
Selamat pagi, papah...
Maafkan Geo jika ketika papah membaca pesan ini papah tidak menemukan Geo di rumah pagi ini.
Geo dan Jeno memutuskan berangkat tadi malam karena kami memiliki urusan yang mendesak. Maafkan Geo karena tidak izin pada papah dan daddy terlebih dahulu, karena keberangkan ini juga mendadak.
Geo harap papah tidak sedih setelah membaca pesan ini. Maafkan Geo karena telah melanggar janji Geo pada papah. Geo sayang papah, Geo akan menghubungi papah setelah Geo sampai nanti.
I Love you so much, my hero
Tubuh Galih menjadi lemas seketika setelah membaca pesan yang dikirimkan sang putra. Rasa panik dan takut menyerang dirinya secara bersamaan sampai membuat Galih tak mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Brukk!!
Tubuh Galih terjatuh begitu saja ke lantai, bersamaan dengan ponsel miliknya yang terlempar cukup jauh. Lelaki itu pingsan, air mata mengalir deras dari matanya yang terpejam.
Di lantai bawah.
"Dimana papah mu, Kiran?" Ara bertanya pada Kuran yang membantunya menyiapkan hidangan.
Hari ini sanak keluarga akan datang berkunjung untuk melepas rindu dan doa pada Geo yang akan berangkat kembali ke sekolahnya bersama Jeno lusa.
Sudah ada beberapa saudara dan keluarga yang datang termasuk keluarga Skholvies. Rencananya hari ini mereka akan berkumpul di mansion Aldebaren lalu besok mereka akan berkumpul di mansion Scander, dan lusanya akan mengantar kedua putra mereka ke bandara.
"Aunty benar, kenapa papah belum turun ya. Kiran liat dulu ya aunty" Kiran menghentikan acara menyusun gelasnya, lalu berpamitan apada Ara untuk menyusul papahnya ke kamar.
"Oke sayang"
Kiran berlari kecil menaiki tangga, dalam perjalanan dirinya juga baru teringat bahwa kaka sulungnya, Geo belum juga keluar dari kamarnya.
"Aku akan membangunkan kaka setelah memanggil papah"
Kiran tiba di depan pintu kamar orang tuanya, pintu berwarna cokelat itu terbuka lebar tanpa pikir panjang kiran melangkah masuk ke dalam.
Kening gadis kecil itu mengkerut saat melihat sebuah tangan yang tergeletak di atas lantai, dengan perasaan cemas ia berjalan semakin masuk ke dalam kamar.
Rasa panik dan terkejut menyerang Kiran saat mendapati sang papah yang tergeletak tak sadarkan diri di atas lantai.
"Papah!!!!" Pekiknya keras. Kiran menghampiri tubuh Galih, mengguncang tubuh sang papah agar terbangun.
"Papah bangun pah!! Papah kenapa?!"
Air mata mengalir deras di pipinya, Kiran takut jika hal buruk terjadi pada papahnya. Gadis kecil itu bangkit, berlari keluar dari kamar untuk memanggil sang daddy.
"DADDY!!! DADDY!!!"
Teriakan Kiran sontak membuat semua orang menoleh. "Kiran ada apa sayang?" Kevin dengan cepat menghampiri putri kecilnya.
"Papah!!! Papah pingsan daddy"
Setelah mendengar perkataan Kiran, Kevin langsung berlari panik menuju kamarnya.
"Papah kenapa kiran?" Keano bertanya pada sang adik yang masih menangis.
Kiran menggeleng lemas. "Kiran gak tau kaka. Waktu Kiran masuk papah udah tergeletak di lantai"
Mereka pun bergegas ke atas untuk melihat keadaan Galih.
"Bagaimana keadaan Galih?" Tanya Riyani. "Wajah nya pucat bu, sepertinya dia menangis saat pingsan. Ada air mata yang mengering di sisi wajahnya" jelas Kevin. Tangannya bergerak mengusap kening sang istri, sesekali menyeka keringatnya yang bercucuran.
Sampai tiba-tiba... BRAKKK!!!
