Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
135 | HUKUMAN



"Boleh bunda pinjam tongkat milik Jovan?" Isabella memandang Jovan yang baru saja terbangun dari tidurnya. Tangan putihnya terjulur yang langsung disambut tangan putih milik Jovan.


Jovan melatakkan tangannya diatas tangan sang bunda, mulutnya bergerak merapalkan kata untuk memanggil Phoenix Death Sword yang berhasil dirinya bangkitkan beberapa hari lalu.


Tak butuh waktu lama untuk sebuah cahaya kemerahan melingkari tangan keduanya yang perlahan membentuk sebuah benda panjang dan seekor burung dengan ekor yang sangat indah.


"Apa itu?" Tanya Jesslyn lirih.


"Phoenix Death Sword" jawab Kevin. Keduanya menatap dari jauh apa yang tengan dilakukan sepasang anak dan bunda itu saat ini. Mereka berada diruangan lain yang terhalang tembok kaca karena Justin sudah dipindahkan keruangan khusus.


Jesslyn tertegun. "Apa benda itu sama seperti milik bunda?"


"Ribuan kali lipat lebih berbahaya. Benda itu harusnya hanya mitos karena tidak pernah ada yang melihat wujud aslinya selain didalam sebuah buku sihir kuno, tapi adikmu berhasil membangkitkanya" Jelas Kevin.


'Apa Jovan akan menadi grandpa dan bunda?' Jujur saja Jesslyn sama sekali tidak ingin adiknya itu hidup dilingkungan dunia mafia, tapi dirinya tidak mau melarang Jovan melakukan apapun sesuai keinginannya seperti sang ayah.


"Dia tidak akan seperti grandpa dan bundamu, sweetie. Kecuali jika itu memang keinginannya" seolah tau kekhawatiran yang dirasakan keponakannya.


Kepala Jesslyn menunduk dalam, bolehkah ia mengutarakan keinginannya pada adik kembarnya itu. Jesslyn pernah melihat sang bunda terluka parah saat dirinya masih kecil dulu, dan itu cukup membuat ayahnya menggila. Tapi sekarang, dirinya justru melihat sang ayah dalam kondisi yang sama, Jesslyn tidak ingin melihat untuk yang ketiga kalinya.


"Tenanglah, sweetie" Kevin menarik tubuh Jesslyn mendekat kearahnya, memberikan pelukan sayang yang cukup menenangkan gadis remaja itu.


Keano yang berdiri dibelakang Kevin dan Jesslyn menyaksikan interaksi keduanya. Sedikit cemburu karena sejak datang hingga sekarang daddynya itu belum menyapanya sedikitpun.


Keano berusaha mengontrol ekspresinya agar tetap terlihat biasa saja, meski bibirnya sudah mengerucut 10 cm dari tempatnya semula.


"Kkkkk" suara kikikan disebalahnya mengalihkan pandangan Keano dari dua orang didepannya.


Usahanya hancur berantakan begitu mendapati Jeno yang terkikik geli kearahnya. Keano menatap kesal sahabatnya itu, ingin sekali menonjok wajah menyebalkannya jika saja tidak ada Jeven disebelah Jeno yang juga tengah menatapnya geli.


"Daddy" Jeven memanggil Kevin, membuat si empu menoleh. "Mm?"


"Ada yang cemburu"


"Cemburu?"


"Tuh" dengan kompak kedua kaka beradik itu menunjuk Keano yang mendelik kesal.


"Ahhh, putra daddy cemburu ternyata. Kemarilah sayang" Kevin merentangkan kedua tangannya meminta putranya untuk memeluknya.


Tapi pelukan dari Keank Yang2didapatnya justru malah Jesslyn yang kembali memeluknya, gadis itu bahkan meleletkan lidahnys kearah Keano.


"Jesslyn!!!"


"Apasih berisik!!!"


"Daddyyyy..."


"Hahahah lepas dulu ya sweetie"


"Tidak mau! Wleee"


"Papahhh"


"Haiiishh kalian ini"


"Hihihi Kiransa peluk daddy juga yeayyy"


"Kiran!!!!"


"Hahahaha"


Dalam diam Ara memandang haru pemandangan didepannya. Tangannya mengelus perutnya yang mulai terlihat buncit. Aldre sudah menjalani hukumannya, lelaki itu kini berada diruang bawah tanah.


Sampai dirinya melahirkan, Ara tidak boleh bertemu Aldre. Hukuman itulah yang akhirnya mereka dapatkan.


"Ra..." Panggil Carissa pelan. "Iya" Ara menoleh dengan senyum diwajahnya.


