Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
142 | TWINS



Semua orang masih menunggu didepan ruang operasi, tidak satupun dari mereka enggan untuk beranjak dari sana walau hanya untuk membeli segelas air. Kondisi Aldre sudah jauh lebih baik setelah berhasil mengendalikan dirinya.


Rasa cemas, takut, semuanya bercampur menjadi satu. Tidak berhenti setiap untaian doa yang diucapkan dalam hati.


Rasa cemas itu hilang saat telinga mereka menangkap dua tangisan bayi yang saling bersahutan begitu keras. Tak lama dari itu dua orang suster keluar dengan sebuah buntalan selimut dimasing-masing tangan mereka. Berlari sedikit cepat menuju ruangan bayi.


Semua orang bangkit, tersentak dengan kejadian cepat yang terjadi dihadapan mereka. Aldre reflek berlari mengikuti para suster yang dirinya yakini membawa kedua anaknya menuju ruang bayi.


"Al--" Daniel baru hendak berlari menyusul adiknya, namun gerakannya terhenti saat sang istri keluar dari ruang operasi.


"Ana? Bagaimana keadaan Ara?" Revan menjadi yang pertama maju. Bertanya tentang keadaan sang putri.


"Kondisinya jauh lebih baik sekarang. Ara berhasil melewati masa kritisnya dan pendarahannya berhasil dihentikan" jelas Ana tersenyum simpul.


"Bagaimana Ara bisa pendarahan Ana?" Tanya Charles.


"Kemungkinan Ara terjatuh dan membuat perutnya terbentur sesuatu dengan cukup keras. Itu membuat bayinya terpaksa lahir premature karena akan sangat berbahaya jika tidak langsung dikeluarkan" jelas Ana. "Dan-- sepertinya ka Charles tidak sadar jika baju ka Charles penuh dengan darah" Ana menunjuk bagian depan baju Charles yang penuh dengan warna merah.


Charles menunduk, melihat bajunya yang penuh dengan darah. Ia tidak menyadarinya karena terlalu fokus pada keadaan sang adik.


"Ganti pakaianmu Charles" ucap Sofia.


"Iya mah. Beritau Charles jika Ara sudah sadar" ucapnya lalu pamit pergi untuk pulang.


"Apa kami bisa melihatnya?" Tanya Riyani. "Tentu ibu. Tapi tunggu sampai dia dipindahkan keruang rawat. Tubuhnya masih dibersihkan saat ini"


"Baiklah"


Aldre terus berlari mengkuti para suster yang membawa anak-anaknya. Sampai tiba disebuah ruangan yang penuh dengan bayi-bayi mungil yang masih merah.


"Maaf tuan, anda tidak boleh masuk" ucap seorang suster yang tengah berjaga diruangan tersebut.


Aldre yang hendak masuk terhenti seketika. "Tapi sus, anak saya--"


"Saya mengerti kekhawatiran anda. Tapi biarkan kami yang menanganinya, anda bisa percayakan pada kamu" suster tersebut terseyum maklum. 'Ayah muda rupanya' pikirnya.


"Bolehkan saya melihat dari sini?" Tanya Aldre. Suara terdengar penuh harap.


"Tentu. Asalkan anda tidak mencoba untuk masuk kedalam"


"Terimakasih sus"


"Sama-sama"


Dari balik kaca luar, Aldre bisa melihat kedua anaknya yang dimasukkan kedalam tabung kaca yang berbeda. Jika dirinya tidak salah, itu adalah sebuah incubator. Yang digunakan untuk menghangatkan bayi yang umumnya memiliki kondisi rentan. Biasanya digunakan pada bayi-bayi yang baru sembuh dari penyakit atau bayi yang lahir secara premature.


Tanpa sadar air mata Aldre menetes saat bisa melihat kelahiran buah hatinya, meski dirinya tidak bisa menemani sang kekasih selama proses melahirkan. Rasa bahagia membuncah dalam hatinya, yang tidak bisa Aldre ungkapkan dengan apapun.


'Begini rasanya menjadi ayah ternyata' ucap batinnya dengan bahagia.


"Apa anda tuan Aldre?" Salah satu suster yang Aldre ketahui sebelumnya membawa salah satu anaknya mendekat.


"Iya sus saya Aldre" jawab Aldre cepat.


"Apa anda sudah memiliki nama untuk bayi anda? Jika belum kami akan menamainya atas nama anda dan nona Ara"


Aldre tersentak diam, dia tidak pernah memikirkan nama bayi sebelumnya. Aldre menggeleng pelan membuat suster tersenyum maklum.


