Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
6. Menginap



"Yuk pulang" ajak Jeno. Erick mengangguk singkat tanpa menjawab, mulutnya masih sibuk mengunyah makanan.


Keduanya berjalan beriringan menuju parkiran. Jeno meraih helm milik Erick, memakaikannya ke kepala sang kekasih yang masih belum melepaskan makanan miliknya.


Setelah memastikan helm Erick terpasang dengan benar, Jeno baru menggunakan helm miliknya.


"Jangan makan terus, sayang. Ayo naik" ucapnya yang sudah duduk di atas motor.


Erick membuang bungkus plastik bekas makanannya ke dalam tempat sampah yang berada tak jauh dari posisinya berdiri. Mengambil tisu basah dari dalam tasnya dan membersihkan tangan dan wajahnya yang celemotan karena saus. Setelah selesai, Erick naik ke atas motor.


"Sudah siap?" tanya Jeno. "Siap. Ayo pulangggggg" seru Erick riang.


"Hahahaha" Jeno tertawa kecil karena tingkah menggemaskan sang kekasih.


Begitu tiba di mansion Scander, Erick langsung melompat turun dari motor dan berlari masuk ke dalam rumah, mencari keberadaan sang adik yang sudah dua hari tak di temuinya. Jeno hanya bisa kembali menggelengkan kepalanya, sudah terbiasa dengan tingkah sang kekasih.


"Harenaaaaaa" teriak Erick memanggil nama sang adik.


Harena yang kini berada di taman belakang bergegas berlari begitu mendengar suara sang kaka. "Ka Erickkkk" serunya riang masuk kedalam pelukan Erick.


"Kenapa lama sekali?" tanya Harena. Erick mengecup lembut Puncak kepala adiknya. "Maaf ya, tadi kaka jalan-jalan dulu sebentar"


"Pasti di culik ka Jeno lagi ya"


"Hihihihi. Ini kaka bawain jajanan untuk Harena" Erick menyerahkan kantong berisi cumi yang dibawanya. "Wahhh cumiiii" pekik Harena senang.


"Ayo kita makan bareng-bareng" ajak Erick. Jeno yang baru saja masuk mengikuti langkah sang kekasih yang berjalan menuju taman belakang.


"Ganti baju dulu, Rick" tegur Jeno. "Nanti aja" jawab Erick cepat.


"Kebiasaan"


"Kalian baru pulang?" sapa Isabella pada keduanya.


Jeno mendekat, menengadahkan tangannya pada sang bunda. Isabella yang mengerti langsung mengulurkan tangannya. Sikap Jeno diikuti Erick setelahnya.


"Ganti baju dulu gih. Keringetan sekali" ucap Isabella.


"Iya bunda. Ayo" dengan sedikit kasar Jeno menarik tangan Erick menuju kamar untuk berganti pakaian. Erick yang di perlakukan seperti itu tentu saja mengajukan protes pada sang kekasih.


Setibanya di kamar, Jeno langsung melepaskan genggamannya pada tangan Erick. Cowok itu berjalan masuk ke dalam ruang ganti miliknya.


Erick senantiasa mengikuti langkah kaki Jeno. "Aku kan gak bawa baju" ucapnya.


"Pake baju aku dulu" Jeno menarik sepasang pakaian dari dalam lemarinya kemudian menyerahkannya pada Erick.


"Sana ganti" perintahnya. "Mm" Erick masuk ke dalam kamar mandi.


Jeno mengganti seragamnya dengan pakaian yang lebih santai. Sembari menunggu Erick yang Jeno yakin, kekasihnya itu pasti sekalian mandi. Jeno duduk di pinggir ranjang sembari memainkan ponsel miliknya.


15 menit kemudian Erick keluar dengan tubuh lebih segar. Rambutnya basah, tepat seperti dugaan Jeno bahwa cowok itu pasti mandi.


"Kamu gak mau mandi?" tanya Erick. "Ini udah hampir sore loh"


Jeno mendongakkan kepalanya, melatakkan ponselnya ke samping meminta Erick untuk mendekat. Perlahan Erick melangkah mendekati Jeno, lalu menjatuhkan tubuhnya pada sofa yang ada di depan ranjang.


Jeno meraih handuk kecil di tangan Erick, mengambil alih kegiatan sang kekasih yang tengah mengeringkan rambutnya.


"Nanti aja" jawab Jeno. Bibirnya sesekali mengecup puncak kepala Erick. "Pake shampo aku ya, hm?"


"Hehehe. Aku minta"


"Gak apa-apa, sayang. Milik ku milik kamu juga"


Tidak ada pembicaraan lagi setelahnya. Keduanya sama-sama terdiam, Erick yang sibuk dengan pikirannya, dan Jeno dengan kegiatannya mengeringkan rambut Erick.


*


"Kamu menginap Erick?" tanya Justin. Erick mengangguk. "Gak di bolehin pulang sama Jeno" adunya sambil menunjuk Jeno yang duduk di sebelahnya.


"Seperti kau tidak saja" balas Jovan sinis.


Jeven menatap adiknya itu tak suka. "Kau ini sepertinya tidak senang jika melihat tensi abang normal ya? Hah? Ada apa dengan mu? Kenapa? Pujaan hati mu masih kecil ya?! Pedofil!" semprot Jeven.


Jovan menggeram marah, ingin membalas tapi dirinya tengah di pantau sang ayah. "Geo oh geo kapan kau pulang" satu nama yang tidak boleh di ucapkan depan Jeven akhirnya keluar dari mulut Jovan.


"Bocah bajingan!" umpat Jeven.


"Jeven!!" tegur Justin. "Tapi ayah---" Jeven tidak melanjutkan perkataannya karena delikan tajam dari Justin.


Matanya kembali menatap sang adik yang kini telah memeletkan lidahnya. Membuat perasaan kesal semakin menumpuk di hati Jeven.


"Sudah Jovan. Kenapa kau senang sekali mengganggu saudara-saudara mu sekarang" omel Isabella yang baru keluar dari dapur.


Wanita cantik itu menatap kesal putranya. "Bunda yang akan menyita mobil mu jika kau menggoda abang mu lagi"


"Rasakan itu" timpal Jeven senang.


"Maaf bunda" Jovan menutup rapat mulutnya. Daripada sang ayah, ia justru lebih takut pada sang bunda. Wanita cantik itu terlalu menyeramkan saat marah.


"Sudah sekarang makan dana jangan berdebat lagi"


"Ayo Erick. Makan yang banyak ya sayang"


"Baik aunty"


Makan malam keluarga Scander di mulai. Semua orang makan dengan tenang, tidak ada suara perdebatan lagi yang terdengar. Hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi musik pengiring.


*


"Yakin gak mau tidur sama aku?" Jeno masih berusaha membujuk Erick untuk tidur bersamanya. Namun Erick menggeleng kencang. "Aku mau tidur sama Harena" jawab Erick.


"Tapi Harena kan tidur sama Valerie" ucap Jeno berharap Erick mau berubah pikiran.


"Ya gak apa-apa bertiga" balas Erick santai.


"Berempat sama aku ya?" bujuk Jeno lagi.


"Apasih ah. Udah sana masuk" usir Erick.


"Ayolah sayang"


"No"


"Teganya"


"Biar. Wlee"


"Selamat malam"


"Hm, selamat malam"


"I love you"


"See you tomorrow"


"Hey!"


"Hihihi"


Erick dengan cepat masuk ke dalam kamar Harena meninggalkan Jeno yang kesal karena perkataan i love you nya tidak mendapat balasan.


****


See you!!