
Kini di Rumah sakit, tepatnya didepan ruang operasi. Jovan dan beberapa bodyguard lainnya tengah menunggu Imelda yang tengah dioperasi.
Wanita itu tidak bisa melahirkan normal akibat ketubannya yang pecah. Jadi dokter memutuskan untuk melakukan operasi Caesar.
Sudah 30 menit, tapi pintu berwarna hijau itu sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda akan terbuka. 'Harusnya operasi Caesar tidak selama ini kan? ' pikir Jovan.
Tidak lama kemudian dokter keluar. Jovan bergegas menghampiri, "bagaimana keadaannya dok? "
"Saat ini bayinya sedang dibersihkan. Pasien mengalami pendaharaan tapi untungnya pendarahan sudah berhasil dihentikan" jelas dokter.
"Tapi saat ini pasien masih belum sadar. Setelah selesai dibersihkan mereka berdua akan dipindahkan keruang rawat"
"Terimakasih, dokter" ucap Jovan. Dokter memgangguk, pamit pergi dari sana.
Beberapa menit kemudian pintu ruang operasi kembali terbuka. Para perawat menarik sebuah bangkar berisi seorang wanita yang baru saja melahirkan keluar. Wanita itu, Imelda akan dipindahkan ke ruang rawat seperti kata doktee sebelumnya.
Tidak lama Isabella dan Kevin tiba. "Bagaimana? " Tanya Kevin. "Baik daddy, dia sempat mengalami pendarahan tapi sudah teratasi" jawab Jovan.
"Dimana bayinya? " Tanya Isabella.
Danesh melangkah maju, "berada di ruang bayi, Isabella. Dokter masih memberikannya penangan khusus karena ia lahir premature" jelas Danesh.
Isabella mengangguk, "jaga dia, jangan biarkan keluarga Romanov mengetahui hal ini"
"Baik"
Isabella masuk kedalam ruang rawat, diikuti Jovan dan Kevin. Tepat ketika ia membuka pintu, Imelda telah sadar.
"Bagaimana keadaanmu? " Tanya Kevin.
"B-baik. Dimana bayiku? " jawab Imelda.
"Diruang bayi. Ia masih harus berada diinkubator karena lahir premature" ucap Isabella.
"Bolehkah aku bertemu dengannya? " Imelda menatap ketiganya penuh permohonan.
"Nanti. Setelah urusanku dengan kekasihmu selesai"
"Tapi.... Anakku butuh ASI"
"Don't worried, aku juga seorang ibu yang sedang menyusui"
"Setidaknya, biarkan aku melihat wajahnya" bujuk Imelda. "Baiklah! Hanya 2 menit mengerti? " ucap Isabella. Imelda mengangguk senang.
.
.
Beberapa hari kemudian
Seluruh penghuni mansion yang berdiri ditengah hutan, kini disibukkan dengan berbagai persiapan. Pasalnya rencana mereka akan dimulai besok, jadi mereka harus memastikan kalau semuanya berjalan seperti yang mereka inginkan.
Roxy menatap para bawahannya, memantau setiap senjata yang tengah disiapkan. Thomas mendekat dengan sebuah pistol ditangannya.
"Kau mengeluarkan berapa banyak uang hanya untuk senjata-senjata ini? " Tanya Thomas kagum. Roxy tersenyum sinis. "Ini bukanlah apa-apa Thomas" ucapnya sombong.
"Sial! aku harus bekerja seumur hidupku untuk menghasilkan uang sebanyak ini! " untuk kesekian kalinya Thomas memandang kagum.
"Aku tidak menyangka kau masih dengan rencanamu, Roxy" ucap Metio yang baru saja masuk.
Roxy memutar bola matanya malas, lelaki bodoh ini sangat tidak berguna disini. "Kalau kau tidak ingin ikut, enyahlah! Dan jangan menggangguku! " balas Roxy tajam.
