Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
129 | THE KING



Satu persatu musuh mulai menyerang Revan. Menyerang secara bersamaan untuk menemujan titik lumpuh pria paruh baya itu. Tapi sayangnya usaha mereka hanya meruntuhkan formasi yang mereka buat, karena sang Godfather terlalu cerdik untuk dikalahkan.


Revan mengayunkan pedangnya kesana kemari, kesegala arah menghabisi semua musuh yang berlari kearahnya.


"Tolol! Mereka pikir menyerang secara acak seperti ini bisa menghentikan Godfather? Benar-benar tolol" sembur Saka.


Saka dan Jovan bergerak dengan santai, tidak banyak yang menyerang mereka karena musuh lebih terfokus pada Godfather.


Meso yang masih pada posisinya memucat, hampir setengah dari pasukannya sudah dihabisi, dirinya harus mencari cara lain untuk menyelamatkan diri dan mendapatkan pedang impiannya itu.


'Aku harus kabur dari sini. Aku harus memancingnya sampai ke markas utama' perlahan Meso memundurkan posisinya kebelakang tanpa disadari siapapun. Menunggu waktu yang tepat untuk melarikan diri lewat bagian belakang mansionnya.


Revan masih bergerak gesit kesana kemari. Serangan bertubi yang dilancarkan musuh baik secara lamgsung atau jarak jauh tidak meruntuhkannya sedikitpun.


Hujan darah dan potongan tubuh manusia dimana-mana. Tubuh Revan sendiri sudah penuh dengan dara, tapi pedang miliknya masih terlihat bersih seperti baru dikeluarkan dari sarungnya. Pedang hitam itu menyerap darah yang menempel pada setiap sisinya dengan sangat baik. Semakin banyak darah yang diserap semakin banyak juga energi yang dibutuhkan untuk mengendalikannya.


Berkali-kali fokus Jovan teralihkan pada grandpanya yang begitu hebat melawan setiap serangan musuh. Keyakinan dalam hatinya untuk menjadi seperti grandpa dan bundanya semakin kuat, tapi Jovan memiliki janji pada sang ayah yang membuatnya harus menahan keinginannya itu.


Jovan menatap takjub grandpanya, dirinya juga ingin seperti itu. "Grandpa hebat sekali" pujinya penuh kekaguman.


"Paman tau kau kagum pada grandpamu, nak. Tapi ini bukan waktunya untuk bengong" teriakan Saka menyadarkan Jovan dari lamunannya.


"Ahh paman, mengganggu khayalan indahku"


"Hehehe, dibelakangmu bocah!!"


Jovan berbalik dengan cepat, melemparkar pisau ditangannya pada musuh yang menyelinap dibelakangnya. Pisau miliknya menancap tepat didada musuh.


"Tidak sia-sia aku berlatih keras" ujarnya bangga.


"Ya, tapi kau terlalu banyak bicara" sahut Saka lagi.


Jovan menatap datar sahabat bundanya itu. "Ingatkan aku untuk menendang pantat paman setelah ini"


"Kkkkkk. Emosian! Dasar anaknya Justin Scander" goda Saka.


"Bicara seperti itu didepan ayah, paman" balas Jovan sinis.


"Wkwkwkwk"


"Kau cukup tangguh juga Revan" Revan terkekeh mendengar penuturan salah satu musuh yang mengelilinginya.


"Benarkah?" Sebelah alisnya menukik sebelah dengan senyum mengejek.


"Jangan sombong sialan! Aku pastikan kehidupanmu berakhir kali ini. Dan aku akan menjadikan istri cantikmu sebagai mainanku yang mempesona" tutur pria ith berusaha memancing amarah Revan.


Revan menyeringai, matanya terpejam namun kembali terbuka setelah beberapa detik. Netranya yang semula berwarna biru berubah menjadi merah, begitupun pedang miliknya. Pedangnya yang semula hanya terhias warna hitam dan merah dari ukiran phoenixnya kini bertuka menjadi wana merah dan ukiran Phoenix yang berubah menjadi warna hitam.


"Kau harus ingat aturannya ketika berhadapan dengan ku... Deron!!" Desis Revan tajam.


Deron terksiap, tubuhnya mundur kebelakang dengan reflek. Revan memutar pedang ditangannya, mengelurkan cahaya kilat berwana merah kehitaman. Deron belum sempat berteriak, pria tua itu sudah tidak bisa merasakan tubuhnya. Tubuh anak buah Deron mendadak kaku menyaksikan tubuh bos mereka yang terpisah menjadi beberapa bagian.


