Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
121 | PULANG



Meso menyeringai puas, dirinya baru saja selesai melakukan pertemuan dengan mantan seorang pemimpin Mafia Eropa. Salah satu dari sekian banyak musuh Godfather yang masih hidup dan berhasil lolos dari cengkraman sang Raja Mafia.


Sekarang dirinya bisa melawan sang Godfather tanpa rasa khawatir seperti sebelumnya, karena saat ini dirinya sudah mendapati banyak dukungan untuk melawan si bajingan mengerikan itu. Total sudah ada sepuluh musuh besar Godfather yang berhasil dirinya gandenga untuk bekerja sama, yang terakhir tinggal membujuk musuh utama pria itu.


"Aku bisa merasakan aroma kemenangan yabg begitu menyejukan" seru Meso dengan senyum lebarnya yang terpatri.


"Jangan banyak berharap Meso, selama kau belum memastikan apakah mereka benar-benar masih menyimpan dendam atau tidak" sahut Faros.


Meso memutar bola matanya malas mendengar ocehan serupa dari mulut Faos sekali lagi. "Apa kau tidak liat betapa antusiasnya mereka ketika aku menyebut nama Godfather?"


"Kebanyakan dari mereka, hanya rindu bertarung dengan pria itu, tidak benar-benar ingin terlibat pertarungan yang lebih besar"


"Kau pikir kenapa dia bisa mendapatkan julukan sang Raja Mafia? Karena dia bisa menarik musuhnya menjadi sekutu seperti membalikan telapak tangan"


"Ck! Kau hanya iri padaku karena usahamu sia-sia untuk membujuk mereka, iya kan?"


"Terserah. Yang jelas aku tidak akan terlibat dalam ketololanmu!"


"Sialan kau Faros!!"


Meso memandang kesal Faros yang menghilang dibalik tembok ruang santai. Bisa-bisanya bocah tengik itu meninggalkannya, liat saja nanti setelah kemenangannya Meso tidak akan membiarkan Faros begitu saja.


.


.


Hari ini Aldre sudah bisa pulang setelah hampir dua minggu dirawat dirumah sakit, tubuhnya pulih dengan cepat. Sang ayah, Rayyan dan kakanya Daniel tengah sibuk membereskan barang-barangnya untuk dibawa kembali kerumah.


'Berhati-hatilah, Meso bekerja sama dengan musuh Godfather!'


Aldre menatap ponselnya tanpa ekspresi. Pesan yang diterimanya dari Faros membuatnya kesal setengah mati. Meso sialan! Harusnya ia lenyapkan pria itu sejak awal.


"Kuhabisi kau Meso! Dasar brengsek!" Bisiknya.


Dengan kesal, Aldre memasukkan ponselnya kedalam saku jaketnya. Ia harus mencari cara untuk bisa bertemu dengan Godfather tanpa kembali masuk kerumah sakit, dan lagi dirinya belum mendapatkan kabar apapun tentang sang kekasih.


"Bagaimana keadaan Ara sekarang?" Aldre bergumam kecil.


"Baik tapi tidak juga. Ara sudah kembali ke mansion Courtland" sahut Rayyan yang mendengar ucapan sang putra.


"Hah?" Daniel menatap sang ayah kaget.


"Revan sudah kembali, tentu dia tidak akan melepaskan putrinya begitu saja"


Aldre mengumpat kasar dalam hati, selesai sudah. Tidak ada kesempatan baginya untuk bertemu kekasih dan anaknya. 'Bersabar sebentar, sayang. Aku janji setelah semuanya selesai, kita akan kembali bersama'


"Apa yang kau pikirkan, bocah nakal? Jika itu hal bodoh, lebih baik urungkan saja niatmu"


"Ka Daniel berisik sekali akhir-akhir ini!"


"Nyenyenye"


Setelah membereskan barang-barang Aldre, Rayyan menuntun putra bungsunya untuk turun dari atas ranjang. Kaki kiri Aldre patah karena tendangan Isabella sebelum dirinya terhempas menabrak ring basket, dan butuh waktu lebih lama untuk memulihkannya. Dan kemungkinan, saat pertarungan nanti Aldre tidak akan berada disana, kecuali jika lelaki itu memaksakan dirinya.


