
Aldre memutuskan kembali ke kantornya karena ia belum mengerjakan pekerjaannya sama sekali. Dan sangat tidak mungkin untuk ia tinggalkan.
Didalam mobil, Ara terus menggelayut manja dilengan kekasihnya itu. Perasaannya sangat bahagia hari ini, karena akhirnya sang kekasih mau memaafkan Sin.
Aldre hanya bisa menatap gemas tanpa menegur Ara yang semakin memeluk erat lengan kanannya. Toh ia juga suka sikap manja kekasihnya itu.
Sesampainya dilobi perusahaan, Aldre membukakan pintu penumpang disebelah Ara. Menggandeng mesra tangan kekasihnya dan membawanya masuk kedalam perusahaan.
"Kamu mau apa, sayang?" Tanya Aldre begitu mereka tiba didalam ruang kerja lelaki itu.
Ara menggeleng, "aku gak mau apa-apa, sayang. Perut aku kembung karena kebanyakan minum tadi. Cape nangis soalnya"
Aldre terkekeh kecil, mengusak gemas rambut kekasihnya. "Yaudah kalau gitu, aku kerja dulu ya"
Ara mengangguk, mendudukan dirinya diatas sofa. Matanya menatap kagum ruang kerja kekasihnya. Padahal ini bukan pertama kali baginya untuk datang kesini.
Diam-diam Ara tersenyum senang, karena tidak mendapati pria tua yang sejak beberapa hari lalu terus mengikuti kekasihnya.
Skip
Waktu makan siang tiba.
Ara memasan berbagai jenis makanan untuk dirinya dan Aldre, kekasihnya itu kini tengah berada diruang rapat untuk rapat bulanannya.
Pintu ruang kerja Aldre terbuka, menampilkan sosok kaka kedua lelaki itu. Galih Aldebaran.
"Ka Galih" panggil Ara riang.
"Hai, sweetie. Kamu sejak tadi disini?" Tanya Galih.
Ara mengangguk. "Mm. Ka Galih tidak datang tadi" ucapnya dengan raut cemberut.
"Ouh maafkan kaka, sayang. Kaka ada urusan yang tidak bisa ditinggal, tapi kaka sudah menghubungi Sin sebelumnya" jelas Galih. "Ouh. Dimana Aldre?"
"Ruang rapat. Ada rapat bulanan hari ini, mungkin sebentar lagi selesai" Ara menepuk bagian sofa disebelahnya. "Sini duduk ka Galih. Kita makan siang bareng"
Galih menjatuhkan tubuhnya disamping calon adik iparnya itu. "Ini kamu semua yang masak?"
"Ara pesen. Tadi niatnya kan gak mau kesini, tapi Aldre datang jadi Ara kesini"
Galih membelelakan matanya mendengar perkataan gadis disebelahnya ini. "Aldre datang?" Tanyanya tak percaya.
Ara kembali mengangguk dengan semangat. "Iya ka. Kaget kan? Ara juga kaget pas liat Aldre datang. udah gitu dia gak datang sendiri, tapi sama kedua orang tua Sin"
ucap Ara dengan semangat menjelasakan apa yang terjadi saat keberangkatan Sin tadi pagi.
"Waaahhh, keajaiban dunia" ujar Galih tak percaya.
"Keajaiban dunia apanya?" Sahut Aldre ketus. Lelaki tampan itu baru saja kembali dari rapat bulanannya.
Panjang umur. Yang dibicarakan tiba disini.
"Kenapa ka Galih kesini?" Tanya Aldre.
Raut wajahnya menunjukan bahwa ia tidak senang dengan kehadiran sang kaka diruangannya.
"Kenapa memangnya? Kau tidak suka kaka disini?" Jawab Galih sewot.
"Bagus jika kaka sadar diri, dan menjauh dari kekasihku"
"Ouhh, bocah ini benar-benar"
"Kalian berdua ini kapan akurnya sih?" Ara menatap kedua kaka adik itu bergantian. Mereka seperti kucing dan anjing yanh tidak bisa disatukan.
"Najis!" Kompak keduanya.
"Tau ah aku pusing" Ara meraih sendok, memilih mengisi perutnya yang mulai berbunyi.
