
Hari demi hari berlalu, setelah apa yang Erick dengar dari mulut Jovan sejak saat itu Erick bersikap seolah tak perduli dengan keadaan, iya menjalani harinya seperti biasa. Erick meyakinkan dirinya untuk tidak terus terpaku pada Jeno dan segala omong kosongnya. Bersikap bodo amat memang lebih baik daripada ia menangis dan galau tak jelas sepanjang hari.
"Morning" Erick menyapa semua orang yang berada di ruang makan. Ana menjadi yang pertama tersenyum dan membalas sapaan putra sulungnya itu. "Morning, sayang. Ayo duduk, mamah udah buatin roti bakar kesukaan kamu"
Erick menarik kursi di sisi kanan Daniel, menerima sarapan yang di sodorkan Ana dengan senang hati. "Terimakasih mamah" ucapnya riang.
Daniel menghentikan suapannya, menatap putra sulungnya yang tengah menikmati roti bakar kesukaannya.
"Erick" panggil Daniel. Erick menatap ke arah sang papah, "iya pah" jawabnya masih dengan mulut yang sibuk mengunyah.
"Erick gak mau coba bawa kendaraan sendiri ke sekolah?" tanya Daniel yang langsung membuat Erick berhenti mengunyah.
"Memangnya boleh?"
"Tentu. Asalkan Erick selalu berhati-hati"
"Tapi motor Erick udah lama gak di pake"
"Nanti biar motor Erick, papah bawa ke bengkel untuk di check ya"
"Oke deh. Makasih ya pah" Erick memberikan senyuman manisnya pada sang papah yang di balas oleh Daniel. "Sama-sama sayang"
**
Jovan tak lagi bisa menghitung berapa kali dirinya menggeram Dan mengumpat. Meski berada di tempat yang jauh sekalipun, tingkah menyebalkan dan brengsek kaka kembarnya tak lantas menghilang.
"Lakukan saja yang aku katakan dan jangan banyak membantah" perintah mutlak yang berulang kali Jeno ucapkan dari sebrang sana lama-lama cukup membuat telinga Jovan terasa kebas.
"Jika kau ingin memastikan keamanan nya, jaga saja sendiri. Kau pikir aku bodyguard" tolak Jovan dengan nada sengit.
"Lecet sedikit saja, hubungan mu dan Harena bayarannya" ucap Jeno yang langsung mematikan sambungan telponnya begitu saja.
"Aarrrrggghhhgh, kaka sialan!" Jovan berteriak marah.
Jovan bukannya tidak mau menjaga Erick, tapi dirinya tidak sanggup berhadapan dengan sahabatnya itu. Jovan tidak tega melihatnya, tapi dirinya juga tidak tau harus melakukan apa.
"Pagi-pagi sudah marah-marah" seru Jesslyn yang berdiri bersandar di pintu kamar Jovan.
Sejak sepuluh menit yang lalu, Jesslyn sudah berdiri di sana dan mendengarkan percakapan keduanya, tapi dirinya tidak mau menyela dan memilih mendengarkan saja.
Kedua alis Jovan menyatu, wajahnya memerah menahan kesal. "Apa otak kakak mu tertukar dengan otak udang?!"
Jesslyn tertawa kecil. "Kau yang lebih paham bagaimana dia. Turuti saja permintaannya, toh kau juga akan mendapatkan imbalannya nanti"
Jovan meremat rambutnya kuat. "Tapi ini bukan tentang imbalan, Jes! Tapi-- aaarrgghh! Bagaimana aku berhadapan dengan Erick?" ucap Jovan dengan suara lirih.
"Kau sama sekali tidak membantu"
"Sorry"
Toh sama saja, Jesslyn juga tidak tau harus bagaimana. Tidak ada yang bisa memahami apa yang ada dalam pikiran kaka kembarnya itu. Jeno selalu melakukan hal-hal tak terduga, entah bagaimana cowok itu berfikir.
Dengan langkah cepat Jovan berjalan menuruni tangga rumahnya. Ia sudah terlambat untuk berangkat sekolah karena perdebatannya dengan Jeno dan tentu saja terlambat menjemput Erick karena sahabatnya itu pasti sudah sampai di sekolah saat ini.
Sedangkan Jesslyn, ia tidak sekolah karena baru saja pulih dari demamnya semalam. Jadi sang bunda melarangnya untuk pergi sekolah sampai benar-benar sembuh.
Skip time..
Bersamaan dengan mobil milik Jovan yang masuk ke dalam lingkungan sekolah, Erick tiba dengan di antar oleh papahnya.
Setelah berpamitan dengan Daniel, Erick turun dan bergegas masuk. Ia sedikit terlambat dari jam biasa dirinya datang karena menunggu Harena yang telat bangun.
Jovan keluar dari mobilnya, netra berbeda warnanya langsung terkunci pada tubuh Erick yang baru saja melewati gerbang.
"Rick" Jovan berlari kecil sambil berteriak memanggil Erick dan yang di panggil pun menoleh ke belakang.
"Oh? Jov. Kau sendiri? Jesslyn mana?" Tanya Erick begitu Jovan berdiri tepat di hadapannya. Cowok itu sendirian tanpa Jesslyn yang biasanya selalu berangkat bersamanya.
"Sakit, semaleman demam" jawab Jovan. "Oh" Erick mengangguk kecil.
"Ayo masuk" ajak Jovan.
"Hm"
Selama perjalanan menuju kelas, tak ada satupun obrolan yang keluar dari mulut keduanya. Erick hanya diam karena Jovan tak mengajaknya berbicara. Sedangkan Jovan, ia tidak tau harus mengatakan apa. Dirinya benar-benar canggung untuk membuka obrolan.
"Udah sampe, gua duluan ya Jov" ucap Erick yang membuat Jovan tersentak kaget.
"O-oh iya, Rick" saking sibuk dengan pikirannya, Jovan sampai menyadari kalau mereka kini sudah berdiri di depan kelas Erick.
Satu tangan Erick menepuk pelan bahu Jovan. "Jangan ngelamun" tegurnya.
"Iyaiya. Yaudah, kalau gitu gua ke kelas ya"
"Mm"
****
See you!