"Baiklah tidak apa-apa. Apa anda ingin saya menulisnya atas nama anda atau nona Ara?"


"Atas nama istri saya saja sus"


"Baiklah kalau begitu. Setelah nona Ara dipindahkan, anda bisa melihat bayi-bayi anda diruang rawat istri anda karena kami akan memindahkannya kesana setelah memastikan kondisinya tetap stabil. Dokter Bella meminta agar mereka dalam satu ruangan" jelas sang suster.


Aldre mengangguk. "Terimakasih sus"


"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi untuk masuk kedalam lagi"


"Silahkan"


Aldre baru ingat satu hal setelah suster tadi beberapa kali menyebut nama Ara. Ia lupa melihat kondisi Ara karena terlalu khawatir pada kedua anaknya. Ia akan melihatnya setelah anaknya dipindahkan nanti, karena saat ini Aldre enggan beranjak dari sana. Dirinya tidak ingin meninggalkan kedua anaknya walau hanya sedetik.


*


"Dimana Aldre?" Tanya Isabella setelah Ara dipindahkan keruang rawat.


"Aldre punya anak kembar" seru Rayyan dengan nada penuh kebahagiaan. Mimpinya ingin memiliki anak kembar justru diwujudkan kedua putranya.


Sebelumnya Galih juga memiliki anak kembar, namun sayangnya salah satunya tidak bisa bertahan lebih dari empat bulan. Geano namanya, kaka kembar Keano yang meninggal saat usia 4 bulan karena organ bagian dalamnya yang tidak berkembang dengan baik. Dan sekarang kembali diwujudkan oleh Aldre. Semoga kedua cucunya dapat selamat kali ini.


"Tiga sebenarnya. Tapi yang terakhir berhenti berkembang diusia kandungan Ara lima bulan"


"Triplets.."


"Setidaknya Ara dan kedua bayinya baik-baik saja saat ini. Kehamilan kembar memang selalu beresiko, dan kita harus siap dengan segala resikonya" ucap Sofia menenangkan.


Sebagai seorang ibu yang empat kali melahirkan anak kembar, Sofia sangat paham bagaimana harus menjaga kandungannya dengan baik. Dirinya bahkan tidak berani beranjak dari ranjang jika tidak ada sang suami.


"Kapan Ara akan sadar?" Tanya Dion.


"Tidak menentu. Tunggu sampai efek biusnya menghilang. Saat ini biarkan Ara beristirahat terlebih dahulu, dan pastikan Aldre ada disini saat Ara sadar" Jawab Isabella. Dion mengangguk paham.


"Suamimu sudah dihubungi princess?" Kali ini Revan bertanya tentang menantunya yang baru saja pulih.


"Sudah. Dia akan datang setelah rapatnya selesai"


"Baiklah"


"Si workaholic itu memang tidak bisa diam ya. Padahal sedang sakit" ujar Dion dengan nada mengejek.


"Ceramahi dia jika kau bisa" balas Isabella ketus.


"Itulah kenapa Justin bisa menduduki tahta raja bisnis Amerika. Memangnya kau? Tidak jelas" timpal Rayyan mengikuti gaya bicara Dion sebelumnya.


"Aahhh ayahhh" Dion merengek tak terima.


*


"Al.." Panggil Carissa pelan.


Aldre menoleh, mendapati sahabatnya berdiri tak jauh dari posisinya. "Hai" sapanya lembut.


"Kamu sudah keluar?"


"Mm. Kamu kok tau aku disini?"


"Tadi ketemu ka Daniel didepan, dia bilang kamu diruangan bayi. Kadi aku kesini"


"Gimana kontrolnya?"


"Bagus. Jauh lebih baik dari sebelumnya"


"Syukurlah. Ara?"


"Aku belum lihat keadaannya. Aku langsing lari kesini saat anakku dibawa keluar"


"Mm. Ka Daniel bilang Ara sudah dipindahkan"


"Mereka juga akan dipindahkan sebentar lagi, setelah pemeriksaannya selesai"


"Mereka?"


"you have twin nephews now, Car"


Mata Carissa berkaca-kaca, kemudian ikut mendekatkan dirinya pada kaca. "where? Where are they?"


Aldre menunjuk dua inkubator yang berada dipaling ujung. "those are your two nephews" ucap Aldre halus.


Carissa tersenyum haru, air mata bahagianya mengalir deras. "Sin... Keponakan kita kembar" gumamnya lirih.


Aldre menarik Carissa kedalam pelukannya dengan erat. Menyalurkan rasa bahagia yang melingkupi hati mereka.


.....


T b c?


Bye!