Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
139 | VIDEO CALL



Hari-hari Aldre berjalan baik selama dirinya dipenjara, hanya terkadang dirinya merasa bosan karena tidak bisa melakukan apapun selain makan, tidur, dan melamun yang menjadi kegiatan rutinnya selama tiga mulan ini. Sesekali Aldre akan mengajar Henry untuk mengobrol hal random. Entah remaja itu memang polos atau tidak enak mendiamkan Aldre, apapun yang Aldre katakan Henry akan dengan senang hati menanggapi.


"Aaahhh aku bosan Henry. Tidak bisakah kita bermain catur disini" dengan malas Aldre bangkit dari posisi berbaringnya.


"Maaf tuan, tapi saya tidak bisa bermain catur" jawab Henry tak enak.


Aldre mendesah kecewa. "Hahhh aku kecewa"


"Tidakkah ada sesuatu yang bisa aku lakukan? Aku bisa mati kebosanan jika terus seperti ini" lagi, Aldre kembali mengeluh. Sudah terhitung 20x sejak pagi ini.


Henry terdiam sebentar, sebelum kembali bersuara. "Apa kegiatan yang paling anda sukai tuan?" Tanya Henry tiba-tiba.


Kening Aldre mengkerut, tangannya menumpu dagunya sambil berpikir. "Emm... Aku suka merakit sesuatu. Kau tau, beresperimen dengan membuat benda-benda yang tidak pernah ada sebelumnya"


Dulu saat JHS Aldre sering sekali merakit sesuatu. Menyatukan satu benda dengan benda lainnya hingga menghasilkan sesuatu yang bisa dirinya gunakan untuk sedikit membantu pekerjaannya. Tapi sejak kelas 2 shs, Aldre tidak melakukannya lagi karena fokus pada beasiswa yang sedang dikejarnya saat itu.


"Saya mengerti. Tunggu sebentar tuan" Henry bangkit, melangkah keluar dari sana. Aldre merapatkan tubuhnya pada pintu sel, keningnya mengkerut semakin dalam tanda dirinya kebingungan.


"Kenapa dia tiba-tiba pergi?" Gumamnya heran.


Aldre kembali keposisi awalnya menunggu Henry kembali. Biasanya bocah itu tidak akan pergi dalam waktu lama. Tangan Aldre meraih satu bungkus snack yang berada tidak jauh darinya, membukanya, dan mulai memakannya.


"Not bad" ucapnya menatap bagian depan snack cukup lama.


Snack ditangannya habis, Aldre menoleh kesamping mencari snack lain yang bisa dia makan. Mata Aldre membola lebar saat mendapati banyaknya tumpukan cemilan disamping kasurnya yang berada didalam sebuah box kecil.


"Wahhhh. Apa aku tidak pernah memakan mereka sebelumnya?" Gumam Aldre kaget. "Impressive"


Aldre meraih sebungkus roti cokelat, kemudian membuka bungkusnya dan memulai melahapnya hingga tandas. Ia terus melakukan hal yang sama hingga menghabiskan beberapa bungkus cemilan.


"Aku sudah menghabiskan sebanyak ini tapi mereka tidak juga berkurang? Lain kali aku harus memperingatkan Ara untuk tidak mengirimkannya lagi"


Tidak lama kemudian Henry kembali dengan sebuah box besar ditangannya. Dalam sekali lihat Aldre bisa tau apa isi dari box besar itu. Tapi untuk apa Henry membawanya?


"Kau darimana?" Tanya Aldre begitu Henry masuk kedalam selnya.


"Mencari barang-barang ini" Henry membuka penutup box, mengeluarkan beberapa isinya dari sana.


"Untuk apa?" Tanya Aldre bingung.


"Bukankah anda bosan? Jadi saya membawakan ini untuk anda"


Aldre tersenyum sumringah, menarik pelan pipi Henry dengan gemas. "Kau memang yang terbaik" kemudian meraih satu persatu benda yang Henry keluarkan.


Tangan Aldre mulai bergerak ahli merakit beberapa barang. Membuatnya menjadi sebuah robot kecil menakjubkan. Ekpresinya terlihat serious, keningnya berkali-kali mengkerut saat menyatukan sesuatu.


Henry menatap Aldre kagum. Lelaki didepannya ini mampu membuat sesuatu dalam waktu singkat. Mulut Henry menganga, berdecak kagum dengan apa yang dirinya lihat.


