
"Sin? " panggil Carissa.
"Ya"
"Bagian aku mana? "
"Coba kamu buka dompet ka Jason, terus cari kartu bentuk kotak warnanya item. Nah itu bagian kamu" jawab Sin enteng
Carissa kembali tertawa "Ok ok, thanks infonya" matanya menatap pasrah waja sang kaka.
"Sama-sama" sahut Sin. "Car... "
"Mm? "
"Pengen cokelat kocok"
"Bodo amat ya. Emangnya muka gua keliatan kaya cokelat kocok! "
"Aaaaaa cokelat kocok huaaaaa"
"Aisssh anak ini" dengus Darren. "Udah-udah mendingan lu beliin sekarang dah Dar. Kesian tuh dua suster, sawan entar" timpal Steven.
"Masalahnya gua abis ngirimin dia makanan, gak boleh ngirim lagi, tunggu besok" kesal Darren.
Sin masih dengan aksi merengeknya, Carissa yang mendengar hanya memutar bola matanya malas.
"Selamat siang" seruan seseorang yang baru saja masuk kedalam ruang rawat Carissa mengalihkan atensi semua orang.
Aldre datang dengan sebuah bucket bunga cukup besar ditangannya. Lelaki tampan itu hanya sendiri, tidak ada sang kekasih disampingnya.
"Aldre.." Panggil Carissa halus.
Sin yang mendengar suara Aldre terdiam, dengan cepat gadis itu langsung mematikan panggilannya.
Darren melihat ponselnya, panggilannya sudah berakhir. Sedikit melirik Carissa yang juga melirik kearahnya.
"Kau sendiri, Al? " Tanya Isabella mengambil alih situasi.
Aldre melirik sebentar calon kaka iparnya. "Mm. Ara sedang ada klient jadi tidak bisa ikut kesini"
"Klient? Apa Ara bekerja diperusahaan? " Tanya Carissa bingung. Isabella menggeleng, "Ara punya EO, sayang"
"Ouhh? Benarkah? Wahhhh, keren"
"Kau selalu terkejut dengan banyak hal, putri kecil" timpal Galih. Carissa menampilkan cengiran khasnya, "heheehehe"
"Ka Bella. Boleh Al tau siapa pendonor untuk Carissa? " kali ini Aldre menatap langsung kedua mata Isabella.
Isabella memang belum mengatakan pada siapapun tentang pendonor untuk Carissa, kecuali para orang tua dan tim dokternya. Juga Ana yang menjadi bagian dari timnya.
Isabella menatap santai kedua netra cokelat yang sama persis dengan milik Galih, yang sepertinya mencoba mengintimidasinya.
"Bukankah sudah aku katakan bahwa si pendonor tidak ingin identitasnya diketahui!" ujar Isabella santai. Sama sekali tidak terganggu dengan tatapan lelaki yang lebih muda darinya.
"Ka Bella! Bukankah lebih bagus jika kami tau" tekan Aldre.
"Informasi pasien, adalah hal penting yang harus kami jaga, Aldre! Kau akan tau siapa pendonornya jika sudah waktunya! "
"Jadi jangan mengorek informasi apapun, dari siapapun! "
Setelah mengatakan hal itu, Isabella berlalu kelaur dari sana. Ia tidak bisa berada satu ruangan dengan kekasih adik bungsunya itu, karena sepertinya Aldre masih menyimpan dendam padanya.
Galih menatap sang adik, begitupun Kevin yang menatap tajam adik iparnya.
"Jangan berbicara seperti itu padanya, Al! Kaka tau masih kesal. Tapi tidak pantas kau memperlakukannya seperti itu. Bagaimanapun, dia melupakan kesalahanmu pada Ara!" nasehat Galih.
Aldre menunduk. "I'm sorry" ucapnya pelan.
"Not for us, but for her! Kau harus belajar mengontrol emosimu sebelum meminang putri seseorang" ujar Kevin tajam.
"Aku akan berusaha"
"Sudah-sudah, lebih baik kita makan siang dulu. Ayo" ajak Jason melerai keadaan.
"Baiklah"
Aldre mendekat pada sahabatnya. Meletakkan bunga yang ia bawa di dalam vas berukuran cukup besar.
