
Sudah terhitung lima bulan kehamilan Ara, itu artinya tiga bulan sudah Aldre menjalani masa hukumannya.
Semakin besar usia kandungannya semakin besar pula rasa rindu Ara pada Aldre. Sejak terakhir kali dirinya menjenguk Aldre, Ara tidak pernah diijinkan lagi untuk turun kesana. Setidaknya Ara pikir satu bulan sekali dirinya boleh menjenguk kekasihnya, nyatanya setelah Ara mencoba merayu papahnya pun ia tetap tidak bisa bertemu kembali dengan Aldre.
Izin yang diberikan sebelumnya hanya agar Ara berhenti duduk didepan pintu ruang bawah tanah lagi. Dan rencana itu berhasil dengan sempurna, karena Ara tidak pernah melakukannya lagi sejak dia bertemu Aldre.
"Papaj kejam." Cebiknya kesal.
Ara menatap hasil usg ditangannya yang menunjukan bagaimana perkembangan anaknya didalam perutnya. Wanita hamil itu baru kembali dari rumah sakit untuk check kehamilan.
Ara ingin sekali memberikan benda ditangannya ini kepada Aldre, ia ingin Aldre tau bagaimana perkembangan anak mereka. Tapi Ara ingin memberikannya secara langsung.
"Kapan hukuman kita berakhir Al.."
"Lahirkanlah anakmu sekarang, maka hukumanmu selesai"
Ara menoleh kesal pada orang yang menyahuti perkataannya. "Apa?! Benarkan? Hukuman kalian selesai jika kau melahirkan" seru orang itu lagi
Bibir Ara berdecak keras. "Kau menyebalkan Carissa! Pulang sana!"
"Nyenyenye. Pffftt wleee" Carissa meleletkan lidahnya lalu kembali fokus pada novel dipangkuannya.
Sedangkan ditempat Aldre berada.
Senyum haru yang terbit diwajah calon ayah muda itu terpatri sejak dirinya menerima sebuah amplop cokelat dengan logo salah satu rumah sakit terbaik di Los Angeles.
Isi dalam amplop itu adalah hasil check kehamilan sang kekasih. Ara tidak tau jika diam-diam Carissa selalu mengirimkan hasil check kehamilannya pada Aldre.
"Anak daddy sudah tumbuh sebesar ini diperut mommy ya" Aldre bergumam lirih. Matanya berkaca-kaca merasakan kebahagiaan yang begitu melimpah kepadanya.
"Jaga mereka dengan baik tuhan" Aldre mengepalkan tangannya, berdoa agar anak dan istrinya selalu baik-baik saja.
"Daddy tidak sabar bertemu denganmu nak"
Aldre kembali memasukkan hasil usg Ara kedalam amplop kemudain membaringkan tubuhnya diatas kasurnya yang sudah berganti menjadi sedikit lebih tebal. Memeluk erat amplop cokelat itu sampai dirinya masuk kealam mimpi.
*
"Bagaimana kondisi Ara dan kandungannya ka?"
"Baik, mereka baik. Tapi terkadang Ara menangis karena merindukan Aldre"
"Kapan hukumannya selesai?"
"Setelah Ara melahirkan, tapi kaka tidak tau kapan pastinya"
"Aku mengerti. Beritau aku kabar apapun itu ya ka"
"Pasti sayang"
*
Diatas sofa ruang santai. Carissa dan Ara berbaring malas tanpa melakukan apapun. Hanya tergeletak mengenaskan diatas sofa seperti ikan terdampar.
"Bosen banget gak sih Ra?" Seru Carissa lemas.
"Mm. Dulu biasanya kalau bosen gini kita kabur ke Disneyland kan?"ujar Ara polos.
Tawa keras Carissa sontak keluar setelah mendengar penuturan polos Ara. Wanita hamil itu mengernyit heran ketika sahabatnya malah tertawa.
"Kenapa ketawa?" Ara menatap aneh Carissa yang tiba-tiba tertawa.
"Tiba-tiba aku keinget waktu kita diuber-uber ka Bella sama ka Galih karena kabur dari sekolah"
Ara ingat jelas moment lucu itu, karena ide bolos dan kabur ke Disneyland adalah idenya. "Oh iya hahahaha. Inget gak sih waktu Aldre kena omel ka Galih tapi dia cuma kedip-kedip doang karena bingung kenapa diomelin?"