Suara debuman pintu yang sepertinya di tendang keras terdengar dari samping, entah siapa pelaku yang melakukannya di pagi hari seperti ini. Tapi sepertinya Kevin bisa menebak siapa pelakunya, karena tak lama dari tendangan itu terdengar suara benda keras yang terjatuh menghantam lantai.
****
Isabella masuk ke dalam kamar Jeno. Semalam saat dirinya terjaga, Isabella merasa seperti mendengar suara mesin mobil yang meninggalkan area mansion. Entah kenapa pikirannya langsung tertuju pada putranya itu.
"Jeno" panggil Isabella pelan. Begitu masuk ke dalam kamar sang putra ia bisa merasakan tak adanya tanda kehidupan di dalam sana.
Bahkan tas besar milik putranya yang sebelumnya tergeletak di sudut ruangan pun tidak ada di sana.
"Dimana Robert?" Tanya Isabella pada salah satu maid. "Robert mengantar tuan ke kantor, nyonya"
"Panggil anak-anak suruh mereka ikut dengan ku" perintahnya. Maid tersebut langsung meninggalkan pekerjaan nya dan segera memanggil Jeven dan yang lainnya.
"Bunda ada apa?" Jeven bertanya begitu mereka berada di dalam mobil.
"Adik mu"
"Jeno?"
"Dia pergi"
"HAH?!"
Kurang dari 15 menit Isabella tiba di halaman mansion Aldebaren. Wanita itu langsung berlari masuk, tujuannya adalah kamar milik Geo. Jeven dan ke empat adiknya termasuk Fero hanya bisa mengikuti kemana bunda mereka melangkah.
BRAKK....
Isabella menendang keras pintu kamar milik Geo, hingga pintu berwarna putih tersebut terlepas dari engselnya dan terjatuh ke lantai.
"Brengsek"
Kamar itu kosong, sama seperti kamar Jeno yang tidak memiliki tanda kehidupan.
**
Bersamaan dengan Isabella yang mssuk ke dalama kamar, Galih tersadar dari pingsannya. Seolah bisa merasakan kehadiran sahabatnya, netra biru Galih langsung tertuju pada Isabella.
"Dear..." Panggilnya dengan suara lirih. Bibirnya bergetar, air mata mengenang di pelupuk matanya.
Isabella menatap Galih sedih. "Maafkan aku, Ge. Harusnya aku jujur pada anak-anak sejak awal" ucap Isabella.
"Ada apa sebenarnya?" Tanya Rayyan yang tidak mengerti situasi.
"Dimana Geo?" Pertanyaan Aldre membuat semua orang tersadar tentang si sulung Aldebaren yang tak terlihat sejak tadi.
Galih menangis keras, isakannya terdengar pilu. Kevin dengan sigap memeluk erat tubuh istrinya, perlahan ia mulai mengerti apa yang terjadi.
"Ka Bella, sebenarnya ada apa?" Ara mendekat pada kakanya, meminta penjelasan apa yang terjadi saat ini.
"Jeno sudah pergi..... Dan Geo ikut bersamanya" jawab Isabella dengan pandangan menatap ke bawah.
Erick yang ada di sana shock setelah mendapat kabar tersebut. Sang kekasih tak mengatakan apa pun padanya begitupun sepupunya.
"Apa ini karena cerita Geo kemarin?" Gumamnya cukup keras yang bisa dengar semua orang di ruangan itu.
"Cerita? Cerita apa?" Tanya Rayyan cepat pada cucunya itu.
"BEE!!!"
Belum sempat Erick menjawab pertanyaan kakeknya suara teriakan Justin terdengar, lelaki itu berdiri di ambang pintu dengan raut marah.
"Tahan amarah mu, boo! Semua ini juga salah mu!" Balas Isabella tajam.
Justin berjalan cepat ke arah Isabella, menarik kasar lengan wanita itu. "Kau menyalahkan ku?!"
"Lalu aku harus menyalahkan siapa?! Kau yang ingin kita merahasiakan ini dari anak-anak!!! Mereka sudah besar boo, sudah waktunya mereka tau!!"
"Jaga bicaramu!!"
"Kau yang harus menjaga sikap mu!! Kau tidak pernah berubah boo! Omong kosong!!"
PLAKKK!!!
****
See you!