Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 76



"Aisshhhh!! Kau ini mau mengobatiku atau menambah lukaku?!"


"Berisik!!"


"Dasar bajingan!!"


"Jovan!" seru Jesslyn kesal. "Tutup mulutmu, dan biarkan Jeno mengobati lukamu!"


"ASSRRRGGGGGHH"


Suara teriakan Jovan menggema diseluruh penjuru kamar. Untung kamar bocah itu berbeda lantai dengan orang tuanya, kalau tidak ia bisa kena damprat sang ayah sekali lagi.


Pasalnya, dengan sangat sengaja, Jeno menekan luka disudut bibir adik kembarnya itu. Yang sukses membuat sang empu berteriak kesakitan. Ia kepalang kesal dengan tingkah menyebalkan adiknya.


"Kau memang bangsat Jeno!" umpat Jovan.


"Ya, i love you too" balas Jeno santai. "Mangkannya lain kali, kalau kau ingin membuat masalah lakukan dengan pintar, sialan!!" makinya.


"Berisik!"


"Apa lagi yang kau perbuat kali ini, bocah nakal?"


Sebuah suara yang terdengar tak asing mengalihkan atensi mereka. Mata Valerie berbinar senang melihat siapa yang berada didepan pintu.


"Abangggg" gadis kecil itu berlari cepat menubruk badan sosok yang dipanggilnya abang.


"Ouuhhh, baby girl. Miss me hum?"


"Miss you so much"


"Aww, i miss you too"


"Abang? Kapan abang sampai?" Tanya Jesslyn senang.


"Baru saja sayang. Abang bertemu bunda didapur tadi, bunda bilang ada bocah nakal yang kembali berbuat ulah" ucap Jeven.


Ya, sosok itu adalah Jeven. Ia baru saja kembali setelah menghabiskan liburannya di rumah Veno, ayah kandungnya.


"Jadi? Apa yang dia lakukan kali ini?" Tunjuknya pada Jovan yang masih diobati.


Jovan melirik abangnya sinis. "Kepo lu, Dora!" cibirnya.


Jesslyn menoyor kepala Jovan, yang dibalas delikan tajam bocah nakal itu.


"Jovan mencuri abang" ucap Jesslyn.


"Mencuri?"


"Iya. Dia mencuri kalung kesayangan paman Aldre saat menjalankan misi kemarin. Dan paman mengadu pada ayah, karena jovan memberikan kalung itu pada Harena, dan mengganti liontinnya"


Jeven seketika tertawa mendengar penjalan Jesslyn. "Bagus, kau memang pantas mendapatkan itu!"


"Berisik! Mendingan abang keluar deh. Ganggu!" Balas Jovan sinis.


"Bagaimana? Nikmat bukan? HAHAHAHA" ledek Jeven lagi.


Jeven berjalan keluar dengan tawa lebarnya, dan Valerie yang masih berada digendongannya. Gadis kecil itu terkikik kecil.


"DASAR ABANG GILA!!"


"JOVAN!!!"


Jovan terkesiap mendengar teriakan bundanya. Tidak menyangka teriakannya akan didengar sang bunda.


"Rasakan itu!" dengus Jeno


.


BRAK!!


Aldre menendang meja sofa dengan kencang, hingga membuat meja kayu itu terbalik.


"Kalau sampai liontin itu tidak kembali padaku, kau akan habis ditanganku, Jovan!"


"AARRRRRGGGGHHHHH"


"BOCAH SIALAN!!!"


Lelaki itu memejamkan matanya erat, mendengus kesal. Menghempaskan tubuhnya ke sofa.


Entah apa yang terjadi pada dirinya. Pikirannya yang semuka kesal karena Jovan kini justru teralih dengan cepar ke hal lain.


Tiba-tiba Aldre memikirkan hidupnya dan Ara yang dikelilingi anak-anak mereka. Mengajarinya berbicara, berjalan, berlari, atau ketika dia sudah besar. Ia dan Ara akan sama-sama mengantarkan anak mereka kesekolah.


Tanpa sadar lelaki itu tersenyum, matanya memancarkan binar bahagia. Ia sungguh tidak sadar untuk mewujudkan semua itu.


"Apa dia sudah gila?"


"Entahlah. Sejak kembali anak itu agak berbeda"


"Haruskah kita menghubungi psikiater?"


"Ide yang bagus"


Sayup-sayup suara bisikan beberapa orang yang tengah mengobrol terdengar. Menyadarkan Aldre dari lamunan indahnya.


Netra cokelat gelapnya menoleh kearah pintu. Mendengus untuk kesekian kalinya ketika mendapati para kakak dan kaka iparnya tengah menggosipkan dirinya.


"Kalau ingin bergibah, cari tempat lain" ucap Aldre tidak santai.


"Yeeeeuh, lagian kamu ngapain senyum-senyum sendiri. Kerasukan ya?" ujar Galih.


