
"Daddy lihat kamu betah sekali disana, son"
"Hanya perasaan daddy"
"Benarkah? Lalu kenapa kamu tidak pernah pulang?"
"Aku sibuk daddy"
"Sibuk? Daddy tidak percaya"
"Ayolah daddy"
"Son, daddy tau rasanya mengejar pendidikan di negeri orang. Jadi jangan coba membohongi daddy"
"Masalah tidak akan selesai hanya karena kau berlari"
"Bukan aku yang mencari masalah"
"Daddy tau. Daddy hanya memperingatkan"
"Peringatkan saja anak kesayangan papah. Dia yang menciptakan masalah"
"Kalian berdua ini apa tidak sayang pada daddy dan papah, hm? Kenapa tidak pernah akur"
"Sudah aku bilang kan, bukan aku yang mencari masalah. Daddy salah menceramahi orang"
"Baiklah-baiklah, maafkan daddy ya"
"Sudahlah. Aku mau masuk kelas dulu"
"Liburan kali ini pulang kan?"
"Ya. Aku mau menjemput Jeno"
"Haish? Pulang karena ingin menjemput soulmatenya saja?"
"Yang penting aku pulang"
"Pintar sekali menjawab"
"Sudah, dad. Aku tutup dulu telponnya"
"Baiklah. Jangan forsir tenagamu ya"
"Mm. Bye dad"
Tut..tut..tut..
"Selalu saja menghindar. Kau tidak tau seberapa rindunya papah mu pada mu, son"
"Habis telponan sama siapa?" tanya Galih pada sang suami yang tengah fokus menatap ponselnya
Kevin tersenyum lebar pada sang istri. "Klien" jawabnya singkat.
"Geo gak nelpon?" tanya Galih lagi menyebutkan nama putra sulungnya yang tengah mengejar pendidikan di negeri orang.
Kevin menggeleng kecil sebagai jawaban. Dalam hati meminta maaf karena sudah membohongi lelaki kesayangannya itu.
"Mungkin dia masih sibuk, love" ucap Kevin menenangkan Galih yang terlihat sedih.
"Ya, aku mengerti" jawab Galih pelan. "Kadang aku merasa aku gagal mendidik Keano"
"Love! Aku tidak suka kau berbicara seperti itu. Kau sudah menjadi papah yang hebat"
"Aku selalu merasa bahwa aku seperti ayah"
"Love!!" kening Kevin mengkerut dalam, pertanda dirinya tak senang dengan perkataan sang istri.
"Love cukup!!!" bentak Kevin yang menghentikan perkataan yang keluar dari mulut Galih.
Kepala Galih menunduk dalam. Dirinya paham dan sangat mengerti perasaannya sang putra yang selalu mendapat perlakuan tidak adil. Itu mengingatkannya pada masa kecilnya dulu. Bagaimana sang ayah yang lebih menyayangi kakanya, sampai membuatnya harus mengubur dalam seluruh mimpi-mimpinya.
"Geo menyayangi mu, love. Dan dia tau kau pun menyayanginya. Dia hanya tidak ingin bertengkar dengan adiknya karena masalah yang sama. Jadi jangan berbicara seperti itu lagi, karena aku tidak mau mendengarnya!"
Kevin menarik tubuh Galih yang lebih mungil darinya ke dalam pelukan hangatnya. Membuat sang istri merasa aman dan nyaman.
***
"Maaf papah"
"Aku mengerti bagaimana rasanya menjadi diri mu dulu"
"Geo menyayangi papah sama seperti Geo menyayangi daddy"
"Maaf karena tidak bisa menjawab telpon, papah"
"Semoga papah selalu sehat dan bahagia"
***
Pagi harinya di mansion Scander.
Sepasang suami istri melangkah masuk ke dalam rumah besar nan megah tersebut. Dilihat dari penampilannya, sepasang suami istri itu sepertinya baru saja melakukan perjalanan jauh. Apalagi di tangan mereka terdapat sebuah paper bag berlogo khas negara lain.
"Ouh.. Kalian sudah pulang?" Justin yang baru saja datang dari taman belakang tersenyum hangat pada sang tamu yang datang ke rumahnya pagi ini.
"Iya. Kebetulan pekerjaan Ana selesai dengan cepat, ka Justin" jawab Daniel.
Ya, sepasang suami istri itu adalah Ana dan Daniel yang baru pulang dari luar negeri. Lebih tepatnya Daniel yang menemani sang istri melakukan kunjungan ke rumah sakit di negara lain.
"Sepertinya anak-anak belom bangun. Kalian datang terlalu pagi"
"Sengaja. Kami ingin membuat kejutan untuk mereka"
Justin mempersilahkan keduanya untuk duduk di sofa, meminta bibi untuk segera menyiapkan sarapan agar mereka bisa sarapan bersama.
"Wahhh, dokter kita sudah pulang" seruan Isabella terdengar dari lantai atas, membuat ketiga orang itu menoleh kompak.
Isabella menampilkan raut cemberutnya. Karena jika melihat Ana, wanita itu selalu merasa iri karena Ana masih bisa bebas bekerja. Sedangkan dirinya, baru memegang jas dokternya saja suaminya sudah melotot tajam.
"Selamat pagi, ka Bella" sapa Ana hangat di selingi senyum manisnya.
"Jangan sok manis" balas Isabella sinis.
"Jangan seperti itu, Bee" tegur Justin. "Diam! Ini juga gara-gara kamu!" Isabella mendelik kesal pada sang suami.
"Apa salahku?"
"Pikir saja sendiri!" Setelah mengatakan itu, Isabella berlalu pergi menuju dapur meninggalkan ketiganya begitu saja.
Daniel dan Ana hanya bisa tertawa geli menyaksikan perdebatan sang tuan rumah. Mereka jelas tau apa penyebab utamanya.
Justin menatap heran ke pergian sang istri. "Ada apa dengannya?"
Daniel dan Ana saling pandang. "Sebenarnya yang harus berangkat kunjungan adalah ka Bella. Tapi karena ka Bella sudah keluar dari rumah sakit, aku yang menggantikannya, ka Justin" jelas Ana.
Justin mengangguk paham. "Pantas saja dia ngambek"
"Hahahaha"
****
See you again!!!