Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
82 | SEBUAH FAKTA ?



Rion menatap bosan tikus-tikus kecil dihadapannya ini. Sudah satu jam sejak tikus-tikus ini tiba, masih belum ada perintah apapun untuk ia lakukan.


Entah berapa kali sudah ia menghembuskan nafas kasar. "Haiiissshhh. Kenapa bocah itu masih belum memberi perintah? Padahal aku sudah gatal ingin mengukir wajah burik kalian!"


Ucapan asal yang Rion keluarkan sukses membuat tujuh orang yang tubuhnya terikat rantai itu bergetar ketakutan.


"Apa kalian takut?" Tanyanya remeh.


"Haiiisshsh, melakukan korupsi saja kalian berani. Setidaknya kalau mau kabur, jangan pergi ke Amerika! Dasar tolol!!" Umpatnya.


"Apa paman sudah gila berbicara sendiri?" Tanya Harsel yang sejak tadi memperhatikan pamannya itu.


"Diam kau bocah! Apa kau tidak lihat aku sedang bicara dengan mereka?!" Seru Rion.


"Loh? Tikus bisa bicara?" Tanya Harsel dengan wajah polosnya.


"BUAHAAHAHA"


Tawa Rion meledak. Benar juga, mana bisa tikus bicara?


Wajah para pria itu memerah, ingin memaki tapi mereka tidak berani. Bisa hilang nyawa mereka detik itu juga jika menghina putra kesayangan Moon Killer.


"Sudah-sudah, ayo keluar. Aku bosan melihat tikus-tikus ini!"


Rion menyeret lemgan keponakannya untuk keluar dari sana. Padahal Harsel masih ingin memperhatikan mereka.


"Asssshhh, paman. Aku masih mau disini!" Rengeknya.


"Jangan berulah bocah, aku sedang malas meladeni ibumu!" Ucap Rion tegas.


"Paman tidak asik!"


"Bodo amat!"


Keduanya keluar dari pintu ruang bawah tanah. Tangan Rion masih setia menyeret keponakannya itu untuk menjauh.


"Dimana ka Nemora?" Tanyanya pada Salah satu penjaga. "Ada diruang santai tuan" balas penjaga tersebut sambil menunduk kecil.


"Thanks"


"Sopan santun dikelompok ini luar biasa ya" gumam kecil sang penjaga.


Di Ruang santai


"Ka Nemora!!!" Panggil Rion sedikit berteriak.


Nemora terperanjat, menatap kesal adiknya itu. "Apa?! Kau mau bikin kaka jantungan?!"


"Hehehe. Maaf maaf"


"Itu kenapa anak kaka kamu seret-seret kaya gitu?" Nemora menunjuk sang putra yang berada dibelakang Rion, yang kini tengah menatap memelas kearahnya.


"Nih nih, jagain nih. Rusuh banget bocah" dengan sukarela Rion menyerahkan Harsel pada ibunya.


Nemora mengelus lembut kepala sang putra. "Kenapa sayang?"


"Gak tau tuh, paman gak jelas. Masa aku ditarik-tarik" adunya.


"Heh! Sembarangan! Lunya aja yang rusuh" ucap Rion sewot.


"Daddy.... Liat paman" Harsel menunjuk Rion yang mengomelinya. Meminta pertolongan pada Harves yang sejak tadi hanya memperhatikan mereka.


Rion meneguk ludahnya kasar. Ia tidak sadar sahabat kakanya itu ada disana sejak tadi.


"Hehehe. Ka Leo!!!" Teriaknya tiba-tiba.


"Jangan seperti itu pada pamanmu, Harsel!" Teguran Harves membuat sang putra mencebik.


"Aaahhh, daddy payah. Masa sama paman Leo takut"


"Kenapa?" Leo yang tengah berjalan bersama sang putra, Edward. Menghampiri Rion yang tadi berteriak memanggilnya.


Rion menunjuk Harsel. "Dia gangguin Rion kerja"


Leo melirik bocah 15 tahun itu. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, hanya lirikan peringatan yang ia berikan.


Edward terkikik kecil, jarang-jarang melihat sahabatnya itu ketakutan seperti ini.


"Harsel hanya ingin lihat paman" Harsel menunduk, tidak berani menatap sang paman.


"Kau tidak boleh selalu ingin tau tentang segala hal, Harsel. Karena ada hal yang boleh kau ketahui dan ada yang tidak. Mengerti?" Ucap Leo.


"Mengerti paman"


"Bagus. Ayo Edward" Leo mengajak sang putra pergi dari sana. Melanjutkan kegiatan mereka yang sedikit tertunda karena Rion tadi.


Bocah 15 tahun itu menatap sinis Rion. "Paman curangggg!!" Kesalnya.


"Lah? Lu aja ngadu masa gua gak boleh? WLEEE, EMANG ENAK!!" Rion segea berlari dari sana meninggalkan Harsel yang mentapnya kesal.


"IIISSSSSHHHHH"


.


Kevin baru saja tiba di makas Phoenix. Lelaki itu keluar dari mobil berbarengan dengan Leo dan Edward yang hendak keluar.


"Paman Kevin" panggil Edward.


Kevin mengangkat sebelah tangannya menyapa. "Kalian mau kemana?" Tanyanya. Sedikit heran melihat Leo yang seertinya agak santai, karena lelaki itu jarang sekali mengambil libur.


"Mau jalan-jalan sebentar paman"


"Ka Liyona?"


"Mom masih berada dirumah kakek"


"Ouuuhh"


"Sepertinya ada sesuatu yang penting sampai kau kembali kesini, Kevin" Leo menatap lekat Kevin.


"Mm, aku meminta bantuan Rion untuk menangani sesuatu"


"Aku mengerti. Kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu"


"Kami pergi dulu, paman"


"Mm, hati-hati"


.


