Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 22. KEBENARAN (REVISI)



Aldre mengerang kesal, dia sedang mengerjakan laporannya, tapi suara bel apartment nya terus mengusik konsentrasinya. "Aishh, akan ku hajar siapapun yang menggangguku. " ucapnya kesal.


Lelaki itu membuka pintu dengan kesal, tangannya siap melayangkan tinju. Tapi pergerakannya terhenti begitu mengetahui siapa yang bertamu. "Carissa.... "


Dengan secepat kilat, lelaki itu merengkuh tubuh sahabatnya. Carissa terkekeh, "santai dong Al. " ledeknya. Aldre melepaskan pelukannya, menatapnya tajam. "Kemana aja kamu hah? " sungutnya.


Carissa memukul wajah lelaki itu dengan tas indahnya, membuat si empu mengerang kesakitan. "Minggir ah, aku haus. "


"Hehh! Gak sopan. "


"Kenapa tinggal di Apart? " Tanya Carissa begitu masuk kedalam. Matanya menelisik keseluruh penjuru.


"Mau cari suasana baru aja. "


"Suasana baru apa, kalau warnanya butek begini. "


"Hehh, aku ini cowok gak mungkin masang mejikuhibiniu disini. Jangan ngadi-ngadi deh. " Aldre berseru sewot.


"Cihhh sok ganteng! "


"Heh, balik lagi lu sono ke Melbourne. "


"Hehehe, emosi bwangg. "


Aldre berjalan kearah dapur, membuka pintu kulkas mengambil sekaleng cola darisana. "Laper Al "


"Gak gak, bukan restoran. "


"Pelit banget najis. "


"Bodo amat. "


Carissa melemparkan tasnya ke sofa, melepaskan jaket, heels, dan menggelung rambutnya asal. Melangkah kearah kulkas, mendorong kasar tubuh Aldre kesmping. "Minggir! "


"Heh mau ngapain? "


"Berisik!! "


Carissa mengeluarkan semua bahan yang ada didalam kulkas meletakkan diatas pantry. Mengambil pisau dan talenan. Menyiapkan bahan satu persatu tanpa menghiraukan si pemilik apart yang menatap kesal kearahnya.


"Ini kalo Sin pulang kelar nih Apartment gua."


.


Sudah hampir setengah jam dan Carissa masih bergelut dengan pekerjaannya, gadis itu sudah menyiapkan tiga masakan berbeda, entah apalagi yang tengah dibuatnya saat ini.


"Banyak banget, lu mau bikin pesta? " Protes Aldre. Bisa dia pastikan bahan - bahan dikulkasnya habis tak bersisa.


"Bawel lo ah, tinggal makan juga. Ribet! "


"Dih! "


Aldre menatap bosan gadis itu yang masih mengacaukan dapurnya. Cacing diperutnya sudah bergelut minta diberi makan, tapi Carissa sama sekali tidak mengijinkannya menyentuh apapun. Aroma masakan mengunggah selera. Tangannya bergerak diam-diam mengangkat sendok, dengan perlahan menyendok sup cream, dan menuntun masuk kedalam mulutnya.


"Emmm..." Erangan nikmat keluar dari bibir merahnya.


"Aldre!!! " Carissa menatap kesal sahabatnya. Tangannya meraih talenan, bersiap memukul kepala lelaki itu.


"Ahhh, bodo amat laper gua. "


Prakk


"Aohhhh. "


"Diem gak! Gak boleh makan sebelum aku selesai! "


"Haishhhh. "


.


Selama bertahun-tahun dia menyusun ulang rencananya, dengan matang, dan tepat. Dia akan bergerak dengan hati-hati namun cepat, karena dia jelas tau bahwa dirinya diawasi begitu ketat. Dia bahkan tidak bisa keluar dari rumah dengan bebas.


Rencana kali ini harus berhasil, tidak boleh gagal seperti sebelumnya. Kesabarannya harus membuahkan hasil yang memuaskan.


.


"Boss, keponakan kaka ipar anda masih berusaha mencari tahu. "


Aldre menatap sebentar pesan masuk yang dikirimkan anak buahnya. Matanya melirik Carissa yang tengah mencuci peralatan yang dipakainya tadi.


"Apa kau akan menginap Car? "


Carissa mendengus, melirik sinis lelaki itu. "Yang benar saja bodoh, kau ingin aku digantung ka Jason, hah? " sahutnya sewot.


"Hahahaha. "


"Hah, baiklah aku sudah selesai, ayo antar aku pulang. "


"Jihhh, kau kesini cuma numpang makan? " Tanya Aldre tidak percaya. Dengan polos dan senyum menyebalkannya, Carissa menganggukan kepalanya.


"Gadis ini benar-benar. " meski begitu Aldre tetap mengambil kunci mobilnya didalam kmar dan mengantarkan sahabatnya itu pulang.


.


Di dalam mobil


"Kapan Sin akan pulang? " Aldre bertanya pada Carissa yang tengah sibuk dengan ponselnya. Carissa mendongak, menghembuskan nafas lambat. "Aku tidak tau Al, seminggu sebelum aku kembali, Sin memutuskan kontak denganku. Dia mendadak tidak bisa dihubungi "


Aldre mengernyitkan dahi, "kau bertengkar dengannya? " Carissa menggeleng. "Tidak, kami aku sempat berselisih paham dengannya soal Ara"


"Kenapa? "


"Sin tidak mau kita kembali berteman dengan Ara, dia bilang kesalahan Ara tidak seharusnya dimaafkan " Aldre terkejut, bagaimana bisa Sin berfikir seperti itu?


"Tapi aku fikir dia mengatakan itu karena dia cemburu? "


"Cemburu?


"Kami tau kau menyukai Ara, Al! Kami tau itu sejak awal. Tapi apakah kamu tau kalau Sin menyukaimu? " Aldre kembali terkejut. Sin? Menyukainya?


Aldre terdiam, pikirannya berkelana kebanyak hal. Lelaki itu menepikan mobilnya dipinggir jalan. "Sejak kapan? " tanyanya lirih. "Sejak kita kecil "


"Apakah kamu akan membenci Sin? " Tanya Carissa hati - hati.


"Kenapa aku harus membencinya? "


"Sin yang membawa Thomas untuk mendekati Ara " Carissa memilih untuk mengatakan apa yang dia tau selama ini. "A-apa? "


"Dia ingin Ara menjauh darimu "


"Al, maafkan aku karena merahasiakan ini darimu. I really sorry " Carissa sungguh diliputi rasa bersalah. harusnya dia mengatakan hal ini sejak awal, kenangan buruk 6 tahun lalu tidak akan pernah terjadi.


"Aku akan mengantarmu sampai rumah "


.....


"Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan." - Fiersa Besari


.....


T B C?


Bye!