasaran dengan apa isi di dalam museum itu!"
Jeno hanya melengos tidak perduli dengan apa yang dikatakan Geo padanya. Cowok itu memilih untuk kembali melanjutkan langkahnya masuk ke area kampus.
"Apa kantor mrs. Rena ada disini?" tanya Hiro. Noer dan Geo mengangguk kompak.
"Mrs. Rena tadinya hanya bertugas sebagai rektor kampus, tapi sejak aunty Bella menjabat sebagai leader di sini mrs. Rena di tunjuk menjadi kepala yayasan" jelas Geo.
"Bukankah seharusnya kita memanggilnya grandma?" kali ini Kanfa yang bertanya.
"Tidak berlaku di area sekolah. Kau bisa memanggilnya seperti itu jika kita berada di luar. Dia akan melotot tajam jika mendengar kata itu keluar dari mulut mu"
Jeno termangu dengan penjelasan Geo. Satu kata yang meluncur dari bibir sahabatnya mengingatkannya pada sebuah cerita yang pernah di ceritakan grandpa nya.
"Leader ya...." Jeno bergumam kecil yang tentu saja tidak bisa di dengar para sahabatnya.
Dulu saat masih kuliah, Isabella pernah menjabat sebagai Leader selama delapan tahun. Dan selama itu juga, wanita itu tidak pernah sekalipun pulang ke rumah. Meski saat waktunya liburan tiba sekalipun.
Selain karena tugas serta tanggung jawabnya yang besar, alasan lainnya adalah karena ia menghindari sang kekasih, Justin Scander yang kini telah menjadi suaminya.
Kedatangan Jeno dan yang lainnya di sambut reaksi terkejut para mahasiswa dan mahasiswi Cartesy University. Mungkin mereka tidak menyangka akan bertemu dengan keturunan dari pemilik sekolah ini.
Sebagian dari meraka bahkan sampai ada yang mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan momen.
"Mereka bereaksi sama saat pertama kali Geo datang kesini" timpal Noer.
"Geuila parah. Gua jadi penasaran setenar apa orang tua kita dulu"
"Asal lo tau ya, gua aja masih gak nyangka bisa sedeket ini sama keturunan The Ace. Orang tua gua, dulunya itu satu angkatan sama The Ace, dan mereka selalu bilang kalau The Ace itu circle yang gak main-main bos. Semuanya punya gelar dan jabatan tinggi di sini, di tambah gak ada satupun dari mereka yang otak kosong dan sekedar numpang nama doang. Paham kan lu maksud gua?" seru Noer.
Kanfa dan Hiro saling pandang, ada rasa bangga yang besar dalam hati mereka menjadi keturunan salah satu anggota circle paling di segani di Cartesy.
"Orang tua kita keren banget ya, ro? Bukan maen" ucap Kanfa dengan senyum bangganya.
"Gua pengen cium bapak gua jadinya" balas Hiro dengan senyum tak kalah lebar.
Mereka terus melangkah tanpa menghiraukan pandangan orang-orang di sana. Tujuan mereka hanya ingin sekedar berkeliling dan melihat-lihat bangunan megah itu.
--
Sesampainya di sebuah lorong yang berada di lantai tiga, dimana terdapat beberapa lukisan yang menempel di dinding, sebuah lemari kaca besar yang terletak di tengah-tengah lorong dan menempel pada dinding, juga jajaran lukisan para pemimpin keluarga Courtland terdahulu.
Jeno berdiri tegak di depan lemari kaca tersebut. Sebuah lemari kaca yang sangat Indah, dilapis oleh berlian dan permata di setiap sisinya. Dan diberikan keamanan ketat agar tidak bisa di sentuh sembarangan orang.
"Bunda..." Jeno menatap lekat lukisan sang bunda yang terpajang di dalam sana. Bundanya adalah satu-satunya wanita yang pernah menjabat sebagai Leader di Cartesy.
Di dalam lukisan itu, Jeno bisa melihat betapa cantiknya bundanya saat masih muda dulu. Meski yang sekarang pun tidak kalah cantik, tapi hal itu tetap membuat Jeno merasa pangling melihatnya.
"Bunda mu sendiri yang melukis dirinya" ucap seseorang. Jeno menoleh ke samping, dirinya mendapati seorang pria paruh baya yang sepertinya juga seusia dengan grandpa nya berdiri tepat di sebelah kanannya.
"Aku prof. Ken. Dosen ilmu kedokteran. Aku dosen bundamu saat dia masih kuliah disini dulu" jelas pria paruh baya tersebut.
"Halo, prof. Ken" sapa Jeno.
"Kau bisa memanggil ku kakek jika kau mau. Lagipula bunda mu juga tidak pernah memanggilku profesor"
"Kenapa bunda melukis dirinya sendiri?"
"Karena dia suka melukis. 80% lukisan di Cartesy adalah hasil karyanya" jelas prof. Ken
"Aku tidak tau dia bisa melukis" Jeno cukup terkejut karena sekalipun dalam hidupnya Jeno tidak pernah melihat sang bunda menyentuh kanvas dan cat air
"Kau bisa dateng ke gallery pribadi nya. Ruangan itu selalu kami jaga sampai saat ini"
"Bolehkah?"
"Tentu saja. Tapi jangan terkejut dengan isinya nanti"
"Terimakasih Prof."
"Tidak perlu berterimakasih"
-----
See you!