
Sebelum mengantar sang kekasih sampai ke rumah. Aldre menyempatkan diri untuk membawa gadisnya pergi berkeliling di Chinatown. Sebagai penutup kencan mereka hari itu.
Bisa Aldre liat, senyum yang sejak tadi pagi terus terpatri diwajah manis Ara. Bahkan ketika makan malam spesial yang sengaja dirinya siapkan. Senyuman Ara membuat dessert yang dimakannya seolah tidak memiliki rasa manis. Karena senyuman gadis itu menarik seluruh rasa manis disekitarnya.
"Kenapa sih ngeliatin aku terus?" Ara mengedipkan matanya polos.
"Aku diabetes, Ra" Ara melotot mendengar perkataan kekasihnya. "Kok bisa Al?!" Serunya panik.
"Kamu senyum terus dari tadi. Aku mau tuntut kamu karena udah bikin aku diabetes"
Wajah panik yang semula hadir di wajah manis Ara kini lenyap karena gombalan receh lelaki didepannya. Ara menatap datar kekasihnya.
"Hahaha, lucu!" Ucapnya sarkas.
Ara kembali melanjutkan makannya yang tertunda, memilih mengabaikan sang kekasih yang masih asik memandanginya.
Makan malam mereka telah selesai, kini keduanya memutuskn untuk berkeliling sebentar.
"Ra..."
"Hm" Ara menoleh merasa namanya dipanggil. Kedua netra birunya langsung bersirobok dengan netra cokelat milik Aldre.
"Makasih ya, karena kamu udah mau nerima aku" ucap Aldre lembut.
Ara kembali tersenyum. "Bukannya seharusnya aku yang berterimakasih? Kamu mau maafin aku dan nerima aku"
"Kamu segalanya bagi aku, Ra. Aku akan melakukan apapun untuk membuat kamu bahagia"
"Al...."
"Aku tidak pernah mencintai siapapun sedalam ini. Tidak pernah menginginkan siapapun seperti aku menginginkan kamu"
"Jangan pernah tinggalin aku ya, Ra. Jangan pernah tinggalin aku lagi seperti dulu. Aku sayang sama kamu, sayang banget sampe rasanya aku mau mati waktu kamu lebih memilih orang lain daripada aku"
"Kamu mau kan janji sama aku?"
Mata Ara berkaca-kaca. Dengan cepat Ara berhambur memeluk tubuh tegap Aldre erat. Terisak kuat didada kekasihnya.
Aldre membalas pelukan Ara tak kalah erat. Bibirnya berkali-kali mengecup puncak kepala gadisnya. "Jangan nangis, sayang" bisiknya lembut.
Ara mengangkat wajahnya yang masih berderai air mata. "Aku gak bisa janji apapun sama kamu karena aku takut gak bisa nepatinnya. Tapi aku akan berusaha agar kesalahanku dulu tidak terulang kembali"
"Kamu mau bantu aku kan?"
Aldre mengangguk cepat. "Pasti, sayang
Cupp
Kaki Ara berjinjit, kedua tangannya yang semula melingkar dipinggang Aldre kini berpindah ke leher. Meraih kepala kekasihnya untuk sedikit menunduk. Memberikan ciuman yang dalam.
Tindakan Ara cukup membuat Aldre terkejut, tapi tidak berusaha menghentikan gadis itu sama sekali.
Aldre mengambil alih ciuman mereka. Menginvasi setiap inci bibir ranum kekasihnya. Tidak ada nafsu yang mereka bawa dalam ciuman ini, hanya ingin menyalurkan perasaan mereka satu sama lain.
Setelah satu menit, keduanya melepaskan tautan mereka. Bibir Aldre beralih pada kening Ara, tapi gadis itu menghindar, membuat Aldre menatapnya bingung.
"Ini belom selesai, Al" ucap Ara.
Sedetik kemudian gadis itu meraih tangan sang kekasih dan menyeretnya menunu parkiran. Ia ingin melanjutkan kegiatan mereka tadi.
Begitu tiba di mobil, Ara meraih ponselnya, menghubungi sang papah guna meminta izin untuk menginap di apartment Aldre. Setelah mendapat izin, ia kembali memasukkan ponselnya kedalam tas.
Di Apartment Aldre
"Kenapa kamu mau nginep?" Tanya Aldre bingung.
Ara meraih sang kekasih untuk duduk disofa bersamanya. "Aku mau lanjutin yang tadi"
"Ra!" Tegur Aldre.
Ara menggeleng cepat. "Enggak Al, just kissing" ucap Ara cepat.
