Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
40. Jujur



"Jika bunda tetap ingin berpisah dengan ayah, maka Jeno tidak akan pernah kembali!"


"Kamu mengancam bunda, jeno?!"


"Let's see!"


"JENO!!"


Sambungan terputus begitu saja membuat Isabella menggeram kesal.


"Ada apa bee?" Justin datang menghampiri sang istri dan langsung memeluk pinggangnya dari belakang.


Istri? Keduanya memang tak.jadi bercerai, entah karena apa tapi pengadilan menolak gugatan yang Isabella layangkan untuk Justin. Dan Isabella sangat yakin bahwa suaminya itu menggunakan kekuasan nya untuk memenangkan pengadilan.


"Jangan menyentuhku!!" Isabella menyentak kasar lengan Justin yang melingkar apik di pinggangnya.


Meski begitu, Isabella masih berusaha keras untuk bisa berpisah dari Justin. Wanita itu sudah cukup muak dengan segala macam drama dalam hubungan mereka.


Terkadang Isabella bahkan tak segan untuk bersikap kasar pada Justin, seperti saat ini contohnya. Dia bahkan menolak segala macam perlakuan lembut yang Justin berikan meski sang suami bahkan sudah berbicara jujur pada anak-anak mereka.


"Menjauh dariku!" Seru Isabella lagi sambil menatap tajam Justin. "Maafkan aku bee. Ayo berangkat anak-anak sudah menunggu di mobil" ucap Justin dengan suara lembut.


"Aku akan mengendarai mobilku sendiri"


Justin hanya bisa menatap punggung Isabella yang sudah berjalan jauh dengan tatapan sedih. Dirinya memang pantas mendapatkan kebencian dari Isabella karena sikap egoisnya yang tak pernah berubah.


"Ayah dan bunda masih bermusuhan ya?" Jesslyn bergumam kecil yang masih bisa di dengar Jeven dan Jovan. "Bunda masuk ke mobilnya sendiri bukan mobil ayah" ucapnya lagi.


Tangan Jeven terulur mengelus lembut rambut adiknya itu. "Emosi bunda masih belum tenang, jadi biarkan bunda mengendalikan amarahnya"


Jesslyn menyandarkan kepalanya di dada Jeven, sedangkan Jovan memilih diam dan menatap ke arah lain. Jika Jeno ada di sini mungkin ia tidak akan merasa sesedih ini karena kakaknya itu pasti akan menengkannya.


'Apa aku bisa bertemu dengan mu nanti Jen?'


**


Lelaki dengan jaket kulit berwarna cokelat yang di padukan kaos hitam di dalamnya juga celana jeans dan sepatu boot yang senada dengan jaketnya itu berlari menghampiri seorang wanita yang berjalan cepat masuk ke bandara dengan wajah marah.


"Dear!!" Panggilnya saat sang wanita berjalan menuju pintu keberangkatan. "Dear tunggu!!!" Teriaknya lagi.


"Princess stop it!" Pria paruh baya yang menyaksikan kejadian itu ikut turun tangan menghentikan wanita cantik itu.


Langkah kaki wanita itu terhenti, tapi pandangannya tetap lurus pada pintu keberangkatan yang berada tak jauh darinya.


"Dear, tunggu sebentar oke" sosok lelaki itu, Galih memeluk erat tubuh sahabatnya dari samping.


"Pesawatnya belum sampai"


Isabella terdiam, raut marah itu perlahan menghilang dari wajahnya. "Aku ingin bertemu putraku"


"Aku tidak mau Jeno membenci ku, Ge" Galih bisa menangkap nada suara Isabella yang bergetar di tambah dengan tetas air yang membasahi lengannya. "Dia tidak membenci mu, dia hanya butuh kalian jujur padanya"


Saat ini keluarga Courtland dan Skholvies akan berangkat menuju Jerman untuk menyusul Jeno dan Geo. Mereka akan menjelaskan beberapa hal secara langsung pada Jeno, meski mungkin tidak semua akan mereka katakan. Tapi setidaknya mereka tak lagi menyembunyikan hal besar itu.


"Tuan, pesawat anda sudah tiba" ucap William memberi tahu kan kedatangan pesawat pribadi milik Revano yang baru saja mendarat.


"Jangan dulu masuk, beri pilot waktu untuk beristirahat sebentar"


"Baik tuan"


William pamit pergi untuk menyampaikan pesan Revano pada pilot dan seluruh staff pesawat.


"Princess sudah sarapan sayang?" tanya Sofia pada Isabella yang masih berada di pelukan Galih.


Isabella menggeleng. "Kita sarapan dulu ya sayang. Anak-anak juga pasti lapar" ucap Sofia.


"Tapi mah--"


"Sayang, pilot juga butuh sarapan dan kopi. Memangnya tidak lelah menerbangkan pesawat sejauh itu. Tuh liat" Sofia menunjuk pada pilot dan co-pilot juga staff pesawat milik suaminya yang baru keluar dari pintu kedatangan dan berjalan masuk cafetaria.


"Mamah~" rengekan Isabella keluar. Ia merasa seperti anak kecil yang sedang di bujuk.


"Hahah, yuk makan dulu. Nanti papah marah loh kalau tau princess nya belum makan"


Ketiganya pun akhirnya masuk ke dalam salah satu cafe, diikuti Justin yang lainnya.


***


Setelah menerima telpon dari sang bunda, Jeno berdiri di balkon sambil melamun. Dirinya tak tau bagaimana hubungan kedua orang tuanya. Tapi jika mereka masih bertengkar, itu bukan salahnya sama sekali.


"Mungkin mereka akan sampai besok" ucap Geo dari ambang pintu balkon. Kebetulan keduanya menjadi roommate disini, bersama tiga teman baru mereka yang sekarang entah pergi kemana.


"Sampai?" Jeno menolehkan kepalanya ke samping. Sampai apa yang Geo maksud?


"Mereka akan datang. Orang tuamu, orang tuaku, keluarga kita. Mereka ingin menjelaskan semuanya pada mu secara langsung"


"Semua?" Jeno mendengus sinis. "Yang benar saja. Kau yakin mereka akan mengatakan semuanya?"


"E-eh?"


"Mereka hanya akan melanjutkan cerita yang tidak bisa kau selesaikan"


Geo terdiam, perkataan Jeno ada benarnya. Orang tua tidak akan benar-benar jujur pada anak-anak nya.


****


See you!