Tawa Carissa meledak semakin keras. "Gara-gara kita bilang kalau guru ada rapat, padahal niat kita emang mau bolos"
"Tapi abis itu Aldre gak mau ngomong seminggu sama kita. Karena abis diomelin ka Galih, sampe rumah diomelin lagi sama Paman, mana dipelototin ka Kevin"
"HAHAHAHAHA" keduanya tertawa bersamaan.
"Jadi kangen Sin?" Mengingat masa lalu mereka membuat Ara teringat sahabatnya yang masih berada ditempat pengasingan.
"Kita gak boleh hubungin Sin ya?" Sahut Carissa.
"Iya gak boleh. Kira-kira Sin tau gak ya aku hamil?"
Carissa bangkit perlahan dari posisi berbaringnya. "Tau lah pasti. Ka Darren pasti selalu menghubungi dan memberitahu Sin tentang kita. Kan cuma ka Darren yang diijinkan menghubungi Sin"
Ara mengerut sedih, ia benar-benar merindukan sahabatnya itu. Sudah hampir enam bulan mereka tidak saling mengobrol, terakhir satu bulan setelah Sin pergi.
"Ohh aku tau" Ara tersenyum cerah saat sebuah ide terlintas diotaknya.
"Kenapa gak kita minta ka Darren kesini terus telpon Sin disini biar kita bisa ngobrol" usul Ara.
Dengan sigap Carissa memeluk Ara dan memberikan kecupan bertubi di pipi ibu hamil itu.
"Aaaaa aku sayang banget sama kamu Ra" jeritnya heboh.
Ara mendorong sedikit kasar tubuh Carissa. "Ihhh jauh jauh. Kamu bau"
"Nyenyenye"
"Mending sekarang kamu telpon ka Darren"
Carissa buru-buru meraih ponselnya diatas meja mencari nomor Darren didalam kontak. Namun saat hendak menekan lambang telpon gerakan Carissa terhenti.
"Ka Darren kan baru kesini kemaren, dia bilang mau perjalanan bisnis hari ini"
"Aaaahhhhhhh kok bisa lupa sih. Huaaaaaaa"
SRAKK...
"ARAAA!!!"
Mata Carissa membola melihat Ara yang tiba-tiba bangkit dan berlari. Gadis itu bahkan melupakan sandal rumahnya. Dengan cepat Carissa mengenar Ara yang sudah lebih turun melalui tangga.
"Aiiihhh gadis ini" Carissa menggeram kecil.
Brukk...
Tubuh Ara hampir saja terjerembab jika tidak langsung ditangkap oleh Javin yang kebetulan lewat.
"Hati-hati, little princess" tegur Javin membantu Ara kembali berdiri.
Ara hanya menampilkan cengiran khasnya. "Hehehe, maaf abang"
"Mau kemana hm?" Tanya Javin lembut. "Nyari papah" Ara menjawab dengan cepat.
"Ara!!" Carissa tiba dihadapan keduanya dengan nafas terengah. Tubuh Carissa membungkuk menetralkan nafasnya.
"Kenapa kau berlari seperti itu Carissa? Kau lupa kakimu belum pulih benar?"
Carissa kembali berdiri tegak menatap sahabatnya kesal. "Salahkan adik bungsu abang yang tiba-tiba berlari. Bikin jantungan aja tau gak" omelnya.
"Ara.."
"Maaf abang"
"Papah lagi keluar, tunggu sampai jam makan siang jika ingin menemuinya" ucap Javin.
"Iya abang"
"Jangan berlari lagi seperti tadi. Mengerti?" Ara mengangguk patuh.
Carissa menarik pelan lengan Ara menuni sofa, melanjutkan acara berbaring mereka sebelumnya. Tidak ada suara yang keluar dari keduanya, hanya suasana hening yang tercipta.
"Sepi banget" ucap Ara tiba-tiba.
"Namanua juga hari kerja, Ra. Kamu gak berharap ada festival disini kan?" Sahut Carissa ketus.
"Hahaha, apaansih Car receh banget" Ara mebalas dengan wajah datar.
Carissa mendelik. "Kamu gak mau nyiapin pernikahan kalian?"
"Gak tau. Aku belum bicarain ini sama Al"
"Bukan belum. Tapi kamunya aja yang selalu menghindar kalau Aldre ngangkat topik ini" Carissa mendengus.
"Aku takut, Car" cicit Ara pelan.
"Apa yang kamu takutin?"
"Entahlah, aku hanya merasa takut saat itu"
"Emang gak jelas Lo ah"
"Kekekeke"
.....
T b c?
Bye!