Aldre terkekeh geli, kekasihnya ini maniac juga ternyata. "Anything for you love"
Begitu Aldre menjatuhkan tubuhnya ke sofa, Ara dengan sigap naik kepangkuan lelaki itu. Membuat bagian bawah dress yang dikenakannya tersingkap dan memperlihatkan sebagian pahanya.
"Pelan-pelan, sayang"
Tanpa menjawab perkataan kekasihnya, Ara langsung menyambar bibir Aldre. ********** sedikit kasar.
Beberapa kali gadis itu menggigit bibir bawah Aldre, agar kekasihnya itu mau membalasnya. Tapi Aldre tidak bergeming sedikitpun, masih setia dengan keterdiamannya.
Ara melepas kasar tautan bibir mereka. Menatap kesal Aldre yang tersenyum menggodanya.
"Aldrreeee"
"Apa sayang?" Suara sexy yang Aldre keluarkan membuat tubuh Ara meremang.
"Kenapa hanya diam?" Rengek Ara kesal.
"Terus kamu mau aku gimana hm?"
"Balas aku!"
"Aku tidak suka jika didominasi, aku lebih suka mendominasi" Aldre berucap tepat didepan bibir ranum Ara yang masih basah.
Mata lelaki itu menggelap, menandakan birahinya yang mulai naik.
"Kenapa gak kamu lakukan sejak tadi?" Tanya Ara gugup. "Aku ingin membiarkan kamu puas, sayang"
"Aku sudah puas, Al"
Aldre menyeringai, tangannya naik mengusap lembut paha putih kekasihnya yang tereskpos. Memiringkan kepalanya kembali menyatukan tautan mereka yang terlepas.
Sepertinya Aldre tidak akan bisa menepati perkataannya untuk tidak kembali menyentuh sang kekasih. Ia akan siap menerima hukuman apapun setelah ini, karena melanggar perkataannya.
Pasalnya, saat ini kedua tangan Ara bergerak naik turun dibalik kaus yang Aldre kenakan. Mengusap sensual dada bidang kekasihnya.
Aldre menggeram, memperdalam ciuman mereka. Melahap habis setiap sisi bibir ranum favoritenya.
Pukulan kecil didadanya Aldre rasakan, membuat ia dengan terpaksa melepaskan tautan mereka. Nafas Ara terengah, kedua bibirnya membengkak.
"I can't handle it, Ra! I want you"
"Just do it, Al"
Ara menjerit kecil begitu Aldre menggendong tubuhnya. Berjalan menuju kamar yang terletak dilantai dua.
Begitu sampau didepan pintu kamar, Aldre mendobrak pintu dengan kakinya. Membawa sang kekasih masuk kedalam, kemudain kembali menendang pintu dengan kakinya.
Aldre meletakkan tubuh Ara diatas meja kerja dikamarnya. Kembali memagut benda kenyal yang masih membengkan itu. Ara melenguh merasakan tangan Aldre meremas bagian belakang tubuhnya.
Tidak ingin memperlambat waktu, Aldre kembali mengangkat tubuh Ara, membantingnya sedikit kasar keatas ranjang. Lelaki itu kemudian melepaskan kaus dan celana yang dikenakannya.
Merangkak naik ketempat tidur, melepaskan dress yang masih melekat ditubuh mungil Ara.
Aldre mendekatkan kepalanya ke leher jenjang kekasihnya, memberikan tanda kepemilikan disana.
Setelahnya hanya terdengar suara erangan dan ******* dari bibir mereka.
.
Pukul empat pagi, kedua insan yang sedang dimabuk asmara baru saja selesai memadu kasih. Kini tubuh mereka hanya berbalut selimut tanpa apapun dibaliknya.
"Aku ngelanggar janji aku, Ra" ucap Aldre. Tersirat rasa khawatir dalam suaranya.
Ara tersenyum, kembali mengecup pipi kekasihnya. "Gak, Al. Lagian aku yang mau. Aku bisa aja ngehentiin kamu, tapi aku gak ngelakuin itu"
"Maafin aku ya"
"Gak apa-apa, Al. I love you"
"I love you too. Nah, let's sleep"
Keduanya terpejam, masuk kedalam alam mimpi mereka yang hampir terlambat untuk dikunjungi.
.....
"Tuhan mengizinkan kita untuk mengalami titik-titik terendah dalam hidup untuk mengajari kita pelajaran yang tidak dapat kita pelajari dengan cara lain." - C.S. Lewis
.....
T B C?
BYE!