Setelah menyelesaikan administrasi, Rayyan kembali menuntun Aldre menuju mobil yang sudah menunggu didepan lobi. Sedangkan Daniel sudah lebih dulu masuk sekalian meletakkan barang-barang Aldre di bagasi.


Aldre menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi. Tangannya kembali meraih ponselnya didalam saku jaket, membuja aplikasi pesan lalu mengirimkan pesan yang dikirim Faros kepada sang kaka ipar, Kevin. Setelah selesai, ia kembali meletakkan ponselnya ketempat semula.


"Jangan memaksakan dirimu untuk ikut pertarungan nanti, Al. Kecuali jika kau ingin kehilangan kakimu" ucap Daniel mengingatkan.


"Aku tau" balas Aldre malas.


40 menit kemudian, mereka sampai di mansion Skholvies.


"Kalian sudah sampai?" Riyani keluar dari dalam rumah, berlari memeluk putra bungsunya. "Bagaimana keadaanmu sayang?" Tanya Riyani.


"Jauh lebih baik ibu" jawab Aldre. "Tapi kakiku masih belum pulih" Aldre menunjukan kakinya yang masih mengenakan gips.


"Oh tidak apa-apa, itu pantas kau dapatkan" seru Riyani santai.


Aldre menatap shock sang ibu, ia pikir dirinya akan mendapatkan raut khawatir dan panik ibunya, nyatanya wanita kesayangannya itu hanya menanggapinya santai seolah tidak perduli.


"Ayo masuk"


"Aku lapar apa yang kau masaka, sayang?" Tanya Rayyan. Biasanya jika sang istri abis masak dirinya akan mencium aroma masakan yang khas dai tubuh sang istri, tapi kali ini tidak, yang dirinya cium hanya aroma sabun mandi.


Riyani mengelus lembut pipi sang suami kemudian memukulnya pelan. "Tidak ada"


"Hah?"


"Aku tidak memasak, kalian pesan online saja ya. Dahhh, aku mau melanjutkan dramaku yang tertunda"


"AKKKHH!!"


Dengan perasaan kesal, Rayyan menendang kaki Aldre yang di gips dengan keras, membuat si empu berteriak kesakitan.


"AYAAAAHHH!!"


"Wkwkwkwk" tawa Daniel meledak. Lelaki itu amat bahagia dengan raut kesakitan adiknya. "Rasakan itu bocah nakal"


.


.


"Makan Ra, kamu belum makan dari pagi" Carissa kembali membujuk Ara yang tidak mau makan. Gadis yang tengah hamil muda itu menutup rapat mulutnya.


"Kamu gak kasian sama aku? Aku ini belum sembuh loh? Gimana Mai ngerawat kamu kalau kamu kaya gini" Carissa duduk dipinggir ranjang menatap khawatir Ara yang sejak tadi hanya melamun.


Ara menatap Carissa bingung, matanya mengedar kepenjuru kamarnya. "Kursi roda kamu mana?" Tanya Ara bingung.


Carissa mengucap syukur dalam hati karena sahabtnya itu kembali sadar dari lamunan panjangnya.


"Gak ada. udah gak kepake, aku kan udah bisa jalan sekarang"


"Hah? Sejak kapan?"


"Hhh, mangkannya kamu tuh jangan pacaran mulu sampai kondidi sahabat kamu aja gak tau" ujar Carissa sebal.


"Maaf ya, Car. Aku lupa sama kamu, aku khawatir sama masalah Aldre sekarang jadi gak fokus sama yang lain" Ara menatap Carissa tak enak.


"Mm, gak apa-apa aku ngerti kok. Mangkannya aku gak hubungin kamu juga beberapa bulan ini, aku tau kamu pasti lagi fokus sama Aldre. Aku gak bisa bantu apa-apa, Ra. Karena aku masih trauma sama sebelumnya"


Ara meraih salah satu tangan Carissa, menggenggamnya erat. "Aku ngerti keadaan kamu, makasih ya, Car. Maaf selalu ngerepotin kamu selama ini"


"Aku maafin kalau kamu mau habisim ini sekarang juga" Carissa mengelurkan piring ditangannya dengan raut marah yang dibuat-buat.


Ara terkekh kecil kemudian mengambil piring berisi makan siangnya dari tangan Carissa. "Oke-oke aku habisin"


"Gitu dong" senyum puas Carissa terbit.


.....


T B C?


BYE!