
Geo, Jeno dan Erick kini berada di pasar kaget. Seperti biasa Erick akan selalu memilih tempat dimana banyak jajanan jalanan berjejer sebagai tempat kencannya dengan Jeno.
Keduanya tengah duduk di salah satu kursi panjang yang tersedia, sedangkan Geo bocah itu memilih menghabiskan makanan miliknya sambil berkeliling.
Erick memperhatikan Geo yang kini tengah berdiri di salah satu stand jajanan Jepang.
"Wajah Geo kelihatan cerah tapi kelihatan masam juga" gumam Erick yang masih bisa di dengar oleh Jeno.
"Dia abis ketemu kakek dan neneknya di chicago" jawab Jeno. Kepala Erick menoleh cepat pada kekasihnya wajahnya menampilkan ekpresi terkejut. "Sungguh?"
Jeno mengangguk. "Tapi kenapa wajahnya masam?" tanya Erick lagi. "Ketemu abang di rumah"
"Ishh ngapain si abang pulang?"
"Iya itukan rumahnya sayang"
"Ya iya sih, tapi kan harusnya gak usah pulang kalau ada Geo"
"Aku aja gak tau abang pulang, tiba-tiba dia udah duduk di meja makan. Pasti kabur lagi tuh dari daddy nya"
Tawa geli Erick meluncur begitu saja. "Kkkkk. Kenapa abang seneng banget kabur ya?"
"Daddy tuh mafia, jelas beliau pasti tegas banget apalagi abang pewaris satu-satunya. Kalau bunda kan jelas gak, karena ayah gak mau bunda mendidik kami seperti grandpa mendidiknya. Mangkannya kadang abang gak betah di rumah daddy dan sering banget kabur kaya gini"
"Ngomong-ngomong kenapa ayah kayanya sensi banget kalau bunda masih bergelut di dunia mafia?"
"Itu karena bunda pernah kehilangan arah yang buat ayah hampir kehilangan bunda" bukan Jeno melainkan Geo yang menjawab pertanyaan Erick.
"Duduk disitu yu, gua abis nyewa karpet tadi" Geo menunjuk sebuah karpet yang terbentang di bawah pohon rindang. Ketiganya pun berpindah tempat, tak lagi terkena panasnya sinar matahari.
"Jadi?"
"Papah sama daddy pernah cerita kalau dulu bunda tuh serem banget. Taukan panggilan Queen yang tersemat di namanya?"
Erick dan Jeno mengangguk. Jujur saja Jeno tak mengetahui banyak hal tentang kehidupan bawah tanah sang bunda karena ayahnya tak pernah ingin membahas hal itu.
"Panggilan Queen itu bukan cuma sekedar panggilan, posisi bunda jauh lebih tinggi dari grandpa yang juga punya panggilan King.
Papah bilang bunda gak seperti grandpa yang masih bisa mendengarkan orang lain dan menurut. Bunda gak pernah patuh pada apapun dan siapapun, gak ada satu orang pun yang bisa bikin beliau benar-benar tunduk dan patuh"
Geo menjeda kalimatnya, menyesap minuman dingin yang sempat ia beli tadi untuk menetralkan tenggorakan nya yang sedikit kering. Sedangkan Jeno dan Erick menunggu dengan sabar kelanjutan cerita tersebut.
"Hubungan bunda sama ayah tuh gak seindah dan seharmonis sekarang, banyak lika-likunya apalagi dari keluarga ayah yang dulu gak pernah setuju sama bunda.
Ayah adalah alasan utama bunda malangkah terlalu jauh dan alasan yang membuat bunda nyaris kehilangan dirinya sendiri.
Daddy bilang bunda punya banyak jalan untuk lepas dari dunia bawah, tapi bunda ngancurin sendiri semua jalan yang dia punya, karena bagi bunda hidupnya yang nyata ya ada di dunia bawah"
"Tapi kenapa? Kenapa bunda sampai sejauh itu?" Tanya Erick.
Geo menggeleng. "Papah dan daddy gak menceritakan dengan detail. Tapi yang jelas bunda punya masalah besar yang buat dia punya traumatis yang gak main-main sama keluarga Scander dan Alexander"
"Apa karena itu bunda sampai masih menjaga jarak pada mereka? Bahkan menjaga kami dari keluarga ayah?" Perlahan Jeno mulai menemukan alasan sang bunda melarangnya dan saudara-saudaranya untuk tidak terlalu sering berkunjung ke rumah keluarga besar sang ayah.
Geo mengangguk membenarkan. "Ayah membuat perjanjian dengan bunda yang akhirnya membuat bunda perlahan mau melepaskan genggamannya pada dunia bawah"
"Apa itu?"
"Apa pun yang terjadi antara dirinya dan bunda sebesar apa pun masalahnya, ayah gak boleh melibatkan keluarganya. Dan secara gak langsung sebenarnya bunda meminta ayah untuk melepaskan keluarganya demi bunda sendiri.
Dan bunda berjanji tidak akan memperkenalkan dunia bawah tanahnya pada kalian anak-anak nya. Itu perjanjian mereka"
Wajah Jeno berubah sedih setelah mendengar cerita Geo. Dirinya ingin tau seberapa besar masalah yang dihadapi kedua orang tuanya sampai sang bunda bisa sepertu itu.
"Cartesy, The Ace, dan Phoenix adalah saksi kegilaan bunda dulu" seolah tau apa yang dipikirkan sahabatnya Geo kembali berucap.
"Apa menurutmu Jovan akan melampaui bunda?" Erick menatap sang kekasih lekat. "Aku tidak tau" jawab Jeno ragu.