"Jangan sedih"


"Aku gak sedih, Car. Aku hanya membayangkan anakku akan selucu dan semenggemaskan mereka"


"Tentu saja. Kau dan Aldre sangat menggemaskan dulu. Aku bahkan ingin selalu mencubit pipimu jika saja Aldre tidak melotot kearahku"


"Hihihihi"


"Semoga ka Justin cepat sembuh"


"Hahahaha, cup cup sayang"


*


*


Pengobatan yang Isabella lakukan pada suaminya berjalan dengan baik. Keadaan Justin sudah jauh lebih baik, lelaki itu sudah merespon jika diajak bicara meski belum sadar sepenuhnya. Persis seperti orang yang sedang koma.


Sore ini Ara bertugas menjaga Justin. Sebenarnya semua orang melarangnya mengingat kondisi kehamilan Ara yang masih rentan, tapi wanita itu ingin sekali berada didekat kaka iparnya ini. Satu-satunya yang menjadi paling pertama membelanya.


Sepertinya adik bayi tau jika pamannya sedang sakit, jadi dia tidak ingin jauh sedikitpun.


"Cepat sembuh ka Justin. Ka Justin sudah berjanji akan menemani Ara selama Aldre tidak ada disamping Ara" ucapnya lirih.


Ara hampir menangis jika saja Valerie tidak menerobos masuk. "Bibi Ara" suara imut Valerie membuat wanita hamil itu gemas.


Tangan Ara terjulur hendak mencubit pipi temban itu, belum tersentuh dehemn keras sang kaka menghentikan niatnya.


"Ekhem!!"


"Dasa pelit"


"Kikikiki"


"Makanlah. Ka Rion bilang kamu hanya makan sedikit tadi" Isabella meletakkan nampan didepan Ara.


"Makasih kaka" Ara mengepalkan kedua tangannya untuk berdoa, setelah selesai langsung meraih garpu dan sendok lalu melahap habis makanannya tanpa tersisa.


"Dedek bayi lapar ya" Valerie mengelus perut buncit Ara mengajak bayi kecil yang belum terbentuk itu bicara.


*


Ana dan Daniel berjalan menuruni tangga yang membawa mereka menuju penjara yang berada di ruang bawah tanah. Ada nampan besar berisi makanan siang, beberapa roti dan dua botol air mineral.


Mereka tidak hanya berdua, ada Henry didepan mereka yang mengawal keduanya. Henru adalah bodyguard pribadi Ara, jadi remaja 18 tahun itu juga yang akan mengawasi Aldre selama dalam masa hukuman.


Langkah mereka berhenti disebuah sel yang hampir berada diujung. Henry membuka gembok dan rantai yang mengunci pintu sel kemudian membiarkan Ana dan Daniel masuk kedalam.


"Kaka bawakan makan siang" ucap Ana.


"Bagaimana pengobatan ka Justin?" Tanya Aldre.


"Berjalan lancar. Ara sedang menjaga ka Justin sekarang, sepertinya anak kalian tau bahwa pamannya sedang sakit jadi ingin membantu menjaganya"


"Syukurlah" Aldre bernafas lega.


"Makanlah, Al. Ara menyiapkannya untukmu" ucap Daniel.


"Tentu. Kalian tidak pergi?"


"Kami akan menunggu sampai kau selesai"


Aldre mearih sendok dan garpu mulai memakan makanannya dalam diam, tentu saja setelah dirinya selesai berdoa.


Aldre meletakkan sendok dan garpunya kembali setelah makanannya habis. "Apa Ara baik-baik saja selama aku pergi kemarin?"


Ana tersenyum kemudian mengangguk. "Dia baik Al, sangat baik. Morning sicknessnya hampir tidak mengganggunya sama sekali. Hanya makannua yang sedikit sulit"


"Kenapa? Ngidam ya?"


"Tidak. Ara hanya ingin makan masakan ka Bella, mengingat ka Bella masih marah padanya jadi dia tidak berani meminta langsung" jelas Ana.


"Jadi dia mengorbankan Carissa untuk itu. Dan hasilnya Carissa harus absen setiap hari untuk mendapatkan pelototan dari ka Bella" lanjut Daniel.


Aldre tertawa keras. Bagu sekali, ini yang dirinya mau. Anaknya juga harus bisa merepotkan sahabatnya itu.


"Itu yang Aldre mauu" seru Aldre sambil mengacungkan kedua jempolnya.


Daniel mendengus. "Dasar bocah nakal"


.....


T b c?


Bye!