"Terserah! "
"Tapi Roxy.... Kau kenal Imelda Manofa? " pertanyaan Metio sukses membuat Roxy menoleh cepat padanya.
"Darimana kau tau wanita itu? " Tanya Roxy.
"Jadi kau benar-benar mengenalnya ya! Apa dia kekasihmu? "
"Aku hanya bertanya, karena seingatku kau tinggal lama di Peranciss. Jadi aku pikir kau mengenalnya, dia teman kuliahku dulu"
"Sialan! Kau membuatku panik brengsek!! " umpat Roxy.
Metio tertawa puas, berhasil mengerjai lelaki bajingan itu. Wajah panik Roxy benar-benar membuatnya terhibur. Tanpa bertanyapun Metio jelas tau apa hubungan Roxy dan teman kuliahnya itu.
"Baiklah, lanjutkan kegiatan kalian aku tidak ingin ikut campur" Metio mengangkat tangannya kemudian berlalu pergi darisana.
"Sepupumu itu bajingan brengsek!! " umpat Roxy pada Thomas. "Kau lebih bajingan darinya kalau kau lupa, Roxy!! " ejek Thomas.
Tidak melanjutkan perdebatan mereka, keduanya memutuskan kembali fokus mempersiapkan senjata yang akan mereka bawa besok.
Salah satu anak buah Roxy menghampiri. "semuanya udah siap bos. kami sudah memeriksa semuanya, tidak ada yang tertinggal atau cacat"
Roxy tersenyum puas, "bagus! kalau begitu kau bisa pergi. Jangan lupa, pastikan kembali sebelum kita berangkat besok. aku tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun"
"baik bos" lelaki itu pamit.
"kau akan habis ditanganku, sepupu sialan! " ucap Roxy penuh ancaman.
.
.
Galih terduduk lemas di atas ranjang, tangannya memijat pelipisnya yang berdenyut.
Ingatannya kembali berputar pada kejadian beberapa jam lalu saat Masev mengambil alih dirinya. Galih terkejut ketika dia bangun mendapati Ara berada disebelahnya, dengan kondisi berantakan.
Dia jelas tau apa yang kedua orang itu lakukan. "Maafkan aku hubby" gumamnya sendu.
"Bagaimana caranya menyingkirkan kalian berdua dalam hidup kami? Masev, kau mengacaukan hidupku! "
"I'm sorry" suara berat milik Masev menggema dikepala Galih. "I really sorry, Galih. It's the last, I'm promise!" Ucap Masev lagi.
"Bisakah aku percaya padamu? "
"Sure! "
Sedangkan didalam kamar Ara.
Ara terbangun dari tidurnya 10 menit yang lalu. Kamarnya berantakan, begitupun kondisi dirinya. Beruntung Ara sudah mengenakan pakaian ketika terbangun.
Saat ini Ara tengah menenggelamkan dirinya didalam bathub, meringis merasakan sakit disekujur tubuhnya.
"Brengsek, Cloe!! " umpatnya. "Semoga Aldre masih mau menerimaku " ucapnya penuh harap.
"Bagaimana aku bertemu ka Galih setelah ini? Haissshh! "
Makan malam tiba, semua orang berkumpul diruang makan. Termasuk tuan Rayyan yang memaksa dirinya untuk keluar meski kondisinya belum pulih.
"Ayah...." Panggil Daniel yang terkejut melihat ayahnya hadir diruang makan. "Apa yang ayah lakukan? Ayah kan belum pulih"
"Tidak apa-apa, ayah bosan didalam kamar" ucap tuan Rayyan.
"Kau memang keras kepala, ka! " cibir tuan Revano. Nyonya Riyani terkikik, "sama seperti adiknya, kan? " Semua yang mendengar tertawa. Tuan Revano mendengus.
"Oh, Galih dan Ara belum turun? " Tanya David.
"Biarkan saja, mungkin mereka masih lelah. Masev dan Cloe pasti bertingkah lagi" sahut Javin.
"Aku mengerti"
....
T B C?
BYE!