"Aku rasa tidak. Aku memang tidak ada saat kejadian itu, tapi aku tau apa yang terjadi pada Jovan. Selama Jovan masih punya rasa takut dia gak akan bisa melampaui bunda.
Gak ada yang bisa menandingi otak licik bunda selama ini. Apalagi beliau cenayang, akan sangat sulit melawannya meski bunda sudah jarang terjun langsung ke dunia bawah. Di tambah bunda gak takut apapun selain tuhan"
Sepanjang sisa hari itu Jeno benar-benar hanya melamun, otaknya penuh dengan kedua orang tuanya. Siapa yang bisa ia tanyakan tentang hal ini, rasa penasarannya membuncah setelah mendengar cerita dari Geo.
Geo menatap sahabatnya khawatir, dirinya jadi menyesal menceritakan hal itu pada Jeno. "Harusnya tadi gua gak usah cerita. Hadehhh"
"Ayah bener-bener nutup rapat hal ini ya" Erick juga ikut tidak tega melihat kekasihnya seperti ini.
"Sumber informasi yang tepat tuh cuma papah sama paman Javin. Karena cuma mereka berdua yang paling tau dan paham bagaimana perjalanan ayah dan bunda dulu"
"Itu dia masalahnya. Sumber utama ke khawatiran ayah tuh sebenernya bukan Jovan tapi Jeno. Soalnya Jeno punya ambisi yang sama kaya bunda"
"Menurut kamu Jeno pernah tertarik gak sih sama dunianya bunda?"
"Jeno tuh mirip banget sama ayah, kalau dia tertarik sama sesuatu dia bakalan ngelakuin apapun untuk dapatin hal itu. Walaupun gak pernah ngomong, tapi aku tau Jeno tuh sebenarnya tertarik sama dunianya bunda. Jadi kamu harus hati-hati sama dia. Karena papah selalu bilang kalau Jeno tuh replika kedua orang tuanya apalagi dia anak pertama, kadang aku ngerasa kalau Jeno tuh lagi nungguin waktu yang tepat untuk menunjukkan sesuatu"
Penjelasan Geo kembali membuat Erick tersadar kalau terkadang Jeno suka menunjukkan dominasinya di waktu-waktu tertentu. Dan itu benar-benar bikin dia 100x lipat lebih seram dari biasanya.
Geo perlahan berjalan mendekati Jeno, menepuk pelan pundak sahabatnya. "Ayo balik, udah mau sore" serunya. Jeno mengangguk singkat tanpa menjawab lalu berjalan lebih dulu menuju mobil miliknya.
***
Kepala Isabella meneleng kecil ke sisi kanan, merasa heran dengan putra sulungnya yang sejak pulang berkencan hanya terdiam tanpa suara.
"Geo gak ikut lagi kesini?" tanyanya membuka suara. Jeno menggeleng tanpa jawaban membuat Isabella semakin heran.
Bahkan Jesslyn dan Jovan pun merasa bingung dengan sikap sang kaka.
"Ada apa? Sejak tadi kamu hanya melamun dan diam"
Cukup lama Isabella menunggu jawaban keluar dari mulut Jeno sampai akhirnya Jeno membuka suaranya. Tapi bukan sebuah jawaban yang Isabella dapatkan, tapi justru pertanyaan yang lain.
"Kenapa-- kenapa ayah ngelarang bunda datang ke Phoenix? Kenapa bunda gak boleh ikut campur dalam pelatihan Jovan nanti?"
Jeno mengalihkan pandangannya menatap sang bunda. Isabella terkesiap dengan pertanyaan yang putra sulungnya itu lontarkan.
Kepalanya menoleh kebelakang, lebih tepatnya ke arah anak tangga takut-takut jika sang suami tiba-tiba muncul dari sana.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?"
"Jawab saja bunda"
"Karena ayah ingin bunda berhenti, ayah hanya ingin kita hidup dengan damai"
"you're lying"
"Jeno"
"Apa karena masa lalu kalian yang buruk?"
"Darimana kamu mendengar itu?"
"Apa yang keluarga ayah lakukan sampai membuat bunda nyaris kehilangan diri bunda sendiri?"
"Jen--"
"Tutup mulut mu Jeno!! Masuk ke kamar mu sekarang!!" suara Justin terdengar dari arah tangga. Isabella bisa melihat sang suami yang berdiri dengan sorot tajam yang tertuju pada Jeno.
"Jadi cerita itu benar ya?" Jeno mendengus sinis, membalas tatapan sang ayah dengan sorot menantang.
"Siapa yang memberitau mu?"
"Tidak penting. Jauh lebih baik jika ayah menjawab pertanyaan ku!"
"Sudah berani melawan ayah rupanya hah?!"
Sorot mata dan ekspresi Jeno berubah dingin yang kembali membuat Isabella terkesiap karena Isabella sangat mengenali sorot mata itu.
"Beritahu aku kenapa aku harus takut pada ayah?"
"Jangan buat ayah menggagalkan keberangkatan mu, Jeno!"
"Lakukan saja jika ayah bisa. Aku bukan Jovan dan abang yang bisa ayah tekan! because we are not the same!"
Tanpa mengatakan apapun lagi Jeno berlalu pergi menuju kamarnya, melewati sang ayah begitu saja.
"Kembalilah ke kamar kalian" perintah Isabella pada kedua anaknya yang lain.
Justin mengalihkan tatapan tajamnya pada sang istri. "Akan ku habisi sahabatmu jika cerita itu berasal darinya!"
"Boo...."
****
See you!