
Seminggu berlalu....
Jovan, Brian, dan Virzan. Ketiganya akan berangkat menuju Jerman hari ini, menyusul Jeno dan Geo yang sudah berangkat lebih dulu. Dan bersamaan dengan itu, Keano pun akan berangkat menuju Korea. Bocah manis itu memutuskan untuk melanjutkan studinya di Korea, negara kelahiran sang papa.
"Kalian hati-hati ya, jangan nakal. Dan patuhi aturan sekolah. Mengerti?" ucap Sofia memberikan nasihat pada ke empat cucunya.
"Mengerti, Grandma" jawab ke empatnya kompak.
"Erick, kemari sayang, sampaikan salam mu pada sahabat-sahabat mu" Sofia menoleh ke belakang, memanggil Erick untuk mendekat.
Erick maju perlahan, berhadapan dengan ke empat sahabatnya yang akan meninggalkannya hari ini.
"Hati-hati. Jaga diri dan jaga kesehatan kalian" ucapnya tenang.
"Erick... Maaf tidak bisa menemani mu" Keano menatap saudaranya itu sendu.
"Tidak apa. Pendidikan kalian lebih penting, aku akan baik-baik saja di sini" balas Erick tenang.
"Tunggu kami kembali ya" timpal Virzan.
"Emm, kami akan kembali dengan cepat" sahut Brian.
"Jangan pergi kemana-mana. Aku akan mencari mu kemana pun jika kau pergi tanpa memberitahu kami" seru Jovan dengan ekspresi seriusnya.
"Aku akan berusaha" ujar Erick tenang.
Erick merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, meminta ke empat sahabatnya untuk memeluknya. Kelima remaja 15 tahun itu saling berpelukan erat, meluapkan segala rasa sedih mereka. Pelukan ini akan sangat mereka rindukan untuk beberapa tahun ke depan.
Waktu keberangkatan tiba, kelimanya melepaskan pelukan mereka. Jovan, Brian, Virzan, dan Keano berjalan bersamaan menuju pintu keberangkatan setelah mengucapkan salam perpisahan. Meninggalkan Erick sendirian yang masih setia di tempatnya berdiri.
"Kita pulang" ajak Sofia. Erick mengangguk, berbalik berjalan mendekat menuju kedua orang tuanya.
Di mobil, pandangan Erick terfokus pada jalanan yang di lewatinya. Ia dan keluarganya tidak akan pulang ke rumah mereka, tapi akan pulang ke Washington. Karena rencananya, Erick akan berangkat esok hari dari sana.
"Mamah sudah membereskan pakaian mu. Kamu yakin tidak ingin berpamitan?" tanya Ana sekali lagi meyakinkan sang putra.
Erick mengalihkan pandangannya pada sang mamah. "Tidak mah. Erick akan tetap pada keputusan Erick"
"Baiklah" jawab Ana pasrah.
Daniel meraih tangan sang istri, memberinya kekuatan bahwa semua akan baik-baik saja. Ana hanya bisa tersenyum ke arah sang suami. Apa pun itu, Ana tau ini adalah jalan terbaik.
***
Jerman, 15.30 pm
"Kapan mereka tiba?"
"Besok pagi"
"Tidak perlu di jemput lah. Malas sekali, lagian mereka bukan anak-anak"
"Aku tidak akan menolong jika Jovan menghantam wajah mu dengan palu"
"Sialan! Ingatkan aku untuk pasang alarm nanti"
"Pecundang"
"Diam kau!! Seperti kau berani saja dengan adik mu itu!"
"I don't think so"
***
Esok hari, Washington, 08.00am
"Sudah siap?" tanya Daniel pada sang putra. Erick mengangguk penuh semangat.
"Sangat siap"
Kedua tangan besar itu mengelus lembut wajah yang serupa miliknya. Matanya menatap sendu kedua netra yang serupa milik sang istri. Dalam hati, ada perasaan tak rela saat harus melepas putra satu-satunya pergi ke negara orang meski untuk mengejar masa depannya.
"Pah..." seolah mengerti kekhawatiran sang papah, Erick memanggil dengan lembut.
"Hati-hati. Mulai sekarang kamu akan jauh dari papah dan mamah. Tidak ada yang menemani mu, ingat untuk selalu memberi tahu kami ya?"
