
Bulan yang semula menerangi malam kini berganti dengan matahari yang dengan sombongnya memamerkan cahayanya.
Isabella berjalan menuruni bukit kecil yang ia pijaki sebelumnya. Diikuti tiga makhluk besar dibelakangnya. Wanita itu cukup heran, biasanya di jam segini para warga sudah beraktifitas. Tapi sekarang justru tidak satupun dari mereka yang terlihat.
10 orang yang semalam mengawasi mereka sambil bersembunyi, kini mendekat. Hanya ke 10 orang ini yang bisa Isabella jumpai. Pasti ada sesuatu yang tidak beres disini.
"Nona" sapa salah satu dari mereka.
"Dimana yang lain? " Tanya Isabella. Ke 10 orang itu saling pandang, tidak satupun dari mereka membuka suara.
"Aku mengerti! Haybie" Isabella menolehkan kepalanya ke samping meminta Haybie mendekat.
Harimau besar itu mendekat, menggeram kecil sebagai sautan. "Berpencarlah. Pastikan mereka tidak menyadari kehadiran kalian! " perintahnya.
Ketiganya mengangguk. Kemudian berlari tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
"Apa mereka milik anda nona? " Tanya orang yang tadi menyapa.
"Iya. Jangan khawatir mereka tidak akan menyentuh warga desa! Jadi, lakukan apa yang orang itu perintahkan, sekarang"
Tepat setelah Isabella menyelesaikan perkataannya. Ke 10 orang itu menyerangnya secara bersamaan. Isabella mulai membalas, tapi wanita itu tidak mengeluarkan kekuatannya sama sekali. Ia hanya bermain-main seakan mereka benar-benar bertarung.
.
Suara perkelahian itu terdengar keseluruh penjuru desa. Roxy tersenyum tipis, merasa rencananya berjalan dengan lancar. Para warga desa itu benar-benar mengikuti perintahnya.
Di tempat yang berbeda. Sin, dan Thomas merasakan perasaan lega yang sama dengan Roxy. Tapi berbeda dengan Metio, rasa paniknya justru meningkat 10 kali lipat.
"Ia tau wanita itu hanya bermain-main. Dan sial, dia sama sekali tidak ingin terlibat dengan hal ini, tapi sepupu sialannya sangat sulit diperingati.
Perkelahian itu berhenti. Ada tiga luka mema diwajah Isabella. Wanita cantik itu membiarkan para warga memberikan luka pada tubuhnya, untuk meyakinkan orang-orang idiot yang kino tengah bersembunyi.
Isabella berlutut didepan ke 10 orang yang mengelilinginya. Bibir yang dilapisi lipstick berwarna merah menyala itu menyeringai. Membuat ke 10 orang bergidik ngeri melihatnya.
"Beritau mereka bahwa kita berhasil menangkap nona Isabella" perintah pemimpin mereka.
Dua orang diantara mereka mengangguk, kemudian berlari cepat menuju tiga rumah warga yang ditempati Roxy dan teman-temannya.
TOK TOK TOK
Roxy yang sedang berbaring terkejut dengan suara ketukan pintu. Dengan gerakan cepat, lelaki itu meraih tubuh pria paruh baya pemilik rumah. Menempelkan ujung pistol pada kepala pria paruh baya itu.
"Ssstttt. Tanyakan siapa diluar. Cepat! " perintah Roxy. Tubuh pria tua itu bergetar ketakutan.
"S-siapa? "
"Ini saya pak. Tolong buka pintunya? "
"Ada apa? "
"Kami sudah berhasil melumpuhkannya. Apa yang harus kami lakukan sekarang? "
Roxy menyeringai puas, melempar tubuh tua itu dengan kasar kelantai. "Bawa dia ke pusat desa!! " ucap Roxy lantang.
"Baik" langkah kaki yang berlarian terdengar.
Roxy membuka pintu dengan senyum lebar. Merentangkan kedua tangannya, menarik nafas dalam menghirup udara segar. "Kemenangan selalu ditangan sang pemenang! HAHAHAHAHA" Ucapnya dengan sangat lantang.
