Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
26. perasaan Geo



Jeritan kesakitan yang keluar dari mulut Geo dan Jeno menggema di seluruh ruangan. Pasalnya keduanya baru saja mendapatkan tendangan maut dari Erick yang langsung melayangkan tendangan pada mereka begitu masuk ke dalam rumah.


Jeno hampir saja melayangkan umpatan kasar namun ia urungkan begitu menyadari siapa pelaku penendangan yang dirinya dapatkan. Berbeda dengan Geo yang sudah melayangkan segala umpatan kasar dari mulutnya untuk sepupu tercintanya.


"Yaksss kau gila hah?! Apa otak mu bergeser karena mau ditinggal Jeno?!" Sembur Geo tak terima.


TAKK!!


Omelan bocah itu di jawab dengan tendangan yang kembali Erick berikan di kaki sepupunya itu.


"HAIISSHHH BOCAH INI SUDAH TIDAK WARAS!!"


"Sayangg.... Kenapa aku di tendang?" Jeno menatap kekasihnya dengan wajah memelas.


"Tidak ada. Aku hanya ingin" jawab Erick santai tanpa beban.


Mulut Jeno menganga tak percaya mendengar jawaban sang kekasih. Hanya bisa mengelus dada karena jika dirinya marah ia akan didiamkan oleh sang kekasih seperti waktu itu, apalagi ia akan meninggalkan sang kekasih beberapa hari lagi.


"Untung aku cinta" gumamnya yang masih bisa di dengar Erick.


"Geo" suara lembut namun tegas mengalun mengalihkan atensi ketiganya. Geo yang merasa namanya di panggil menoleh ke arah sumber suara.


Di sana tak jauh dari mereka berdiri, ada Galih yang berdiri menatap sendu ke arahnya. Hati Geo berdesir sakit melihat bagaimana sang papah menatapnya. Wajah pria itu terlihat pucat, hidungnya memerah dan mata yang sedikit bengkak.


Geo berjalan cepat kearah Galih, memeluk erat pria yang paling dirinya cintai setelah sang daddy.


"Maafin Geo ya pah, maaf udah buat papah khawatir. Geo hanya tidak bisa melihat kakek lebih lama" ucap Geo dengan nada lirih.


Galih membalas pelukan sang putra, memberikan kecupan beruntun di puncak kepala putra sulungnya. "Tidak apa-apa sayang. Tapi lain kali bilang sama papah ya kalau Geo mau pergi, papah masih kangen banget sama Geo"


"Iya papah, Geo janji"


"Putra mu tidak akan kemana-mana, Ge. Aku yang akan menghajarnya jika dia pergi tanpa pamit" ucap Isabella.


Galih tersenyum geli, sikap protektif sahabatnya itu masih melekat dalam dirinya ternyata. "Iya, dear"


"Ayang, cantik banget sih" Jeno menatap Erick dengan pandangan menggoda. Mencolek gemas pipi chubby Erick.


Erick hanya menatap kesal Jeno. "Gua ganteng ya bangsat. Gua tendang ***** lu kalo bilang gua cantik lagi" semburnya marah.


"Galak banget. Jangan marah-marah tuh diliatin sama ayah mertua" seru Jeno sambil menunjuk sang ayah yang menatap mereka heran.


"Apa ayah gak sawan punya anak kaya lu?" Celetuk Erick asal.


"Heh!! Mulutnya" omel Jeno.


Tawa puas Jovan menggelegar. Mulut pedas Erick adalah hal yang paling di sukainya karena Jeno tidak akan membalas perkataan pedas sang kekasih.


Geo berbalik menatap jengah sepupunya yang tengah marah-marah. "Yang semalem nangis-nangis gak mau di tinggal jangan banyak gaya. Gua slebew lu" ledeknya.


Perkataan Geo jelas membuat Erick panik, rahasianya terbongkar sudah karena mulut laknat sepupunya itu. "Yooo, gua pikir kita bro" balasnya penuh dramatis.


"Yang nyuruh lu nendang pantat gua siapa lagian?"


"Ya lu pagi-pagi bikin uncle nangis"


"Ya anggap aja symbiosis mutualisme"


"Symbiosis mutualisme apaan?!"


"Ouhh, jadi ada yang nangisin aku semalam?" Erick menatap horor Jeno yang menatapnya dengan senyum penuh arti.


"Apaansi lu"


"Gemes banget sih pacar ku. Ciuman yuk"


"JENOOO!!!"


