
"Ayolah paman, hanya cuti sebentar tidak masalah kan? " seorang gadis tengah merengek manja dikamarnya. Gadis itu tidak berhenti merayu seseorang yang dihubunginya.
"Tidak bisa, paman ada perjalanan bisnis minggu depan. " tolak orang diseberang sana.
"Ahhh paman, kita bisa pergi setelah paman pulang. " gadis itu tidak menyerah sedikitpun.
"Tidak bisa sayang, paman akan sibuk setelahnya. " gadis itu mencebik kesal, matanya berkaca-kaca.
"Paman tidak sayang aku,, huhuhu "
"Ohh ayolah Harena, keponakan paman yang paling cantikkkk jangan menangis okay! "
"Aku akan menangis kencang sampai paman setuju. " ancam Harena. Diseberang sana Aldre memijat pelan pelipisnya, "paman benar - benar tidak bisa sayang.. "
"Huaaaaaa,, paman jahat hiks hiks... " Harena benat-benar menangis kencang kali ini, membuat Aldre yang mendengarnya menjadi gelagapan.
"Baiklah, begini saja bagaiman jika kita pergi saat liburan musim panas. Setuju? " tangis gadis remaja itu mereda, "janji? "
"Janji. Sekarang tutup telponnya karena paman harus bekerja. "
"Hehehe Harena sayang paman.. "
"Paman juga.. " telepon ditutup. Harena tersenyum sumringah, tidak sia-sia air mata palsunya, kekekekek.
Gadis itu berjalan riang keluar dari kamat, dia akan memberitahu kakek dan neneknya.
.
Di dalam kantor, Aldre mengumpat pelan. Keponakannya yang satu itu selalu tau bagaimana cara meluluhkannya. "Akan paman gigit pipimu sampai memerah jika kita bertemu, keponakan nakal. " bibirnya menggerutu panjang.
Lelaki itu menyimpan kembali ponselnya disaku celana. Waktu istirahat telah selesai, saatnya dia menuju aula untuk evaluasi karyawan.
Persentasinya berjalan dengan cepat, akan dilanjutkan lagi besok karena sebentar lagi waktunya pulang.
"Baik, sudah cukup untuk hari ini, kita lanjutkan lagi besok. Sebelum jam masuk kantor, saya ingin seluruh karyawan yang tersisa untuk berkumpul di aula. Kalian boleh kembali sekarang. " jelas Aldre cepat.
Satu-satu persatu karyawan keluat dari ruang aula. Aldre bangkit dari kursinya, dia akan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tersisa sebelum kembali ke apartment.
.
"Kakek..." Panggil Harena riang. Tuan Rayyan menoleh pada sang cucu, tersenyum lembut. "Ada apa sayang? "
"Harena sudah bicara pada paman. "
"Benarkah? " Harena mengangguk lucu. "Paman setuju untuk ikut. " Kiran, Erick, dan Keano yang mendengar itu bertepuk tangan antusias.
Daniel menaikkan sebelah alisnya, apa yang mereka bicarakan? "Ikut? Memangnya mau kemana? "
"Kita mau liburan ke Disneyland paman, tapi kakek ingin paman Aldre juga ikut jadi Harena merayunya. " jawab Kiran dengan semangat.
Daniel menatap tajam putri bungsunya. "Sudah papah katakan jangan mengganggu pamanmu, Harena. Dia sedang sibuk! " Harena menunduk takut mendengar ucapan tajam sang papah.
"Dan... " Ana mencoba menengkan sang suami. Daniel bukannya tidak senang adiknya itu mau berkumpul dengan keluarga, tapi dia hanya tidak ingin lelaki itu tertekan.
"Iya dia memang setuju, tapi kamu pasti pura-pura menangis kan untuk merayunya? " tanya Daniel sarkas. Harena semakin menunduk, "maaf papah. "
"Sudahlah sayang, kasian putri kita. Kamu tidak liat dia ketakutan! " Ana berucap lembut, mengusap bahu sang suami. Daniel menghembuskan nafasnya perlahan, kemudia menjulurkan tangannya untuk diraih sang putri. "Maafkan papah membuatmu takut. Harena ingat kan apa yang pernah papah katakan? " Harena mengangguk, "jangan diulangi lagi ya? "
"Iya papah. "
"Jadi? "
"Paman bilang kita bisa pergi saat liburan musim panas nanti, karena minggu depan paman ada perjalanan bisnis. "
"Baiklah. "
"Papah tidak marah lagi kan? " Daniel menggeleng, mengecup kening putrinya. "Tidak sayang. "
"Sudah hentikan dulu pembicaraan kita, sekarang waktunya lunch. " seru nyonya Riyani. Semua orang menurut dan mulai duduk dikursi mereka masing-masing.
.
"Bisakah kita bertemu paman? "
"Ada apa? "
"Ada sesuatu yang ingin aku beritahu, ini tentang paman Aldre. " dahi Kevin mengkerut, memangnya ada apa dengan adik iparnya itu?
"Dimana kau? "
"NY. "
"Kirimkan alamatmu paman akan kesana sekarang. "
Kevin melangkah tergesa menuju ruang ganti, mengganti pakainnya, mengambil tas misinya dan kunci mobil. Setelah itu melangkah terburu-buru kebawah.
Galih menatap heran sang suami yang telah rapih, seingatnya lelaki itu tidak memiliki misi apapun. "Kamu mau kemana hubby? "
"Aku akan NY, ada urusan sedikit disana. Aku akan segera kembali love. " menghampiri istrinya itu, mengecup cepat keningnya.
"Hati-hati. "
"Hmm. "
"Daddy mau kemana pah? " Tanya Kiran.
"Ada urusan sayang, sini temani papah nonton. " Kiran mengangguk paham, menghempaskan pelan tubuhnya di sofa.
"Ohhh, Kiran jadi masuk sekolah kaka? " Tanya Galih pada sang putri. Pasalnya sebentar lagi putrinya itu akan lulus JHS. Meski baru berusia 12 tahun, Kiran menurunkan otak jenius kedua orang tuanya, begitupun sang kaka, Keano.
Kiran mengangguk semangat, "Jadi, nanti sebelum liburan musim panas kaka mau ajak Kiran ke sekolah, biar bisa kenal lingkungan sekolah katanya. "
"Yasudah kalau gitu, beritahu papah dan daddy kapan Kiran akan pergi ya? "
"Okeyy papah. "