
"Berantem terus. Heran banget" remaja 14 tahun itu mencibir tingkah konyol kaka kembarnya.
Pasalnya, remaja laki-laki yang 15 menit lebih tua darinya itu baru saja beberapa hari berbaikan dengan sang kekasih, tapi kini justru sudah kembali bertengkar sampai kekasihnya menolak untuk bertemu.
Jovan tidak akan heran apa penyebab keduanya kembali bertengkar, karena kakanya itu memang sangat menyebalkan. Terkadang dirinya bahkan ingin sekali meninju wajah datar sang kaka.
Kekehan geli meluncur bebas dari bibir Jeno. "Kenapa? Gabut ya deketin anak kecil? Dasar pedofil" balas Jeno dengan ekspresi menyebalkan.
"Anjing!" umpat Jovan.
"BUNDAAAAA JOVAN NGOMONG ANJING!" Teriak Jeno lantang. Dengan sengaja mengadukan sang adik yang keceplosan berbicara kasar.
Jovan jelas panik mendengar teriakan sang kaka. Anak itu langsung berlari ke sisi lain taman, mencari tempat persembunyian.
"Kaka biadab" serunya kesal.
"Hahahaha"
"JOVAN!!!" Isabella datang dengan wajah garang. Membawa sebuah sendok sayur di tangan kanannya dan apron yang menempel pada tubuhnya.
"Mana adik mu?" Tanyanya pada Jeno yang masih tertawa.
"Tuh" tunjuj Jeno pada sebuah kendi besar tak jauh dari tempatnya duduk.
Isabella berjalan dengan langkah cepat ke arah kendi yang Jeno tunjuk.
Tung!!
Dengan ringan, melayangkan ciuman kasih sayang lewat sendok sayur yang di bawanya ke kepala Jovan.
"Aduh bundaaaa" ringis Jovan. "Awas kalau bunda denger kamu bicara kasar lagi. Kamu tidur sama Haybie!!" Omelnya. Lalu kembali masuk ke dalam rumah melanjutkan acara masaknya yang terjeda.
Jeno tertawa kencang. Begitu bahagia melihat raut kesakitan adiknya. Bocah itu bahkan sampai bertepuk tangan dengan heboh.
"Emang biadab!" Umpat Jovan.
"Kkkkk"
*
"Di tolak terus. Lucu banget kalau ngambek"
Sejak beberapa menit yang lalu, Jeno sama sekali tidak berhenti menatap layar ponselnya. Bolak-balik menempelkan ponselnya ke telinga, berusaha menghubungi seseorang yang sayangnya selalu di tolak.
Namun sepertinya Jeno sama sekali tidak berniat untuk menyerah. Meski harus menunggu beberapa saat agar seseorang di seberang sana mau menjawab telpom darinya.
Senyum lebar Jeno tertarik begitu panggilannya di jawab. Tidak sia-sia ia terus meneror orang itu.
"Erick" panggil Jeno pada sosok di seberang sana.
"Rick?" Panggilnya lagi setelah dirinya tak mendapatkan jawaban.
"Hm" jawaban singkat dan ketus Jeno dapatkan.
"Kenapa panggilan ku di tolak terus?" Tanya Jeno lembut.
"Ganggu" Erick menjawab dengan nada ketus.
"Kamu dimana? Kenapa gak mau ikut Harena nginep di rumah aku?" Tanya Jeno lagi.
"Terserah gua" jawab Erick malas.
"Rick. Jawab yang bener" tegur Jeno.
"Bodo amat"
"Kamu dimana?"
"Kepo bener lu Jenol"
"Aku serius, sayang. Aku kangen loh sama kamu"
"Bodo ah. Ganggu tau gak"
"Jawab aku kamu dimana?" tanya Jeno lagi.
"Mang napa sih?"
"Aku kangen loh. Emang kamu gak kangen aku, hm?" tutur Jeno manja.
Erick bergidik geli mendengar suara Jeno yang terdengar manja. "Gak!"
"Y"
"Yaudah gak apa-apa. Tapi sekarang jawab aku, kamu dimana?"
"Gak mau. Udah jangan ganggu dan jangan nelpon terus"
"Aku gak akan berhenti sebelum kamu kasih tau aku dimana kamu sekarang" desak Jeno.
"Gak tau ih. Paman Aldre yang ngajak" ucap Erick kesal.
"Nyalain mapsnya" pinta Jeno.
"Ogah." jelas Erick akan menolak. Dirinya tidak ingin mengambil resiko Jeno akan nekat menyusul nya.
"Rick."
"Bodo amat"
Erick mematikan sambungan telponnya sepihak membuat Jeno menghembuskan nafas berat.
"Ngambek mulu kerjaannya" gumamnya gemas.
**
Valerie berlari cepat menuruni tangga, membuat Jesslyn yang mengikutinya di belakang menjadi kewalahan. Gadis cantik itu terus berteriak memanggil sang adik agar tidak berlari, khawatir adik kecilnya akan terjatuh.
Namun Valerie tidak menghiraukan teriakan sang kaka. Gadis kecil itu terlalu excited untuk bertemu sahabatnya yang baru saja sampai.
"Valerieeee jangan berlari!!" Teriak Jesslyn untun yang kesekian kalinya. Kewalahan mengejar sang adik yang berlari seperti cheetah.
HAP!!
Dengan sigap Jeven menangkap tubuh kecil Valerie yang hendak berlari melewatinya. Mengangkat tubuh Valerie ke dalam gendongannya.
"Kenapa lari-lari kaya gitu hm?" tegur Jeven. Valerie terkikik kecil.
"Kamu buat ka Jesslyn kewalahan ngejar kamu, tau?" ucap Jeven lagi. Kepala mungil itu mengangguk singkat sebagai jawaban.
Jesslyn berhenti tepat di hadapan sang abang. Tubuhnya membungkuk dengan nafas terengah, juga keringat yang mengalir deras dari keningnya.
Jeven menatap geli sang adik yang terlihat berantakan. "Cape?"
Jesslyn melayangkan tatapan kesalnya, pertanyaan abangnya sama sekali tidak bermutu. "Bodoh" jawabnya ketus.
"Hahaha"
"Valerie, Harena nya udah dateng sayang" seruan Isabella yang memanggil Valerie terdengar dari arah pintu masuk.
"Harenaaaa" seru Valerie riang sambil melompat turun dari gendongan Jeven.
"Pantes dia lari-lari kaya gitu" gumam Jeven.
"Nyesel aku bilangin. Capek tau gak ngejar dia" keluh Jesslyn sambil mengelap keringatnya dengan punggung tangan.
"Kasiannn"
"Ish abang"
"Hahaha"
*
"Harena" panggil Valerie. Harena menoleh, tersenyum manis begitu mendapati sosok sahabatnya berjalan menghampiri.
Jovan mendengus sebal. Jika sudah ada sang adik, tidak ada kesempatan baginya untuk bermain dengan Harena. Padahal ia sudah berniat akan menculik Harena dan membawa gadis kecil itu ke kamarnya.
"Ck, udah muncul aja ini bocah" gerutunya sebal.
Isabella menatap sang putra heran, tingkah Jovan sudah persis seperti pedofil yang menyukai anak di bawah umur. "Kau seperti pedofil"
"Berarti ayah juga pedofil" balas Jovan kalem.
"Sembarangan" Isabella mendelik tak terima. Ya memang sih, jarak usia Jovan dan Harena sama dengan dirinya dan sang suami.
***
Cerita baru, judul akan menyusul ya