Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
128 | LAXO DAN FARTHUR



"Brengsek! Dia mengeluarkan'nya' "


"Revan sialan!"


Revan menyeringai lebar. "It's over!" Desisnya dingin.


****


"Apa maksudmu Revano?! Tidak seperti ini peraturan kita!!" Farthur berteriak keras, giginya saling bergemelutuk menahan panik.


"Aku sedang tidak ingin bermain-main saat ini, akan aku akhiri semuanya sekarang!!" Ujar Revan dingin.


"Sialan! Jika begini aku tidak sudi melawannya" Laxo bersiap untuk kabur, namun sayangnya Farthur lebih dulu menahan lengannya. Enak saja bajingan itu ingin meninggalkan dia sendiri! Tidak akan dia biarkan itu terjadi.


"Kau mau kemana sialan?! Kau bisa keluarkan tongkatmu!" Seru Farthur dengan keras.


Laxo hampir saja berniat menghantamkan revolver miliknya ke wajah bodoh mantan sahabatnya itu.


"Kau tidak liat apa yang ada didepan wajahnya? Bagaimana bisa aku mengalahkannya bodoh?!!" Balas Laxo kesal.


"Meso sialan!!" Umpat mereka berbarengan.


Meso yang berdiri paling depan terlihat bodoh dengan ekspresinya yang melotot tidak percaya dengan pemandangan yang didapatnya. Menakjubkan... Ini sangat menakjubkan...


Dirinya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa dengan keberuntungan yang indah ini, ia bisa melihat pedang mengagumkan itu secara langsung.


DARK OF PHOENIX, pedang hitam legam dengan ukiran Phoenix berwarna merah diseluruh bagian pedangnya. Pasangan dari BLOOD OF PHOENIX milik Isabella. Pedang hitam itu hampir tidak pernah Revan keluarkan, biasanya Revan hanya akan mengeluarkan jika dirinya tengah menghindari pertarungan besar yang memakan waktu lama. Atau lebih tepatnya, menyingkat waktu pertarungan. Seperti saat ini contohnya.


Tapi saat ini justru terpampang nyata dihadapannya. "Pedang itu harus menjadi milikku!" Gumaman ambisius yang keluar dari mulut Meso membuat Laxo dan Farthur bergidik ngeri. Pria tua ini lebih dari tolol ternyata!


"Sinting!"


"Jauh lebih baik jika kita pergi dari sini sekarang juga" usul Laxo.


Laxo dan Farthur dengan kompak memberikan kode pada anak buah mereka untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.


"Kalian mau kemana?" Devan mencegat keduanya yang hendak melarikan diri.


Farthur mengumpat kasar ketika dirinya hampir saja menabrak Devan. "Aiishh!"


"Minggir kau!!"


"No way"


"Sialan Devan! Aku tidak mau berurusan dengan papahmu yang sedang menggila!" Laxo menjerit. Tangan kekarnya mendorong tubuh Devan menjauh dari jalannya.


Devan tertawa, memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. "Bukankah sudah lama? Apa kalian tidak ingin menikmati pertunjukan yang menarik?" Goda Devan.


Laxo dan Farthur saling pandang. Perkataan Devan ada benarnya juga, sudah sangat lama mereka tidak melihat hal ini lagi. Sangat disayangkan jika tidak menonton, tapi... Bagaimana jika mereka juga menjadi sasaran?


"Apa kau bisa menjamin jika kami tidak menjadi sasaran serangannya?" Farthur menatap penuh antisipasi pria yang lebih muda darinya itu.


"Of course" balas Devan santai.


Kedua pemimpin mafia yang sudah tua itu saling pandang sesaat, memutuskan apakah mereka akan tetap disini atau pergi dan menyelamatkan diri.


"Aku tidak percaya dengan bocah ini" tunjuk Laxo menatap Devan waspada. Ayah dan anak tidak ada yang bisa dipercaya.


"Aku lebih tidak percaya padamu, Laxo" gurau Farthur.


"Memang manusia bajingan kau!"


