
Perkataan kaka iparnya semalam, terus terngiang dikepala Carissa. Gadis itu bahkan tidak tidur dengan tenang. Tidak mungkin kan jika wanita itu hanya membual? Ka Sena tidak akan berani berbohong apalagi dihadapan kakanya, Jason.
Sepertinya dia memang harus memastikan sesuatu. Carissa meraih ponselnya, mencari nomor sahabat kakanya, Galih. Dia harus memastikan hal ini adalah benar.
Gadis itu kembali meletakkan ponselnya begitu selesai mengirim pesan. Tidak butuh waktu lama, Galih sudah membalas pesannya.
'Kita bertemu diluar, akan kaka kirim alamatnya.'
Dengan cepat Carissa masuk ke ruang ganti, berganti pakaian. Carissa meraih ponselnya diatas kasur, berjalan keluar kamar dengan langkah terburu-buru.
"Kamu mau kemana sayang? " Tanya David, lelaki itu terkejut melihat sang adik turun dari tangga dengan berlari.
"Aku mau keluar sebentar ya ka, tolong bilangin mamih. " jawab Carissa cepat.
"Mau kaka antar? "
"Tidak, tidak usah. Aku akan bawa mobil sendiri. Aku pergi dulu, Bye ka!! "
"Hati-hati. "
"OK. "
.
Galih dan Kevin tiba di sebuah restoran perancis, kedua pasangan itu keluar dari mobil dan melangkah masuk kedalam.
"Apa yang ingin Carissa bicarakan? Bukankah dia baru kembali? " Tanya Kevin pada sang istri. Galih mengedikkan bahunya, "entahlah, mungkin tentang Aldre. "
Setelah memesan makanan, yang ditunggu akhirnya tiba. Galih tersentak, cukup terkejut melihat perubahan gadis itu.
"Ka Galih! "
Galih tersenyum, merentangkan kedua tangannya yang langsung disambut hangat oleh Carissa. "Hai, sweet. Apa kabar hm? "
"Aku baik ka. Hai ka Kevin, bagaimana kabar kalian? "
"Sangat baik, kau banyak berubah hm! " ucap Kevin.
Carissa tertawa kecil, "ya, aku melakukan perawatan rutin agar lebih cantik dari sebelumnya. " candanya.
"Apa Aldre tau kau sudah pulang? " Tanya Galih, pasalnya dia tidak mendengar kabar apapun dari sang adik. "Entahlah, mungkin belum. "
"Baiklah, jadi apa yang ingin kamu bicarakan? "
"Aku-- ingin bertanya soal Ara. "
"Ahh, Sena sudah menceritakannya padamu? "
Carissa mengangguk. "Jadi itu benar? "
"Iya, itu benar. "
Pembicaraan mereka terhenti sejenak, karena pelayan yang mengantarkan makanan. Kevin bergumam terimakasih pada pelayan tersebut. Mereka kembali melanjutkan pembicaraan.
"Tidak sayang, Aldre tidak tau. "
"Apa kau masih marah pada Ara? "
Carissa terdiam, mengulum bibirnya. "Aku tidak tahu, tapi yang jelas aku tidak membencinya. "
Tangan kanan Kevin terjulur, mengusap lembut rambut gadis itu. "Kami mengerti, kami juga marah sama sepertimu dan Sin. Tapi kondisinya saat ini membuat kami harus berhati-hati mengambil tindakan. " jelas Kevin.
"Berapa--berapa yang ada ditubuhnya ka? " mata Carissa mulai berkaca-kaca.
"Dua yang kaka temui! Tapi Masev bilang bahwa ada satu lagi didalam tubuhnya. Masev mengatakan bahwa 'dia' yang paling berbahaya, tapi dia ragu apakah sosok itu bisa dikendalikan. "
Masev adalah alter ego milik Galih selain Erick. Sosok anak kecil berusia 10 tahun, dia lebih menyeramkan dari Erick, meski manis dan lucu. Penuh kehati-hatian dan sangat peka terhadap sesuatu. Intuisinya tidak pernah salah, dia selalu tau apa yang terjadi disekitarnya.
Tangis gadis itu pecah, tidak percaya bahwa sahabatnya bisa sampai seperti ini. Ini semua diluar dugaannya.
"Salah satu tersangka bilang, sebelum kejadian itu, Ara sudah berada dibawah tekanan mereka. Dia disiksa dan dipaksa melakukan perintah mereka. Beberapa hari sebelum kejadian itu, dia melihat temannya mati dan Ara disana dengan tubuh berlumuran darah. " kali ini Kevin menjelaskan.
"Bukankah Aldre harus tau ka? Dia salah paham! "
"Tidak mudah untuk berbicara dengannya sekarang Carissa. Anak itu selalu menghindar dari kami, dan kami tidak bisa bergerak tanpa izin Isabella. "
Galih menatap sang suami heran, kenpa harus meminta izin dengan sahabatnya? "Apa maksud kaka? Kenapa harus meminta izin Isabella? "
"Aldre melakukan sesuatu diluar dugaan kita, love. Kita tidak bisa salah langkah untuk bertindak. "
"Aku tidak mengerti. "
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, tapi yang jelas dia sudah melangkah terlalu jauh, langkahnya hampir menyamai Isabella dulu. "
Galih terdiam, dia dengan jelas mengerti apa maksud suaminya itu. Sedangkan Carissa hanya menatap kedua orang dihadapannya bingung.
"Apa Ara bisa sembuh ka? "
"DID tidak bisa disembuhkan sayang. Tapi tidak akan menjadi masalah jika Ara bisa mengontrol mereka dengan baik. Dia harus lebih kuat dari mereka, atau dia akan kalah. " Galih berucap dengan tenang.
"Aku ingin bertemu ka Bella, aku ingin bicara dengannya. "
"Tenangkan dirimu dulu, baru setelah itu kau bisa menemuinya. "
Pembicaraan mereka diakhiri dengan nostalgia, sedikit melupakan apa yang baru saja mereka bicarakan.
T B C?
BYE!