Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
87 | CAT CAFE ?



"Iiihhhh, cantik bangettt" Ara memekik senang ketika melihat sebuah bunga mawar yang tengah mekar.


Ini pertama kalinya ia melihat bunga mekar secara langsung. Ara sampai berjongkok didepan bunga tersebut. Matanya berbinar cerah. Bibirnya membulat lucu.


"Al, liat deh. Cantik banget ya"


Aldre mengangguk, menampilkan seulas senyum lebar dipipinya. "Kaya kamu, Ra. Tapi kamu lebih cantik dari bunga itu"


"Apasih gombal" Ara memutar bola matanya malas. Padahal blush onnya kembali tebal karena gombalan Aldre.


"Hahaha"


"Ayo kita berkeliling"


Aldre menjulurkan salah satu tangannya, yang disambut dengan senang hati oleh Ara. Mereka berjalan bergandengan, setelah Ara berdadah ria pada Mawar Indah yang baru saja mekar itu.


Setelah 5 menit berjalan, keduanya tiba di toko bunga. Ara bisa meyakini bahwa ini adalah satu-satunya toko bunga didesa ini. Dilihat dari ramainya pembeli yang datang, walau beberapa dari mereka hanya melihat-lihat.


"Rame banget ya, Al" Ara menatap Aldre, lalu kembali menatap sekeliling.


"Tentu saja, sayang. Toko bunga ini satu-satunya didesa. Ada sih, tapi jaraknya cukup jauh, hampir masuk ke kota" jelas Aldre.


Nah kan, benar tebakannya. "Tapi ini gede banget loh. Kaya gallery"


"Ini bukan cuma sekedar toko, sayang. Disini kita bisa belajar banyak hal tentang bunga. Bagaimana merangkai bunga, menanam, jenis-jenis bunga, semuanya"


"Jadi, kalau kamu masuk lebih dalam kamu akan lihat beberapa pengunjung yang sedang belajar"


Ara mengangguk mengerti. "Mamah pasti seneng nih kalau dibawa kesini" ucapnya riang.


"Of course. Kita ajak mamah kesini lain kali ya"


Mereka kembali melanjutkan acara berkeliling mereka. Aldre membawa sang kekasih masuk lebih dalam. Seperti yang lelaki itu jelaskan sebelumnya, Ara kini bisa melihat beberapa pengunjunv yang tengah belajar merangkai bunga didampingi pegawai toko.


"Mau belajar?" Tawar Aldre. Ara menggeleng, "aku bisa betah disini seharian, Al. Lain kali aja " ucapnya.


"Mau kerumah produksi atau ke Cafe?"


"Ada Cafe juga?" Tanya Ara antusias. Aldre mengangguk, "ada sayang"


"Iiihhhh mauuuu. Ayo kita ke Cafe" dengan semangat Ara menarik lengan Aldre menuju Cafe.


Ditengah perjalan gadis itu tiba-tiba berhenti. "Mm, Cafenya dimana ya, Al?" Ara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa malu.


Aldre tertawa cukup keras. Gemas dengan tingkah kekasih mungilnya ini.


"Tidak jauh lagi, sayang. Tinggal lurus kedepan" jari telunjuknya menunjuk sebuah bangunan yang berada diujung. Tepat berhadapan dengan mereka.


"Oh? Hehehehe, ayo Al kamu duluan"


Ekspetasi Ara seluruh sisi Cafe pasti akan dipenuhi bunga, tapi ternyata ekspektasinya salah. Lihat apa yang ada dihadapannya sekarang....


Seekor makhluk berbulu tebal berwarna hitam, menguselkan tubuhnya dikaki gadis itu dengan manjanya.


"Selamat datang tuan Aldre" sapa salah satu pegawai cafe.


Nate, gadis muda berusia 18 tahun yang baru saja lulus SHS. ia sudah bekerja paruh waktu di Cafe sejak kelas 3 JHS, saat Cafe pertama kali buka. Katanya ingin mengisi kegabutannya dirumah.


Aldre mengangguk. "Bagaimana cafe hari ini?"


"Sangat baik tuan. Cafe menjadi lebih ramai beberapa bulan terakhir"ucap Nate.


"Kerja bagus. Akan saya berikan kalian bonus nanti"


"Bagaimana dengan kucing-kucingnya? Mereka sehat kan?"


"Boly sempat sakit beberapa hari, tapi kondisinya sudah kembali normal sekarang"


Boly adalah nama kucing hitam yang menguselkan tubuhnya pada Ara.


Yap! Ara dan Aldre kini tengah berada di sebuah CatCafe.


"Ini.... Catcafe?" Tanya Ara tak percaya.


Nate mengangguk, tersenyum ramah pada kekasih bosnya itu. "Iya nona. Kucing-kucing disini sebelumnya adalah kucing jalanan yang terlantar. Tuan Aldre memutuskan membangun CatCafe karena melihat beberapa kucing yang disiksa anak-anak kecil. Tapi tidak perlu khwatir karena mereka sudah divaksin, dan terjamin sehat"


Nate menjelaskan dengan lembut. Senyum manisnya tak luntur dari wajah imutnya.


