
Ara meremat jari-jarinya yang saling bertaut. Mengulum bibir bawahnya berulang kali. Aldre melirik sang kekasih yang terlihat tidak biasa, gadis itu seolah gelisah akan sesuatu.
"Ada apa? Kenapa gelisah seperti itu?" Tanya Aldre penasaran.
Ara menggigit bibir dalamnya spontan, sedikit terkejut dengan pertanyaan Aldre. Matanya bergerak acak demi menghindari tatapan sang kekasih.
"Sayang.." Tegur Aldre.
"Bo-boleh gak, aku tanya sesuatu?" Ara akhirnya membuka suaranya setelah terdiam cukup lama.
"Sure. Tanyakan apapun yang ingin kamu tau, sayang" jawab Aldre lembut.
"Sebenarnya-- apa yang terjadi, Al? Kenapa papah kembali ke markas besarnya? Padahal papah sudah berhenti"
Sejenak Aldre terdiam, tidak menyangka kekasihnya ini akan mengatahuinya secepat itu.
"Kita ke apartmentku. Kita bicara disana" balas Aldre. Tangannya langsung menarik lengan Ara untuk keluar dari kedai eskrim.
Sesampainya diApartment.
"Ka Leo kemana?" Kepala Ara menoleh kesegala arah, mencari keberadaan Leo yang biasanya selalu mengikuti kemanapun kekasihnya pergi.
"Ada misi dari ka Devan, tapi lusa dia udah balik"
"Ouuhh"
Aldre kembali menarik lengan Ara untuk duduk disofa. "Aku akan menjelasakan semuanya sama kamu. Tapi apapun yang terjadi kedepannya, aku mau kamu percaya sama aku" ucap Aldre penuh keyakinan.
Ara mengangguk, "iya, Al"
"Kamu tau cerita tentang The Cruel'd?"
Kepala Ara meneleng kesamping, ekspresinya bingung seperti tidak asing dengan nama yang Aldre sebutkan.
"Ka Justin" ucap Aldre lagi. Ara ingat sekarang, The Cruel'd kelompok mafia yang beberapa tahun lalu pernah dihancurkan kaka iparnya itu.
Ara mengangguk kencang. "Ka Justin menghancurkannya karena dia tidak ingin lagi terjebak dalam kelompok itu. Tapi sekarang.... Aku pemimpinya, Ra"
Ara terdiam, "hah?"
"Seseorang datang padaku, memberikan sebuah kalung, dan berkata bahwa aku adalah yang terpilih. Dia bilang, jika aku menerimanya, maka aku bisa menuntaskam segala dendamku dengan mudah"
"Tapi bukankah seharusnya tidak ada lagi yang tersisa dari mereka?" Tanya Ara tak mengerti. Harusnya mereka semua sudah mati.
"Seharusnya seperti itu. Tapi ketika ka Justin meminpin, dia tidak memiliki kalung itu, Ra. The Cruel'd tidak bisa dihancurkan selama kalung itu masih ada"
"Lalu dimana kalung itu?"
"Ka Justin. Kalung itu memiliki kekuatan magic, sama seperti pedang milik ka Bella. Kamu ingat kalung yang ka Justin berikan padaku di pesta ulang tahun The Triples?"
"Apa itu kalungnya?" Tebak Ara. Aldre mengangguk. "Aku berusaha menjauhkan kalung itu dari ka Justin, tapi sayangnya kalung itu tau siapa pemiliknya"
"Tapi, Al-- kenapa ka Justin tidak memiliki kalung itu ketika dia memimpin?"
"Itu karena kalungnya sudah dimusnahkan, Ra. Tapi sayangnya, orang yang memusnahkan kalung itu tidak tau jika keturunan orang yang menciptakan The Cruel'd masih hidup. Dan orang itu yang memberikan kalung itu padaku"
Ara masih tidak mengerti apa yang terjadi, kerutan didahinya semakin dalam. Lantas apa hubungannya dengan sang papah?
"Lalu, hubungannya dengan papah?"
Aldre menarik nafas panjang sebelum kembali melanjutkan ceritanya.
"Itu karena ka Devan"
"Ka Devan? Kenapa dengannya?"