"The King Is Back!" Seru Laxo dari kejauhan.


Jovan, Saka, dan Devan terperangah. Ada sedikit ketakutan dalam diri mereka menyaksikan pemandangan mengerikan ini.


"Papah...." Nafas Devan tercekat, dadanya terasa sesak dengan pasokan udara yang menipis.


"Grandpa..."


"Paman..."


Kondisi Saka dan Jovan tidak jauh berbeda dengan Devan. Tubuh mereka bergeta hebat menahan rasa takut yang menjalar.


Jovan menoleh pada sang paman. "Paman.... Grandpa...."


"The King is back" ucap Saka lirih.


Gerakan menjadi membabi buta setelahnya, menyerang siapapun yang masuk dalam radarnya. Saka menarik Jovan menjauh memberika kode pada anak buah mereka untuk mundur sebelum terkena sasaran amukan Sang Raja Mafia.


Jovan menoleh ke ujung, kerah Meso yang bersiap melarikan diri. Dengan sigap Jovan mengejar Meso, mengikutinya sampai bagian belakang Mansion.


"Bagaimana cara menghentikannya?" Tanya Devan pada kedua musuh papahnya.


"Itulah jawabannya. Dia akan berhenti sendiri setelah pedangnya tidak lagi meraskan darah hidup"


"Hah?"


Farthur menyeringai. "Dengan jarak tertentu maksudku kkkk"


"Sialan kau Farthur!" Devan menatap Farthur kesal. Bisa-bisanya dalam situasi seperti ini pria tua itu mengajaknya bercanda.


"Yang sopan kau bocah" dengus Farthur.


"JOVAN!!" Teriakan Saka mengalihkan fokus ketiganya. Bisa mereka lihat Saka yang berlari kearah belakang mansion.


"Wooaahhh, sepertinya keponakanmu mengejar sibodoh Meso" ujar Laxo.


"Ayo kita ikuti. Bajingan itu pasti lari ke markas utamanya" timpal Farthur.


Ketiga pria tua itu berlari menyusul Saka kebagian belakang mansion. Namun begitu mereka tiba disana, mereka tidak menemukan siappun kecuali Saka yang kebingunan mencari Jovan.


"Saka"


"Ka Devan"


"Dimana Jovan?" Saka menggeleng dengan raut cemas.


"Aku tidak tau, sepertinya dia menghilang. Aku melihat sebuah cahaya besar disini tadi, tapi aku tidak sempat meraihnya"


"Cahaya?"


"Portal" sahut Farthur. Laxo menatap Farthur heran. "Kau tau tentang itu?" Tanyanya.


"Aku pernah bekerja sama dengan Napolen dulu, pria itu merupakan keturunan penyihir. Setiap keturunan keluarganya mampun menggunakan sihir, tapi aku tidak tau tentang Meso" ucap Farthur menjelaskan apa yang diketahuinya.


Saka semakin menatap Devan cemas. "Bagaimana ini kak?"


Devan bingung. Meski dirinya juga keturunan penyihir, ia tidak sekuat kedua adiknya, Isabella dan Javin yang bisa membuka portal dimensi.


"Bukankah kau juga keturunan penyihir?" Laxo heran Devan yang terlihat cemas.


"Aku tidak bisa membuka portal dimensi" jawab Devan.


"Aku pikir semua penyihir bisa melakukannya"


Devan menggeleng kecil. "Tidak. Meski bukan dimensi waktu tapi aku tetap tidak bisa melakukannya. Keluarga ku mengajarkan kami untuk tidak serakah pada kekuatan kami"


"Tapi Revan pasti bisa melakukannya kan?"


"Kurasa iya"


"Apa yang kalian lakukan disini?"


Suara berat dan dingin mengintrupsi pembicaraan mereka. Keempatnya berbalik dengan gugup.


"Papah" panggil Devan pelan.


Farthur dan Laxo meneguk ludah kasar. Sudah sangat lama sejak terakhir kali mereka melihat Revan yan seperti ini. Pedang pria itu juga sudah tidak ada ditangannya, sepertinya sudah dikembalikan ketempat semula.


"Dimana Jovan?" Revan kembali bertanya. Suaranya membuat keempat orang itu berjengit kaget.


"Jo-jovan mengikuti Meso, paman" jawab Saka.


Revan menjulurkan tangannya, sebenarnya dirinya sudah mendengarkan pembicaraan mereka tadi. Sebuah cahaya keluar dari telapak tangan Revan membentuk sebuah lingkaran yang persisi dengan yang Saka lihat sebelumnya.


"Masuk"


.....


T b c?


Bye!