"Kaka yang kerasukan! Sembarangan aja kalo ngomong!"


"Dih! Selow ae dong"


Ketiga pasangan itu kemudian masuk kedalama kamar Aldre. Meski tau si bungsu tidak mengijinkannya, mereka tetap tidak perduli.


Karena itulah gunanya saudara bagi mereka, saling mengganggu. Hehehehe


"Aaaahhhh, enak banget gangguin orang kesel" seru Kevin, merebahkan dirinya di karpet.


"Tai!"


"Heh mulut!" Tegur Dion.


"Cita-cita kalian tuh pasti sebenernya menciptakan pertikaian antar saudara kan?"


"Nah itu tau" ucap Daniel yang sejak tadi terdiam. "Kalau bisa ada huru hara, kenapa harus berdamai. Ya gak ka Kevin?"


"Setuju brother " saut Kevin.


"Anjing banget emang!"


"Aldre!" Tegur dion lagi.


Untuk beberapa saat tidak ada lagi yang keluar dari bibir keempat bersaudara itu. Keempatnya sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Jadi? Kita hanya akan berdiam diri disini?" Tanya Lea, istri Dion membuka suara.


"Katanya mau ngobrol" timpal Ana.


Aldre memandang bingung saudara-saudaranya. Mengobrol? Memangnya ada hal penting apa sampai mereka harus mengobrol?


"Ngobrol? Ngobrol apa?"


"Apa aja" jawab Daniel.


"Emangnya ada hal penting?" Tanya Aldre lagi. "Emangnya kalo mau ngobrol doang harus ada hal penting!" balas Daniel sinis.


"Lah?"


Dion mamandang geli kedua adiknya. Dua bungsu itu meskipun akur, justru yang paling sering bertengkar.


"Kita ngobrolin apa aja. Cerita kita selama enam tahun terakhir. Kita bayar semua yang udah terlewat selagi masih ada kesempatan"


Aldre kembali terdiam untuk sesaat. Mengobrol ya? Sudah lama sekali ia tidak melakukannya. Baiklah, tidak ada salahnya juga.


"Terserah"


"Tirsirih. Yeeuuu gengsi, bocah gengsian. Sama nih kaya ini nih!" Cibir Daniel. Menunjuk Galih dan Aldre bergantian.


PLAK!!


"AISSSHHH" Daniel meringis kesakitan. Kepalanya baru saja mendapatkan pukulan cinta dari sang kaka.


"Kalau ngomong tuh jangan sembarangan!" Sewot Galih tak terima. "Tapi bener kan?"


"Heh!"


"Hahahaha" tawa keras Kevin membuat Galih mendelik pada sang suami.


Ana menatap tengil kaka iparnya. "Tapi dulu pas baru nikah sama ka Kevin, ka Galih kan gengsinya emang segede harapan orang tua" ucapnya usil.


Galih menatap sewot adik iparnya. Sedangkan Daniel bertepuk tangan heboh karena mendapat pembelaan dari sang istri.


"Heh anjir! Maju lu berdua sini bangsat. bye one aja kita!" lelaki itu sudah bangkit berdiri dengan posisi siap bertarung.


Dengan cepat Ana bersembunyi dibalik tubuh Kevin yang masih tertawa. "Heh heh heh! Ngapain? Ngapain lu ngumpet dibalik badan laki gua?! Hah?!" kedua mata Galih semakin melotot lebar.


"Ka Kevin tolongin...." ucap Ana yang memegang erat pundak Kevin.


"Udah Love, udah ya" lerai Kevin setelah berhasil mengontrol tawanya.


"Dia duluan yang mulai"


"Iya iya. Kamu kan tau Daniel sama Ana emang rada gila. Udah yu sini yu" menarik tangan sang istri untuk kembali duduk.


Galih menepuk sedikit keras tangan putih Ana yang masih bertengger dibahu suaminya. "Jauh-jauh hush hush"


Ana melepaskan tangannya, beringsut mendekati suaminya yang masih tertawa seperti orang kesurupan.


"Ini gak mau dipanggilin pendeta aja? Bentar lagi lewat nih" ujar Aldre yang sejak tadi menatap ngeri Daniel disebelahnya.


"Biarin aja. Harga peti gak mahal ini ko" jawab Ana asal. Kini gantian Galih yang tertawa.


"Sayaaannnngggg, gak boleh ngomong gitu sama aku" rengek Daniel.


"Jijik banget dih!"


"Kaya bagong lu bego!"


"Apaan si, Dan"


"Sok imut najis"


"Ieeuuwww"


"Ini ngapa jadi gua yang dihujat, bajingan!"


"Wkwkwkwk"


.....


"bahagia itu sederhana, tegantung dari mana kita mendapannya, dan bagaimana kita mengekspresikannya"


.....


T B C?


BYE!



Skholvies Geng 🤘


p.s gambar hanya ilustrasi