
"Nona" Salah satu pengawal menghampiri Mereka, menunduk hormat.
"Katakan" ucap Isabella.
"Roxy Romanov, putra sulung Fedeli romanov, adik dari ayah angkat tuan muda Aldre, Ferosa Romanov. Saat ini tinggal di Perancis mengurus bisnisnya. Hubungannya dengan tuan Aldre tidak baik sejak awal"
"Dimana putra kandung tuan Ferosa? " Jovan bertanya dengan dingin. "Mario Romanov, 26 tahun, beliau meninggal empat tahun lalu karena diracun, dan yang meracuninya adalah sepupunya sendiri, Roxy Romanov"
"Karena itu tuan Ferosa memilih mengangkat seorang anak? "
"Iya tuan. Roxy sendiri memiliki usia lebih tua dari Mario, 30 tahun. Itu kenapa dia merasa dirinya lebih berhak atas tahta Romanov, karena dia yang tertua"
"Bagaimana rencanamu Isabella? " Kevin menoleh pada Isabella, menunggu apa yang wanita itu lakukan selanjutnya.
"Ada yang belum kau sampaikan" Isabella memiringkan kepalanya, menatap tajam pengawal tersebut yang terlihat gugup.
"A-ada nona"
"Tell! "
"Kekasih Roxy. Imelda manufa, 26 tahun, gadis asal Las Vegas yang menatap di Perancis sejak tujuh tahun lalu. Sekarang tengah mengandung anak dari Roxy. Dia-"
"Keponakanmu! "
"N-nona? "
"Bawa dia kesini"
"T-tapi nona? "
"Kau tau aku tidak akan menyentuhnya. Roxy pasti akan menjadikan adikmu sebagai umpan untuk Aldre! Biarkan dia melakukannya, dan aku aku menjadi kekasihnya sebagai umpan"
"Baik nona"
"Pergilah!! "
Jovan tercengang, pemandangan dihadapannya membuatnya tak percaya, tidak pernah melihat sosok bundanya yang seperti ini sebelumnya.
"Pantas ayah begitu sensitif pada bunda, jadi ini sebabnya" seru Jovan masih dengan keterkejutannya.
"HAHAHAHAHAHAHA" Kevin tertawa keras hingga kepalanya terdorong kebelakang.
Isabella menatap putranya aneh, kenapa anaknya itu harus mengeluarkan eskpresi seperti itu. "Kontrol ekspresi mu, Jovan. Kau membuat bunda takut" dengan cepat Jovan kembali mendatarkan wajahnya.
"Kau lucu sekali, son. Harusnya Jeno dan Jesslyn melihat wajahmu yang seperti ini, mereka pasti tidak akan berhenti mengejekmu"
Isabella menggelengkan kepalanya geli, seketika teringat ekspresi Galih saat pertama kali melihat sosoknya yang seperti ini, ekspresi tidak jauh beda dengan Jovan saat ini.
"Aku masih belum tau alasanmu membawa Jovan kesini. Jelaskan padaku" ucap Kevin. Jovan mengernyit, ia sendiri juga bingung kenapa dirinya ada disini.
"Kau ingat bagaimana bunda mengajarkanmu tentang menyusup ketempat musuh? " Tanya Isabella pada sang putra. Jovan mengangguk, pelatihan diam-diam yanh dia lakukan tanpa sepengetahuan sang ayah.
Mereka melakukannya di dalam mansion, Isabella melatih Jovan untuk menyelinap tanpa disadari sedikitpun olehnya, dan anak itu berhasil menyusuri rumah dalam 30 menit, Jovan juga berhasil mengelebaui bundanya.
Isabella berfikir bahwa Jovan belum memulai, nyatanya remaja yang saat itu baru berusia 11 tahun, berhasil keluar lewat pintu belakang. Padahal Isabella mengawasinya dari ruang monitor.
"Tentu bunda" Jawab Jovan.
