
3 bulan kemudian
Siang ini mansion Courtland dilanda kepanikan akibat Ara yang merasakan nyeri luar biasa diperutnya. Saat berniat untuk tidur siang tiba-tiba saja Ara merasa perutnya begitu nyeri dan sakit. Dirinya juga merasakan ada cairan yang mengalkr diantara kedua kakinya.
Saat itu Ara langsunh menghubungi sang kaka Charles untuk segera kekamarnya, beruntung Charles datang dengan cepat, dan langsung membawanya kerumah sakit.
Semua orang begitu panik saat melihat Charles yang menggendong Ara dengan langkah terburu-buru. Dan disinilah mereka sekarang, dirumah sakit tepatnya didepan ruang operasi. Karena dokter yang mengatakan bahwa Ara harus segera dioperasi karena ketubannya sudah pecah.
"Selamatkan anak dan cucuku, tuhan" Sofia mengepalkan kedua tangannya didepan dada dengan mata terpejam. Merapalkan doa untuk kedua orang yang disayanginya didalam sana.
"Ara dan anaknya akan baik-baik saja, Sayang" Revan merengkuh tubuh sang istri guna menenangkannya.
Semua orang menunggu dengan cemas. Sudah hampir satu jam tapi tidak satupun dari orang-orang yang berada didalam sana sepertinya berniat untuk membuka pintu biru tersebut.
"Lama sekali" gumam Charles khawatir.
Tak tak tak tak
Suara laangkah kaki yang berlari saling bersahutan terdengar dari ujung koridor. Riyani, Rayyan, dan Dion berlari tergesa menghampiri Sofia, Revan, dan Charles.
"Bagaimana keadaan Ara dan anaknya?" Dion bertanya pada sang sahabat dengan raut khawatir yang begitu kentara diwajahnya. Charles menggeleng. "Belum tau, dokter belum keluar sejak tadi"
"Ana?"
"Bukan. Ana sedang menjalani operasi dirumah sakit lain, tapi aku sudah menghubunginya tadi"
"Apa Aldre sudah tau? Dan dimana Carissa?"
"Entahlah. Semoga Daniel sudah memberitahunya. Carissa sedang kontrol tadi, tapi aku juga sudah memberitahunya"
"Jangan khawatir Dion, Ara pasti baik-baik saja" ucap Rayyan menenangkan putranya. Bagaimanapun Dion pasti tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada adik ipar dan keponakannya.
"Tapi tadi ketuban Ara pecah sebelum dibawa kesini, paman" seru Charles.
"Apa?!!"
"Karena itu dokter mengatakan untuk langsung segera dioperasi, ka. Meski Ara sempat menolak karena dia ingin melahirkan normal" jelas Revan.
Rayyan terdiam sebentar, ia jadi semakin khawatir sekarang. "Apa masa hukuman Aldre sudah selesai?"
"Tergantung pada Isabella"
"Hah"
*
Di ruang bawah tanah mansion Courtland.
Aldre tidak menghiraukan kehadiran Isabella didalam selnya. Pikirannya hanya tertuju pada sang kekasih. Entah kenapa ia merasa begitu tidak nyaman dan khawatir.
Isabella melemparkan sepasang pakaian kearah Aldre. "Mandi dan ganti bajumu" serunya datar.
Kening Aldre mengkerut, satu alisnya terangkat. "Aku sudah mandi"
"Lakukan apa yang aku katakan jika kau ingin bertemu anakmu"
"Hah?"
"Ara melahirkan"
"Apa?!"
"Berisik! Cepat mandi! Henry"
"Baik nona" Henry mengantar Aldre menuju kamar mandi berukuran kecil yang berada dipojok ruangan. Membuka kuncinya dan membiarkan Aldre masuk setelahnya.
Daniel berlari dengan terengah-engah menuju sel tempat Aldre berada. Matanya memcing saat tak mendapati adiknya disana.
"Dimana Aldre?" Tanyanya pada Isabella.
"Mandi. Tunggu dia Daniel, aku akan menunggu kalian dimobil" setelahnya Isabella berlalu pergi dari sana.
Daniel berjongkok, mengatur nafasnya yang tak beraturan karena berlari terlalu cepat.
10 menit kemudian, Aldre kembali bersama Henry. "Ka Daniel" panggilnya.