"Kkkkkk"


Dua orang tua dihadapannya ini cukup menghibur bagi Devan, mereka tidak seperti kebanyakan musuh yang biasanya hanya saling melempar omong kosong dan kata-kata sampah sebelum berakhir dengan pertarungan. Tapi kedua pria tua ini justru sebaliknya, mereka justru terlihat lebih mirip sebagai teman nongkrong yang saling melempar umpatan cinta.


'Sebetulnya waktu muda papahmu itu seperti apa? Kenapa memiliki musuh seperti ini?' Batin Devan penasaran.


"Kenapa bocah ini melamun?" Suara keras Farthur menyadarkan Devan dari lamunan singkatnya. "Kenapa kau bocah? Kau tidak kerasukan penunggu tempat ini bukan?"


"Aaaaa kiyowoooooo" serunya heboh dengan masa berbinar kearah putra sulung musuh abadinya itu.


Laxo dan Devan kompak mengernyit heran. "Apa yang kiyowo dari manusia setengah tua sepertinya, bodoh?" Seru Laxo aneh.


"Tidak ada. Aku hanya ingin berteriak" jawab Farthur santai dengan wajah datar.


"Manusia gendeng!"


Devan menepuk pelan keningnya, kepalanya terasa pening hanya dengan melihat tingkah dua manusia tua dihadapannya ini.


'Pantas papah senang menggoda mereka, benar-benar tidak waras ternyata'


SRAKK..


Suara ayunan pedang yang menyayat sesuatu mengalihkan perhatian ketiganya. Disana ditengah-tengah lapangan, Revan baru saja melayangkan ayunan pedangnya pada seorang pria tua yang Laxo kenal sebelumnya menghina Jovan.


"Dibalas mutlak" gumamnya santai.


"Dia yang menghina putra kembar Justin Scander sebelumnya bukan?" Tanya Farthur. "Ya, it's him" jawab Laxo.


Devan menelengkan kepalanya kekana. "Menghina?"


"Aku menceritakan tentang keponakanmu itu pada mereka, tapi pria tua itu menghinanya dan mengatakan bahwa keponakanmu hanyalah bocah ingusan yang tidak bisa apapun" ucap Laxo menjelaskan.


"Tolol!"


"Ya memang"


Disisi lain.


Jovan menatap takjub grandpanya, dirinya juga ingin seperti itu. "Grandpa hebat sekali" pujinya penuh kekaguman.


"Paman tau kau kagum pada grandpamu, nak. Tapi ini bukan waktunya untuk bengong" teriakan Saka menyadarkan Jovan dari lamunannya.


"Ahh paman, mengganggu khayalan indahku"


"Hehehe, dibelakangmu bocah!!"


Jovan berbalik dengan cepat, melemparkar pisau ditangannya pada musuh yang menyelinap dibelakangnya. Pisau miliknya menancap tepat didada musuh.


"Tidak sia-sia aku berlatih keras" ujarnya bangga.


"Ya, tapi kau terlalu banyak bicara" sahut Saka lagi.


Jovan menatap datar sahabat bundanya itu. "Ingatkan aku untuk menendang pantat paman setelah ini"


"Kkkkkk. Emosian! Dasar anaknya Justin Scander"


"Bicara seperti itu didepan ayah, paman"


"Wkwkwkwk"


Mereka kembali bertarung, Jovan mengejar Meso yang berlari menjauh ke bagian belakang mansion miliknya.


Meso terus berlari menjauh, dirinya harus menyelamatkan diri dan segera kabu ke markas utama. Dengan begitu dia mengalahkan Revan dan mendapatkan pedang indah itu.


Revan menyerang dengan membabi buta, menghabisi setiap musuh yang mendekat kearahnya. Tubuhnya penuh dengan darah, tapi pedang miliknya tetap bersih seolah baru saja dikeluarkan dari sarungnya.


"Paman benar-benar mengerikan" Saka bergidik ngeri. Padahal lelaki itu sudah sering melihat Isabella seperti ini, tapi sensasinya tetap saja berbeda.


"Dimana Jovan?"


......


T B C?


BYE!