"Bunda ingin kau melakukannya juga di istana Romanov. Ada sesuatu yanh bunda ingin kau dapatkan"
"Apa itu? "
"Kamu akan tau nanti"
"I see"
"Tunggu tunggu! Apa tadi? Kau melatih Jovan? Tanpa sepengetahuan ka Justin? " Kevin tercengang, apa mereka gila? Dengan santai Isabella mengangguk. "Are you crazy? "
"Hahahaha, santai Dad"
"Dimana kalian berlatih? "
"Holy ****!!! "
"Jangan separno itu, kak"
"Bagiamana aku tidak parno? Kalian berdua benar-benar" Kevin memijat pelipisnya. Anak dan ibu ini benar-benar senang membuat orang jantungan. "Ibu dan anak sama saja"
Isabella dan Jovan tertawa kompak, kedua ibu dan anak itu bertos ria. Kevin berdecih sinis menatap keduanya. "Gila!! " cibirnya.
Kevin menghela nafas, menyenderkan tubuhnya senyaman mungkin di atas Sofa. "Bagaimana dengan Ge? Kalian sudah berbaikan? " Tanya Isabella.
"Hem" Kevin berdehem dengan masa terpejam. "Ka Keano khawatir karena dad pergi tanpa pamit" sahut Jovan.
"Dia selalu khawatir pada hal-hal kecil, persis papanya"
"Tapi ini bukan hal kecil dad"
"I see. Apa dia mengatakan sesuatu padamu? "
"Hanya memintaku mengawasi, dad. Papah bilang terkadang kau tidak bisa mengontrol emosi dengan baik saat berhadapan dengan musuh"
"Hahahaha"
"Hubungi Keano, kak" ujar Isabella. Kevin kembali menegakkan tubuhnya, "aku akan menghubunginya nanti, setelah ujiannya selesai"
Mendengar perkataan Kevin, Jovan tersadar bahwa dia melewatkan ujiannya. "ohh, ujianku" ucapnya lirih.
"Bunda sudah meminta izin pada pihak sekolah, lagipula kau dibebaskan dari ujian karena olimpiade yang kau menangkan seminggu berturut-turut"
Remaja tampan itu menoleh cepat, memasang cengirannya mendengar kalimat sang bunda.
"Hilih, sok sokan panik padahal berbunga-bunga"
"Dad pikir kau akan menuruni bundamu yang gila belajar, taunya menuruni daddymu" cibir Kevin untuk yang kesekian kalinya.
"Ayolah, dad. Aku anak rajin, hanya depan bunda dan ayah hehehe"
"Hiihhhh"
......
"Kamu sudah mendapat kabar tentang Aldre? " Carissa bertanya pada Ara yang sedang asik membereskan lukisannya. Ara menggeleng, nafasnya berhembus berat.
"Mau tanya siapa? Mereka juga gak akan tau! Yang tepat adalah bertanya langsung pada ka Bella, tapi dia pasti tidak akan menjawab"
"Kamu benar, ka Bella sulit dihubungo ketika sedang melakukan misi"
Keduanya terdiam lesu untuk sesaat. Sampai akhirnya Carissa menatap lukisan didepannya, lukisan yang penuh dengan warna merah darah.
"Lukisan apa ini? Kenapa begitu menyeramkan Ara? Kau yang membuat? "
"Bukan, ini lukisan Cloe"
"Cloe? " Carissa tidak tau siapa Cloe, apakah Alter ego Ara? Tapi dia hanya mengetahui tentang si kembar, sedangkan yang satu lagi.... Ataukah?
"Alter egoku. Bukankah ka Galih sudah menceritakannya? "
"Dia tidak pernah mengatakan tentang Cloe"
"Tidak banyak yang tau, dia cukup misterius. Aku sendiri tidak pernah berinteraksi dengannya"
"Lalu, kenapa Cloe membuat lukisan seperti ini" Carissa mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Gadis itu baru sadar bahwa tidak hanya satu lukisan, tapi juga banyak, hampir memenuhi seisi ruangan.
Gadis cantik itu membelalakan matanya tidak percaya, semua isi dari lukisan itu adalah gambar-gambar yang sangat menyeramkan.
......
T B C?
bye!