Thomas dan Sin keluar dari rumah disebelah. Diikuti Metio tak jauh dari sana. Metio melangkah dengan ragu, kepalanya berpendar keseluruh arah, perasaannya mengatakan ada bahaya sangat besar mengincar mereka.
Merekapun tiba ditengah desa, berbaren dengan kedatangan warga yang menyeret tubuh Isabella. Roxy tertegun melihat sosok wanita cantik itu. Pertama kali baginya bertemu langsung dengan sang Godmother.
Tiba-tiba otaknya mendapatkan rencana lain. Rencana yang tentu saja memberikan keuntungan berkali lipat baginya.
"Letakkan dia disini! " Roxy menunjuk tepat tanah dihadapannya. Tubuh Isabella dilemparkan, membuat wanita itu tersungkur didepan kedua kaki Roxy.
Roxy berjongkok, menarik dagu Isabella untuk menatapnya. Lelaki itu brengsek itu menjilat bibirnya. "Halo Godmother. Pertama kali bagi kita bertatap muka seperti ini. Aku tidak menyangka kau sangat cantik" pujinya dengan suara yang sengaja dibuat sexy.
Isabella menatap sayu kedua bola mata Roxy. "Benarkah? " suaranya lembut. "Apa menurutmu aku secantik itu? " Roxy tertawa. "Hanya orang bodoh yang tidak melihat kecantikanmu" balas Roxy.
Tangannya mengelus lembut kedua pipi Isabella. Netra abunya terpejam, seolah menikmati sapuan hangat itu.
"Aku akan membebaskn jika kau bersedia menjadi pendampingku" ucap Roxy.
"Apa yang aku dapatkan? " Tanya Isabella menantang.
"Kau akan menjadi nyonya Romanov" perkataannya penuh keyakinan. Lelaki itu lupa bahwa tidak ada lagi yang tersisa dai seluruh keluarganya.
"Bukankah Romanov sudah hancur? "
"Oh, ayolah sayang. Itu hanya berita bodoh"
Roxy begitu memuja wajah cantik dihadapannya, tanpa menyadari ada bahaya yang tengah mengawasinya.
Sin yang berdiri tak jauh dari lelaki itu tersentak, saat matanya menangkap sosok besar dibelakang Roxy.
Tidak hanya Sin, beberapa warga desa juga menyadari kehadirannya. Kevin yang baru saja tiba dengan yang lain memberi kode untuk tetap diam. Para warga desa mengangguk patuh.
"Tetap diam! Atau aku akan menembak kepalamu! " ancam Kevin pada Sin.
Haybie, Aeion, dan Tier keluar dari persembunyian mereka. Menyusup diantara pada warga tanpa disadari Roxy dan teman-temannya.
Isabella yang merasakan kehadiran mereka menyeringai kecil. "Kalau begitu lepaskan aku! Maka akan aku ikuti keinginanmu" ucap Isabella.
"Kau berjanji? Tidak akan menyerangku? "
"Apakah pantas seorang calon suami curiga pada calon istrinya? " Isabella merengut, bertingkah seolah ia sedang merajuk.
Sekali lagi, Roxy tertawa. Kepalanya sampai terlempar kebelakang. "Baiklah sayangku" mencuri sebuah kecupan dipipi Isabella. Roxy melepaskan ikatan ditangan 'calon istrinya'
"Mari kita buat pesta yang sangat meriah, sayangku" Roxy berucap penuh kebahagiaan.
"Sayang sekali... "
"???"
"Aku sudah punya enam orang anak dan suami yang sangat tampan. Jadi aku tidak butuh pecundang sepertimu! "
"Kau!!! " Roxy menatap marah Isabella.
"ROXY!!!!! " Tepat setelah Sin berteriak kencang, auman keras Haybie terdengar, yang disambut kedua saudaranya, Aeion, dan Tier.
.....
T B C?
BYE!