"WKWKWKWK"


**


Rupanya Jeno tak main-main dengan ucapannya. Setelah mendapat teguran dari sang ayah, bocah itu langsung menarik Erick menuju kamarnya. Dan kini keduanya tengah duduk di tengah ranjang dengan posisi saling berhadapan.


Tidak ada kata yang keluar dari mulut masing-masing, Jeno yang sibuk melayangkan kecupan di setiap sisi wajah Erick dan Erick yang sibuk dengan rasa malunya.


"U-udah Jen, geli"


Cup cup cup cup


"Jen~"


"Mmh"


Bukannya berhenti Jeno justru malah menyerang bibir Erick. Membungkam mulut kekasihnya dengan mulutnya sendiri.


"Mmmhhh"


CUPP...


Erick mendengus sebal, bibirnya pasti sedikit membengkak karena perbuatan Jeno. "Dasar mesum"


"Beneran nangis ya semalem? Mata kamu masih bengkak" tangan Jeno terangkat memainkan helaian rambut Erick yang tersusun rapih.


Bibir Erick mengerucut, wajah nya kembali sedih seperti semalam. "Kamu beneran mau berangkat besok?"


"Menurut kamu?"


"Jeno~"


"Hahahaha. Aku berangkat minggu depan"


Senyum cerah seketika terbit di wajah Erick. "Sungguh?" Tanyanya semangat.


Jeno mengangguk. "Iya sayang. Aku gak tega liat papah yang sekangen itu sama Geo"


"Tapi Geo..."


"Aku akan minta dia untuk nginep disini nanti"


"Aku juga mau"


"Hahaha iya iya. Gemes banget si"


***


"Kapan Jeno akan berangkat, dear?" Tanya Galih pelan. Isabella bisa melihat sorot penuh harap dari mata sahabatnya itu.


"Aku belum tau. Dia belum memberitau apa keputusannya" jawaban Isabella membuat bahu Galih turun. Putranya akan pergi lagi padahal dia belum puas melepas rindu.


"Ge..."


"Aku pasti tidak bisa bertemu Geo lagi jika dia sudah kembali nanti"


"Bilang sama aku kapan pun kamu mau nemuin dia, aku yang akan ajak kamu kesana"


Galih tersenyum kecil. "Aku lupa kalau aku punya kamu"


"Kalau Jeno mengulur keberangkatannya, biarin Geo tinggal di sini ya? Atau kamu pulang ke mansion kamu. Yang penting Geo gak ketemu sama ayah"


"Ini musin libur, tapi aku akan coba bilang sama ayah kalau aku akan kembali ke mansion ku"


"Itu lebih bagus"


Isabella mengalihkan pandangannya kearah luar, lebih tepatnya ke arah Geo, Jovan dan Jesslyn yang tengah bermain.


"Dimana Keano?"


"Jeven menjemputnya tadi pagi"


"Aku harus menjauhi Jeven dari putra bungsumu"


"Kenapa?"


"Jeven alasan Geo pergi setelah ayah dan alasan Keano menjadi seperti ini pada kakanya sendiri"


"Dear..."


"Ge, percaya padaku Keano tidak akan memilih sekolah yang sama dengan Geo"


Galih merasa hatinya seolah di hantam benda keras. Kenapa dirinya tidak pernah tau hal ini dan apa yang Keano lakukan pada saudaranya sendiri?


"Kamu harus tau satu hal Ge, kalau perasaan Geo pada keluargamu sama seperti perasaan kaka pada orang tuanya"


Isabella tau sang kaka pasti tidak akan senang mengetahui ini tapi dirinya tidak bisa menyembunyikan lebih lama lagi tentang hal ini dari sahabatnya.


Di balik tembok ruang tamu, Ara dan Aldre berdiri mendengarkan pembicaraan kedua sahabat itu. Hati Aldre teriris, dirinya tidak pernah menyadari seberapa jahat keluarganya pada Geo sampai Geo membenci mereka.


"Al..."


"Kamu tau seberapa besar ka Kevin benci orang tuanya, Ra. Apa itu artinya Geo juga membenciku?" Aldre sedih tentu saja. Dirinya tidak mau di benci keponakannya seperti ini.


"Kita masih memiliki waktu untuk berubah, Al" Ara mencoba menenangkan suaminya.


"Aku terlalu sibuk pada diriku sendiri sampai tidak menyadari bahwa apa yang terjadi pada Geo.


Ra, aku gak mau Geo benci aku Ra"


"Al, tenang ya. Geo gak benci kamu ko. Kita masih bisa perbaiki semuanya"


"Hiks... Hiks... Hiks..."


"Geo..."


****


See you!