
Setelah menghabiskan weekendnya di rumah sang paman, pagi ini Erick harus kembali beraktifitas di sekolah.
Sejak pukul 4 pagi, remaja 14 tahun itu sudah terbangun, padahal Erick baru tidur jam 1 malam karena mengerjakan sisa tugasnya yang belum sempat ia kerjakan.
Pukul enam pagi Erick sudah rapih dengan seragam sekolahnya. Dengan santai berjalan turun dari tangga menuju ruang makan.
"Selamat pagi. Yuk sarapan dulu" sapa Ara yang tengah menata sarapan di atas meja.
"Selamat pagi, aunty. Erick tidak sarapan ya, minum susu aja" tangan kanan Erick meraih segelas susu yang sudah tersaji di atas meja.
"Loh kenapa?" Tanya Ara bingung.
"Gak apa-apa. Nanti Erick sarapan di kantin aja"
"Kalau gitu bibi buatin bekal ya?"
"Gak usah bibi"
"Tapi janji ya sarapan di kantin?"
"Janji"
Ara menatap keponakannya itu tak yakin. Erick sering sekali mengabaikan sarapannya, padahal anak itu memiliki maag akut. "Ahh bibi gak percaya"
"Erick janji bibi" Erick mengangkat jari kelingkingnya, meyakinkan Ara bahwa dirinya tak akan melewatkan sarapannya.
"Tunggu disini"
Ara berlari ke arah dapur untuk mengambil sesuatu. Tak lama, wanita itu kembali dengan sebungkus sandwich di tangannya.
"Bawa ini dan makan di jalan" ucapnya sambil menyerahkan sandwich yang di ambilnya pada Erick.
"Berangkat sekatang tuan?" Tanya Brendon yang sudah siap berdiri di samping mobil.
"Paman Brendon tidak mengantar paman Aldre?" Tanya Erick bingung.
"Tuan Aldre membawa mobil sendiri pagi ini, tuan. Saya akan menyusulnya ke kantor setelah mengantar anda ke sekolah" jelas Brendon.
Erick mengangguk mengerti. "Oke kalau gitu" lalu masuk ke dalam mobil.
Sesuai janjinya, Erick memakan roti yang di berikan Ara selama perjalanan. Erick memakan roti miliknya tanpa minat, remaja tampan itu bahkan hanya menghabiskan setengah dari roti miliknya sambil memandang ke luar jendela.
"Kita sudah sampai, tuan" ucap Brendon menyadarkan Erick dari lamunannya.
"Ouh? Terimakasih paman Brendon" balas Erick beranjak keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam lingkungan sekolahnya.
"Sama-sama, tuan Erick"
Mobil yang di kendarai Brendon melaju meninggalkan area sekolah setelah memastikan Erick sudah masuk ke dalam kelasnya.
**
"Baik paman. Jeno akan memastikan Erick makan nanti, terimakasih informasinya"
Jeno menurunkan ponsel dari telinganya setelah mendapat kabar dari Aldre tentang Erick. Kini hatinya tengah menahan kesal karena tingkah sang pujaan hati.
"Kau memang sengaja ingin membuat ku marah, Erick" gumam Jeno dengan nada datar.
Jeno membalikkan badannya, berjalan menuju meja belajar mengambil tas dan kunci motornya dari sana.
"Sarapan dulu, Prince" tutur Justin yang berpapasan dengan sang putra di tangga.
"Aku buru-buru, ayah. Aku akan sarapak di kantin" balas Jeno tanpa menoleh pada sang ayah.
"TUTUP GERBANGNYA!!" Perintah Justin pada seluruh bodyguard.
Jeno menatap kesal pada sang ayah. Apa maksud ayahnya itu memerintahkan semua bodyguard untuk menutup gerbang?
"Ayah."
Jeno hanya bisa berdecak kesal. Dengan malas berjalan mengikuti sang ayah menuju ruang makan.
"Pagi-pagi sudah cemberut" cibiran Jeven menjadi yang pertama menyambut Justin dan Jeno.
"Maklumi orang yang sedang jatuh cinta" timpal Justin. Jeno hanya bisa mendengus, kemudian duduk di kursi miliknya.
"Jangan cemberut gitu, sayang. Nanti bunda buatkan bekal untu Erick ya" ucap Isabella lembut.
"Iya. Terimakasih, bunda"
"Sama-sama. Ayo di makan sarapannya"
Skip time..
Setibanya di sekolah, Jeno langsung bergegas menuju kelas Erick, meninggalkan para sahabatnya di parkiran yang kebingungan dengan tingkahnya.
Namun baru hendak mencapai pintu kelas Erick, bel tanda masuk berbunyi yang sukses membuat Jeno menggeram marah.
"Brengsek!"
Brakk!!
"Wesss Kalem brother" ujar Virzan terkejut.
"Pagi-pagi udah ubanan" celetuk Brian. "Marah-marah anjir" protes Keano.
"Yakan kalo kebanyakan marah-marah jadi ubanan"
"Berisik Lo pada" sembur Jeno marah.
"Anjaiii ngamuk" goda Jovan.
"Diam kau!"
"Kkkkkk"
**
Erick menghembuskan nafas leganya. Dirinya sudah melihat kedatangan Jeno sejak cowok itu berjalan di ujung koridor karena teriakan teman-teman perempuannya. Beruntung bel masuk menyelematkannya, atau dia akan mendapat ceramahan panjang dari cowok itu saat ini.
"Selamat" gumam Erick lega.
Jam pertama di mulai, semua murid telah duduk di kursi masing-masing begitu guru masuk ke dalam kelas. Tidak ada suara yang keluar, kelas terasa sunyi karena semua orang fokus memperhatikan guru yang tengah menjelaskan di depan kelas. Erick membuka buku tulis miliknya, mencatat materi yang di terangkan pak guru.
Bel istirahat berbunyi.
Semua murid berhamburan keluar dari kelas menuju kantin. Mengisi kembali energi mereka yang telah terkuras. Begitupun Jeno dan sahabat-sahabatnya.
Lain halnya dengan Erick yang memilih berdiam diri di dalam kelas. Cowok itu lebih memilih menelungkupkan kepalanya ke atas meja dan tertidur, daripada berlari menuju kantin seperti teman-temannya yang lain.
"Daripada ketemu Jeno di kantin, mending tidur" gumamnya sambil mulai memejamkan matanya.
Sedangkan di kantin..
Netra Hazel milik Jeno menelusuri seluruh isi kantin, mencari keberadaan sang pujaan hati yang tidak sempat dia temui tadi pagi.
"Kayanya Erick gak ke kantin" celetuk Brian.
"Udah pasti ngumpet lah tuh anak. Daripada kena amuk Jeno" sahut Virzan.
"Nanti aja nemuinnya, mending sekarang kita makan dulu" ucap Jesslyn sambil menepuk bahu Jeno.
"Hmm" hanya deheman singkat Jeno sebagai jawaban.
***
See you tomorrow!