"Kenapa berbicara seperti itu pada ka Bella? " Carissa bertanya pelan.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu" jawab Aldre. Lidahnya terjulur, menjilat bibir bawahnya yang terasa kering.
"Memastikan apa? "
"Thomas. Apakah benar ia pendonor mu atau bukan? Ia tidak dimakamkan seperti Roxy, Car" jelas Aldre.
Carissa tertegun. Benarkah itu? Apa yang dikatakan sahabatnya, apakah itu benar? Sejak kejadian itu, ia memang tidak pernah lagi mendengar tentang kedua orang itu. Carissa hanya fokus pada Sin.
"Kau tau kenapa Sin tidak dihukum mati seperti mereka? "
Carissa kembali mengalihkan atensinya pada Aldre. "Kenapa? "
"Aku tidak tau apa yang Roxy berikan padanya. Tapi Sin berada dibawah kendali lelaki itu. Apapun yang dikatakan Roxy, Sin akan mengiyakan. Dan kesadarannya akan kembali hanya ketika dia mendengar namaku, atau sesuatu tentangku" jelas Aldre lagi.
"Berarti video yang kamu kirimkan itu? "
"Ya. Roxy baru menyuntikan kembali obat itu pada Sin"
"Saat ka Bella bertanya, Sin mengatakan bahwa ia sadar, tapi tidak bisa melawan Roxy. But, ia tidak perduli dengan Roxy yang menyentuh tubuhnya, karena ini bukan yang pertama baginya"
"Kehidupannya di spanyol sangat lah bebas, Car. Dia bahkan hampir terjerat narkoba"
Mendadak Carissa merasakan sesak didadanya. Seburuk itu, seburuk itu kehidupan sahabatnya. Tapi ia tidak pernah mengetahuinya. Sin menyembunyikannya begitu baik dari siapapun.
"Darimana kamu mengetahuinya semua ini, Al? " tanya Carissa sedih. Nafasnya tercekat, matanya berkaca-kaca.
"Aku memantaunya, memantaumu, dan Ara. Aku tau apa yang terjadi pada kalian selama 6 tahun ini"
"Meski begitu, aku tidak bisa memaafkan kesalahan Sin begitu saja. Aku tidak berniat mengibarkan bendera perang padanya, karena aku tau dia juga merasa bersalah atas apa yang dia lakukan. Tapi... "
Aldre menjeda ucapannya,menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. "Ketika aku mengetahui dia bergabung dengan Roxy, amarahku meledak. Yang ada dipikiranku hanya ingin menghancurkan mereka, membalas 6 tahunku, yang terbuang sia-sia"
Air mata Carissa menetes. Mengigit bibirnya untuk menahan isakannya. "Apa kamu memaafkan Sin, Al? "
"Jika dia benar-benar ingin berubah... Aku akan memaafkannya" jawab Aldre mantab.
Dibalik pintu. Ara yang mendengarkan seluruh percakapan kekasih dan sahabatnya tersenyum haru. Hatinya merasa lega, seolah kembali seperti apa yang ia rasakan dulu.
'Akhirnya, kamu meaafkan Sin, Al. Setelah ini kita bisa kembali bersama' batin Ara bahagia.
Ara mendorong pintu dengan pelan, tidak ingin mengganggu keduanya yang sedah meluapkan kesedihan dan kebahagiaan mereka.
Tangannya merogoh ponselnya yang berada didalam tas. Diam-diam mengabadikan moment yang menurutnya sangat menggemaskan ini.
Setelah selesai, Ara tersenyum puas melihat hasil foto yang didapatnya. "Bagus" bangganya.
"Bagus? Bagus banget ya? "
Ara mengangguk setuju. "Iya, bagus bang-- hehehehe" Ara mendongak, seketika merasa gugup mendapati tatapan tajam Carissa dan Aldre.
"Kamu bilang ada Client, hm? " desis Aldre pelan.
"Aaaahahaha, Clientnya cuma ngecek persiapan gaunnya aja, abis itu pulang" cicit Ara.
Aldre memandang kekasihnya datar, membuat Ara menjadi panik. Sedangkan Carissa, dengan pelan merubah posisinya menjadi berbaring lalu memejamkan kedua matanya.
"Tidur ah, waktunya bobo siang" serunya.
.....
T B C?
BYE!