Sebenarnya Henry juga ingin melakukannya, tapi dirinya tidak bisa merakit seperti ini. Jadi Henry hanya bisa menjadi penonton untuk Aldre.


Aldre selesai dengan pekerjaannya membuat sebuah robot kecil yang berfungsi sebagai alat bersih-bersih. Matanya melirik pada remaja disebelahnya yang hanya diam memperhatikannya.


"Kau tidak ingin mencoba membuatnya, Henry?"


Henry menggeleng. "Saya tidak bisa melakukannya, tuan"


"Aku bisa membantumu jika kau mau mencobanya"


"Benarkah?" Henry menatap Aldre antusias.


"Mm"


Setelahnya keduanya hanya sibuk dengan kegiatan merakit mereka. Sesekali Aldre akan melihat hasil pekerjaan Henry, mengoreksi bagian yang salah dan membantu remaja tampan itu untuk memperbaikinya.


*


"Abang bilang little princess mencari papah. Ada apa sayang?" Revan mengelus lembut rambut Ara yang tengah memeluknya manja.


Revan tersenyum kecil. "Baiklah, tapi hanya kali ini saja oke?"


Ara mengangguk semangat. "Mm. Makasih papah" Ara memeluk erat tubuh papahnya. "Kalau gitu Ara kekamar dulu ya pah"


"Ara sudah makan siang?"


"Sudah. Tadi ka Robert mengirimkan masakan ka Bella"


"Baiklah kalau begitu"


Ara pun beranjak menuju kamarnya dengan langkaj gembira. Ia tidak menggunakan tangga untuk menuju kamarnya kali ini karena sudah mendapatkan ultimatum dari sang abang, jadi Ara memilih menggunakan lift. Begitu sampai dilantai dua Ara bergegas menuju kamarnya dimana Carissa sudah menunggu.


Carissa bangkit dari atas ranjang begitu melihat Ara masuk. Dengan cepat gadis cantik itu berlari menghampiri sahabatnya.


"Bagaimana Ra?" Tanya Carissa.


"Boleh" jawab Ara semangat.


"Aaaaaaaaa, yes yes yes. Kita vide call aja ya, biar bisa liat wajah Sin"


Ara mengangguk semangat. Carissa meraih ponselnya ditempat tidur, mencari nomor Sin dan mulai melakukan panggilan video.


Butuh waktu agak lama untuk Sin menjawab panggilan mereka. Setelah Lima kali deringan akhirnya panggilan itu terjawab.


Sin cukup terkejut saat mendapati wajah kedua sahabatnya dilayar ponselnya, karena Sin memang tidak pernah menyimpan nomor Carissa maupun Ara sejak dirinya kembali dari spanyol.


"Oh my god.." Seru Sin terkejut.


Carissa dan Aa tertawa melihat ekspresi lucu Sin. "Sinnnnn kangen bangeetttt" seru keduanya kompak.


"Aku juga kangen banget sama kalian. Tapi... Kok kalian bisa nelpon aku?"


"Bisa dong. Apa yang kita gak bisa"


"Ahahaha. Kalian apa kabar?"


"Baik, baik banget. Gimana kabar kamu?" Jawab Carissa. "Sangat baik sekarang. Gak sabar buat cepet pulang dan ketemu sama keponakan aku yang lushuuuu" seru Sin dengan wajah gemas.


Carissa menurunkan layar ponselnya, mengarahkannnya keperut buncit Ara. "Liat nihhhh" tangannya mengelus perut buncit Ara.


"Aaaaaaaa mau elus jugaaaaa"


"Cepet pulang ya aunty Sin" ucap Ara menirukan suara anak kecil.


"Tunggu aunty ya kecil. Nanti aunty belikan banyak mainan untukmu"


"Ditunggu mainannya aunty"


"Loh? Kirain auntynya yang ditunggu"


"Hahahahahaha"


"ehhh ngomong-ngomong kamu kaya dipantai ya Sin?" Carissa dan Ara baru menyadari jika dibelakang tubuh Sin adalah laut.


Sin mengangguk. "ini memang pantai. paman kirim aku ke pulau terpencil yang masih ada penduduknya, tapi sulit akses untuk kekota. setiap tiga bulan sekali baru ada kapal yang dateng kesini untuk mengirim bahan pangan" jelas Sin.


"Sin... makan dulu ayo" sebuah suara diseberang memanggil nama Sin.


Carissa dan Ara tersentak. mereka sangat mengenali suara itu. "KA DARREN!!!"


.....


T B C?


BYE!