"Ka Devan adalah orang yang memusnahkan kalung itu 10 tahun sebelum ka Justin memimpin, sekaligus yang membunuh pencipta The Cruel'd!"
"Keturunannya, Maso namanya. Memilihku agar aku membantunya untuk membalas dendam. Dia ingin aku menyerahkan alat balas dendam yang sudah lama diincarnya, untuk menghancurkan ka Devan. Itu tujuannya memilihku"
"Alat balas dendam?"
"Kakak iparku, Ra. Kevin Aldebaran!"
Shock! Ara benar-benar shock sekarang. Ini jauh diluar ekspetasinya. Sekarang dirinya mengerti kenapa sang papah sampai harus turun tangan, dan benar apa yang didengarnya semalam. Karena hal ini melibatkan kaka sulungnya.
"Kenapa-- kenapa ka Justin menghancurkan-- pasti ada hal lain kan?"
"Syarat yang ka Devan berikan ketika ka Justin datang padanya untuk meminta restu untuk menikahi ka Bella. Ka Devan sangat membenci mereka, Ra"
"Bagaimana cara menghancurkan kalung itu?"
"Aku tidak tau, Ra. Aku belum sempat bertemu ka Bella untuk menanyakannya"
Ara menatap kekasihnya dengan mata berkaca-kaca. "Semua ini tidak akan selesai dengan mudah kan, Al? Aku tidak mau kehilangan siapapun dari kalian"
Air mata gadis itu menetes. Tidak bisa lagi membendung kesedihannya. Ara tau ini bukanlah hal kecil, jika papahnya sampi turun tangan bukankah artinya akan ada banyak hal yang harus dikorbankan?
"Maafkan aku, Ra. Maafkan kebodohanku"
Ara menggeleng, ia tidak tau siaa yang harus ia salahkan. Aldre, ka Devan, ka Justin, atau dirinya sendiri yang menjadi alasan Aldre melakukan semua ini.
.
.
Setelah pembicaraan panjang keduanya, akhirnya Ara dan Aldre memutuskn untuk datang kemansion sang kaka, Isabella.
"Apa kalian baru saja kerasukan?" Aldre mendengus mendengar penyambutan dari sang pemilik mansion terbesar di Los Angeles ini.
"Aku baru selesai diruqiah sebenarnya!" Jawab Aldre ketus.
Isabella tertawa geli. "Aku ingin terkejut, tapi aku tau kau pasti akan datang kesini, Aldre"
"Kau memang si paling tau segalanya"
"Duduklah, aku akan buatkan minum untuk kalian"
"Apa tidak ada pelayan?" Tanya Ara.
"Ada. Tapi jika meminta pelayan, kaka tidak bisa memasukkan sianida keminuman kekasihmu" goda Isabella.
"Kakaaa" rengek Ara.
Sepuluh menit kemudian Isabella kembali dengan dua gelas jus mangga ditangannya.
"Dimana ka Justin?" Tanya Aldre. "Ruang kerjanya. Sudah beberapa hari dia tidak masuk kantor" jawab Isabella.
"Ouh, ada tamu rupanya" panjang umur, baru ditanyakan lelaki itu sudah muncul.
Aldre menatap Justin lekat, lebih tepatnya pada sesuatu yang menggantung dileher lelaki itu.
"Kemana liontinnya?" Aldre tidak merubah sedikitpun arah pandangnya.
Isabella menunjuk tepat keatas kepalanya. Aldre dan Ara kompak mendongak. Diatas sana, tepat dilangit-lagit mansion, Blood of Phoenix melayang bebas diudara.
"Lalu?"
"Liontin itu tidak akan berani menampakkan dirinya, Al. Pedangku adalah tanda bahaya untuknya" jelas Isabella.
"Itu artinya pedang kaka bisa menghancurkan kalung itu, kan?" Tanya Ara.
Isabella menggeleng. "Tidak! Dia hanya mengunci energi kalung itu"
"Papah....."
"Kaka menunggu perintah dari papah"
"Apa kita akan...."
"Berdoalah. Doamu akan menjadi pelindung bagi kami"
"Pasti"
.....
T B C?
BYE!