.


"Mereka sudah tertangkap tuan"


"Apa anda tidak ingin mengeksekusi mereka?"


"Tidak sekarang, Brendon. Aku ingin menikmati permainnya dulu"


Brendon menghela nafas gugup. "Kadang-kadang saya merasa bahwa anda mirip sekali dengan nona Isabella dan tuan Kevin" ungkapnya jujur.


Aldre tertawa spontan mendengar ucapan assistantnya itu. "Benarkah? Waaahhh, kau pengamat yang baik" puji Aldre.


"Hehehe, maaf tuan"


"Tidak apa-apa Brendon. Karena sejujurnya, aku ingin sekali menjadi seperti mereka berdua. Sayangnya mereka tidak pernah mengijinkanku untuk bergabung"


"Jika saya adalah tuan Kevin, saya akan melakukan hal yang sama pada anda, tuan"


"Kenapa?"


"Karena tidak mudah untuk keluar dari dunia gelap. Akan banyak hal yang kita korbankan, tuan"


"Anda bisa melihat bagaimana, kaka anda dan tuan Justin harus senantiasa menahan rasa ketakutan mereka setiap saat. Rasa khawatir yang tidak pernah hilang dalam diri mereka" penjelasan Brendon cukup membuat Aldre tersadar akan sesuatu.


Aldre tersenyum kecil, memutar kursinya menghadap jendela. "Kau benar Brendon. Aku bahkan tidak yakin bisa keluar"


"Maksud anda?" tanya Brendon bingung.


"Bukan apa-apa, Brendon. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu"


"Kalau begitu saya akan menyiapkan berkas untuk rapat siang nanti"


"Mm"


'Ka Bella benar, semuanya tidak seindah yang aku bayangkan. Amarah hanya akan selalu memicu tindakan bodoh'


Aldre memejamkan matanya erat. Kedua tangannya meremas pinggiran kursi dengan kuat, hingga membuat urat-urat dipunggung tangannya terlihat.


.


.


Pagi ini Galih berkunjung ke mansion Isabella. Ia ingin bertemu sang sahabat. Ada beberapa hal yang dia butuh pendapat sahabatnya.


"Ada sesuatu yang mengganggu mu, Ge? Sejak datang kau hanya melamun" suara Isabella menyadarkan Galih dari lamunan.


"Ada beberapa hal yang mengganggu pikiran ku, dear" ungkap Galih dengan nafas berat.


"Katakan lah"


"Ada sedikit masalah didalam perusahaan Aldre, dan ka Kevin sedang mencari taunya. Kemarin dia mengirimkan beberapa orang yang diduga biang dari masalah itu"


Tidak ada respon dari Isabella, ia masih menunggu apa yang selanjutnya akan sahabatnya itu katakan.


"Tapi bukan itu yang menjadi pikiranku. Kau ingat kalung yang diambil Jovan?"


Isabella mengangguk. Ia tidak melihat bentuk kalungnya, hanya permata yang Jovan sembunyikan yang pernah ia lihat.


"Kau yakin ka Justin benar-benar menghancurkan... 'Itu'?"


Isabella menatap tajam Galih. Apa maksud sahabatnya itu, apa Galih pikir suaminya berbohong.


"Apa maksudmu?"


"Dimana permatanya? Sudah kau kembalikan pada Aldre?"


"Masih ada di suamiku"


"Sebenarnya apa maksudmu, Ge?"


"Kalung itu bukan hanya sebuah kalung, Dear. Kalung itu milik seseorang yang menciptakan 'itu' sebelum ka Justin. Lambang 'itu' yang sesungguhnya"


"A-apa?"


"Kalung itu jantung kelompok mereka, Dear. Sumber kekuatannya"


"Tidak mungkin Aldre mendapatkan kalung itu tanpa percuma. Seharusnya kalung itu sudah lama hancur sebelum ka Justin memimpin 'itu'"


"Ge..."


"Kau tau apa artinya kan?" Galih menatap Isabella hancur. Ia pikir semuanya sudah selesai, tapi justru sebaliknya.


Sejak Aldre menghubungi Justin untuk meminta kalungnya kembali yang berada ditangan Jovan, Galih sudah merasa curiga.


Ia mencari tau tentang kalung itu, karena Galih merasa tidak asing meski belum melihat bagaimana bentuk permatanya. Dan fakta mengejutkan inilah yang dirinya dapatkan.


"Ka Justin tidak mungkin tidak menyadarinya, Dear"


Isabella masih syok, benarkah itu? Apakah suaminya berbohong tentang Red Lion.


"Aku harus bertanya padanya"


"Apa kau pikir ka Justin akan jujur, dan membuatmu menggila ? Aku masih mencoba meyakinkan bahwa apa yang aku dapatkan adalah salah"


"Apa ka Kevin tau?"


"Tidak"


"Ouuhh, kau disini Galih?"


Suara yang muncul dari belakang Isabella membuat keduanya menoleh. Dengan cepat Galih dan Isabella membuat ekspresi tenang.


"Kau sudah pulang, boo?"


"Kau tidak ingat aku bilang apa tadi pagi? Aku hanya ada rapat pagi ini, bee" Justin mendudukan tubuhnya disebelah sang istri.


"Aahhh, aku lupa"


"Jadi? Tumben kau kesini Galih"


Galih menatap sinis Justin. "Memangnya kenapa? Sebelum ka Justin merebutnya, dia milikku!" sewotnya.


"Hahahaha"


Isabella hanya menggelng pelan. "Ganti baju dulu, boo" ucapnya pada sang suami.


"Baiklah, lanjutkan perghibahan kalian"


Keduanya menghembuskan nafas lega, saling tatap berakhir tertawa tidak jelas.


.....


T B C?


BYE!