"Sudah selesai? Ayo, ka Bella sudah menunggu di mobil. Dan terimakasih Henry"
"Sama-sana tuan Daniel" balas Henry dengan senyum. "Selamat untuk kelahiran anak anda ya tuan Aldre"
"Terimakasih, Henry. Aku harap kau bisa menjaga anakku juga nanti" Aldre menepuk pelan bahu Henry, kemudian pamit untuk pergi. "Kalau begitu aku pergi dulu ya"
"Hm. Hati-hati tuan"
"Mm"
"Lambat" Isabella berseru jengkel begitu Aldre dan Daniel tiba. Dia menunggu terlalu lama disini.
Isabella mendengus. "Masuk"
Mobil yang dikendarai Isabella keluar dari pekarangan mansion menuju ke rumah sakit tempat Ara berada.
Daniel mengeluarkan ponselnya menghubungi sang istri yang berada dirumah sakit lain.
"Hallo" suara Ana terdengar setelah panggilan terjawab.
"Hallo sayang. Operasimu sudah selesai?" Tanya Daniel cepat.
"Ya. Aku langsunh menuju rumah sakit sekarang. Kamu dimana?"
"Aku sedang dijalan bersama Aldre dan Ka Bella"
"Aldre sudah keluar?"
"Mm"
"Kalau begitu kita bertemu disana"
"Oke"
Daniel menutup panggilan, lalu kembali memasukkan ponselnya kedalam saku.
"Dimana Ana?" Tanya Isabella masih dengan fokusnya ke jalan raya.
"Dia sudah dijalan menuju rumah sakit ka Bella" jawab Daniel.
"Bagus kalau begitu. Dia harus tiba sebelum Ara selesai di operasi" Isabella menambah kecepatan mobilnya, perasaannya sedikit tidak tenang, dan ia ingin cepat sampai ke rumah sakit.
*
Kembali ke rumah sakit.
Seorang suster keluar dari ruang operasi. "Apa dokter Ana sudah datang?" Tanya sang suster pada Dion yang kebetulan berdiri tak jauh dari pintu.
"Belum sus. Tapi beliau bilang sudah dijalan"
"Bagaimana dengan dokter Bella?" Tanya sang suster lagi.
"Dokter Bella juga sudah dijalan" kali ini Charles yang menjawab. "Ada apa sus?"
"Bisa tolong hubungi mereka untuk cepat datang. Kami butuh bantuan mereka sekarang" pinta suster dengan sedikit panik.
"Saya disini sus" Ana datang dengan jas dokter yang menempel ditubuhnya.
"Dokter Ana syukurlah. Salah satu bayi kehilangan detak jantungnya dok, dan yang satu lagi denyut nadinya melemah" jelas suster.
Charles, Dion, dan pada orang tua terkejut dengan perkataan suster. Tidak ada pasien lain didalam kecuali Ara, tentu yang dimaksud suster pasti...
"Bagaimana dengan ibunya?"
"Ibunya mengalami pendarahan dan kami cukup kesulitan menanganinya"
Ana masuk kedalam ruang operasi diikuti suster.
Isabella, Daniel, dan Aldre tiba dilobi rumah sakit. Isabella melemparkan kuncinya pada salah satu security untuk dipindahkan ketempat parkir.
"Dokter Bella" paanggil perawat yang berjaga di bagian resepsionis.
Isabella menoleh. "Ada apa?"
"Anda ditunggu diruang operasi, dok. Adik anda mengalami pendarahan hebat" .
"Terimakasih" dengan setengah berlari Isabella menuju ruang operasi yang berada dilantai satu. Tempat yang sama dengan operasi Carissa pertama kali.
"Isabella" panggil Sofia begitu melihat sang putri.
Berpetan dengan itu, suster yang sebelumnya kembali keluar. "Dokter Bella. Baju anda sudah disiapkan didalam dok" Isabella mengangguk kemudian melangkah masuk kedalam.
"Ada apa dengan Ara?" Tanya Aldre pada sang ibu. "Ibu? Ara kenapa bu?"
"Ibu juga tidak tau Al. Tapi tadi suster bilang salah satu bayinya mengalami henti jantung dan yang satu lagi denyut nadinya melemah"
Aldre shock, tubuhnya linglung, dan hampir terjatuh kelantai jika tidak langsung ditahan oleh Dion.
"Ara..."
.....
T b c?
Bye!