Galih mengikuti apa yang calon adim iparnya lakukan. Tangannya meraih sumpit, mengambil sepotong susi, dan dengan cepat memasukkannya kedalam mulut. Aldre yang melihat tindakan sang kaka mendengus kesal.
Lelaki 34 tahun itu sama sekali tidak perduli dengan adik bungsunya, ia terus memasukan makanan yang Ara siapka untuk adiknya kedalam mulutnya.
"Berhenti mengambil makanan ku, ka Galih!" Aldre berseru kesal.
"Apa kau membelinya dengan uang bocah ini, Ara?" Tanya Galih pada gadis disebelahnya.
Ara menggeleng polos. "Enggak. Ara beli pake uang Ara" Ara menunjukan bukti pembelian dari ponselnya.
"Kau lihat bocah, jadi ini bukan makanan mu! Wleee"
"Aiishhh! Dasar tua!"
"Bodoamat bodoamat!"
"Waahh makan-makan" seruan heboh dari arah pintu sukses membuat Aldre menggeram kencang.
Aldre melempar sendok ditangannya kesal, acara makan siang romantisnya dengan sang kekasih harus terganggu dengan kedatangan dua manusia menyebalkan.
"Apasih gak jelas" ucap Ara menatap aneh kekasihnya itu.
Galih menyeringai puas melihat raut kesal bocah nakal itu.
"Dimana ka Leo?" Tanya Kevin. Kepalanya melongok kepenjuru ruangan, mencari sosok ketuanya.
"Ngebak di Niagara!" Jawab Aldre asal.
"Aku disini bocah!" Leo keluar dari kamar pribadi Aldre. Sejak tadi pria itu tertidur disana.
"HAISSHSHSHS!!!"
Ara menatap cemberut Leo yang kini duduk dihadapannya. "Ka Leooooo berhenti ngikutin Aldre. Ara jadi gak bisa kencannn"
"Tidak ada yang melarangmu untuk kencam, bocah"
"Isshhh, tapi ka Leo ganggu!"
"Bodoamat"
"Ka Leeeooo!! Ka Kevin bantuin" Ara menatap memelas saudara iparnya itu.
"Untuk yang satu ini... Silahkan selesaikan urusan kalian masing-masing" Kevin mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
Ia tidak berani jika disuruh berhadapan dengan pria paling dingin di Phoenix ini. Jauh lebih baik menghadapi Isabella yang sedang mengamuk.
Galih tertawa kencang melihat raut kesal sepasang kekasih itu.
"Ka Kevin payah, bintang satu. Ka Leo BINTANG ZERO! Sangat menyebalkan!"
"Dasar tua!!" gumam Aldre kencang.
"berisik kau bocah!"
akhirnya setelah perdebatan tidak penting, mereka kembali melanjutkan acara makan siang yang tertunda. untung saja Ara memesan banyak makanan.
"kapan kalian akan menikah?" tanya Kevin setelah selesai mengelap bibirnya dengan tisu.
"tunggu Ara hamil duku baru dia mau dinikahin" jawab Aldre santai.
Mata Ara membulat menatap kesal kekasihnya itu."iihhh, Aldre!!!"
"Salah sendiri kamu gak mau aku lamar"
"itu karena kau jelek, bocah!" tidak perlu ditebak siapa yang mengatakan itu.
"setuju" seru Ara cepat. Aldre menatap sinis gadisnya itu.
"kau ini tidak memilikk pekerjaan ya, ka Leo? apa kau sudah didepak dari Phoenix?" Aldre menatap Leo penuh pemusuhan.
"Phoenix tidak akan berdiri tanpa diriku, bodoh! lagipula kau hiburan untukku"
"Bangsat!!"
Tawa Galih kembali pecah. begitupun Kevin dan Ara.
"memang bajingan kalian semua!!" ucap Aldre sewot.
"kamu bilang aku bajingan?" Ara melotot tajam
"bu-bukan--"
"kamu bilang kaliam semua bajingan. berarti aku juga termasuk kan?"
"sayangggg, bukan gitu maksud aku..."
"kamu yang bajingan, dasar jelek! aku gak mau nikah sama kamu!!"
BRAKK
"HAHAHAHAHAHA"
"SIALAN!"
.....
T B C?
BYE!