"Pasti masih banyak yang terlantar dijalan kan?"


"Ada beberapa, tapi sebagian besar sudah berada di shelters"


"Mereka yang masih berkeliaran biasanya kucing pendatang atau yang dengan sengaja dibuang disini"


Tanpa sadar Ara menghebuskan nafas lega. Kekhawatirannya lenyap seketika. Gadis itu kemudian berjongkok, memeluk makhluk bulu yang sejak tadi meminta perhatiannya.


"Yakin mau bawa pulang?" Aldre menaikkan sebelah alisnya. Ara mengangguk semangat. "Boleh kan? Boleh ya kak?" Pintanya pada Nate.


"Kalau bawa dia pulang gak akan bertahan sehari, Ra"


"Kok gitu?"


"Ya kamu lupa di mansion ada siapa?"


Ara menjadi lemas seketika. Perkataan Aldre benar, Boly tidak akan bisa hidup jika ia bawa ke mansoon Courtland. Karena disana ada makhluk rusuh.


"Maaf tuan, memangnya nona tidak boleh memelihara hewan?" Sela Nate.


"Boleh aja, tapi dirumahnya ada kucing rusuh"


Nate menatap keduanya bingung. "Kucing rusuh?"


Ara mengelus bulu halus Boly yang sangat lebat dan panjang. "Kaka aku melihara harimau dirumah. Dia rusuh kalau sama hewan lain, terakhir kali kakaku bawa kelinci, gak sampe sejam kepalanya ilang" ucap Ara sebal.


Nate membelalak, dirinya diserang rasa panik seketika. Dengan gerakan secepat kilat, Nate merebut Boly yang masih berada digendongan Ara, lalu membawanya kabur. Membuat Ara memekik kesal.


"Iiiihhhhh, kok dibawa kabur siiihhhhh?!


"Allll, kucinyaaaaaaaaa"


Ara mengejar Nate yang membawa kabur Boly. Aldre tertawa kencang, sampai menunduk. Sedangkan pegawai yang lain hanya terperangah melihatnya.


Aksi kejar-kejaran itu berlangsur hingga satu jam. Nate menolak menyerahkan Boly pada Ara. Meski akhirnya gadis itu menyerah karena melihat kekasih bosnya yang menangis.


Dan karena kejadian itu juga, niat Aldre yang ingin mengajak Ara kembali berkeliling harus batal karena gadis itu merajuk.


Seorang pegawai mengantarkan minuman dan makanan yang sebelumnya Aldre pesan.


Ara meraih segelas capucino milik Aldre hingga tandas. Gadis itu bahkan hampir tersedak.


"Pelan-pelan sayang" tegur Aldre.


"Aauuuussss" rengeknya.


Aldre manarik gelas jus milik Ara, meminumnya sebagai ganti Cappuccino miliknya yanv telah lenyap.


"Iiihhhh, kok kamu minum punya aku?"


"Yakan barusan kamu minum punya aku"


"Oh iya"


"Kkkkkkk"


.


Sejak tiba disana rasa kagum Ara tidak kunjung mereda. Setiap titik didesa itu seolah menyihir putri bungsu Courtland dengan rasa kagum tak berkesudahan.


Ara bahkan menolak saat Aldre mengajaknya pulang. Ia bilang ingin menginap atau bahkan tinggal lebih lama disana.


Tapi Aldre tidak menyetujui keinginan kekasihnya. Ia belum meminta izin pada kedua orang tua kekasihnya, ditambah ia hanya punya waktu bersantai hari ini.


"Ayo sayang. Kita bisa kemaleman" ajak Aldre lagi. Ara menggeleng, bibirnya mengerucut. Gadis itu ngambek dan menolak diajak pulang.


"Ra... Kita gak bisa menginap disini, aku harus kerja besok. Nanti kalau aku libur kita datang lagi kesini ya"


Lagi, Ara kembali menggeleng. Merapatkan tubuhnya pada tembok.


"Haiiihhh baiklah kita menginap. Tapi kalau aku diomelin ayah karena pekerjaan ku gak selesai, aku akan salahkan kamu!"


"Aaaaaaaaaa. ALDRE JELEK!" Dengan hentakan kecil, Ara melangkah masuk menuju mobil.


Kedua tangannya terlipat didepan dada menandakan ia sungguh-sungguh marah.


Aldre terkekeh gemas, begitupun para warga yang menyaksikan perdebatan kecil mereka sedari tadi. Karena Ara dan Aldre berada dirumah produksi minuman.


Setelah berpamitan dengan warga desa, Aldre menyusul Ara kedalam mobil. Begitu tiba didalam, ia tidak repot-repot merayu sang kekasih. Membiarkan gadis manis itu dengan bibir mengerucutnya.


.....


T B C?


BYE!