"Pasti. Erick tidak akan ingkar janji"
"Baiklah. Ayo kita berangkat"
Setibanya di bandara, mereka langsung berjalan menuju ruang tunggu setelah melakukan pemeriksaan. Karena pesawat yang akan Erick naiki belum tiba.
Erick memeluk tas ransel miliknya dengan erat, di sebelahnya Daniel duduk sambil merangkul erat pundak sang putra, dan di sisi lain ada Ana dan Harena yang duduk di pangkuan sang mamah.
"Erick" panggil sebuah suara tak asing. Panggilan itu membuat keempatnya kompak menoleh ke sumber suara.
Disana, tidak jauh dari tempat mereka duduk. Bola mata Erick melebar begitu melihat siapa yang baru saja memanggilnya.
"Paman Justin..."
Ya, Justin adalah orang yang baru saja memanggil Erick. Pria itu tak sendiri, tapi ada sang istri yang berdiri di sebelahnya.
"Kau mau kemana Erick?" tanya Isabella dengan senyum manis yang terpatri di wajahnya.
Erick menatap sang papah penuh tanya, yang di balas gelengan oleh Daniel.
"Bibi bertanya pada mu, Erick" ucap Isabella lagi.
"Erick-- Erick mau sekolah, bibi" jawab Erick gugup.
"Sekolah? Kenapa tidak pamit?"
Erick menundukan kepalanya dalam. "M-maaf"
"Tidak perlu. Bibi mengerti"
"Kenaa ka Bella dan ka Justin di sini?" tanya Daniel.
"Tentu saja mengantar calon menantu ku, Daniel" bukan Isabella yang menjawab, melainkan Justin.
"Hah?"
"Putra ku sudah menitipkan pujaan hatinya pada kami, bagaimana mungkin kami tidak menjaganya"
"Paman...." lirih Erick.
"Pergilah jika kamu ingin pergi, tapi jangan lupa kembali. Paman tidak akan bertanggung jawab jika anak itu mengacaukan seisi dunia untuk mencari mu"
"Tapi...."
"Kami tidak pernah menentukan pilihan untuk setiap keputusan yang mereka ambil, Erick. Mereka bebas melakukan apa pun yang ingin mereka lakukan. Tapi sebagai putra sulung, Erick pasti mengerti posisinya. Iya kan?" ungkap Isabella mengambil duduk di hadapan anak remaja yang menjadi pujaan hati sang putra.
"Erick mengerti"
"Sejujurnya, bibi juga tidak pernah menurutmu ucapan grandpa dan opah. Kami berdua, sama-sama pembangkang dan tidak suka di atur. Kamu boleh tanya papah dan mamah mu seberapa gilanya bibi dulu. Karena itu, bibi tidak pernah membatasi mereka dalam segala hal, karena mereka memiliki pilihan mereka sendiri" lanjut Isabella sambil bergantian menunjuk dirinya dan sang suami yang kini juga sudah duduk di sebelahnya.
"Tapi sebagai seorang anak sulung, Jeno merasa dirinya memiliki tanggung jawab besar. Erick lebih tau dan lebih paham bahwa Jeno tidak suka membebankan orang lain. Bibi mengerti Erick kecewa, dan Jeno pun juga kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa menepati janjinya pada Erick. He's miss you so much, but he can't.
Bibi mengatakan ini, karena bibi tidak ingin Erick pergi membawa perasaan marah dan luka bersama Erick. Bibi ingin Erick berjalan dengan tenang tanpa harus memikirkan luka dan kecewa itu. Erick anak pintar, Erick pasti mengerti maksud bibi"
"Erick mengerti bibi. Terima kasih. Erick akan berusaha untuk berjalan dengan tenang"
"Good boy. Don't worried, bibi tidak akan beritahu dia kemana kamu pergi"
"Thank you again"
"Anything untuk calob menantu"
"Bibi~~"
"Hahaha manisnya"
"Nah, waktunya berangkat, Erick" ucap Justin. "Hati-hati ya. Kami akan mengunjungi mu sesekali. Jaga diri mu baik-baik, jangan sungkan beritahu paman apa pun itu. Oke?"
"Oke. Kalau begitu Erick berangkat dulu" pamitnya.
"Kakaaa, cepat kembali" seru Harena dengan suara gemasnya.
"Pasti sayang" balas Erick. Kemudian memeluk erat tubuh sang adik sebelum berjalan menuju pintu keberangkatan.
****
T b c?
Bye!