Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
147



Justin mengulum bibirnya demi menahan segala macam ungkapan cinta yang ingin menyembur keluar.


Kapal pesiar kesayangannya sudah berada dalam jarak pandangan matanya. Beberapa menit lagi akan merapat kedermaga.


Sejak pukul 10 malam, Justin sudah berdiam diri dipelabuhan menunggu kedatangan sang istri yang membawa kabur kapal kesayangannya.


"Sabar tuan" Robert berujar dari belakang tubuh Justin.


"Diam sebelum ku potong seluruh gajimu!" Sembur Justin kesal.


Robert merapatkan bibirnya, dirinya ingin tertawa tapi takut rencana liburan bersama keluarganya akan batal karena tidak mendapatkan gaji bulan ini.


10 menit kemudian yang Justin tunggu-tunggu kini telah berada tepat didepan matanya. Diatas deck, Justin bisa melihat sang istri yang berdiri angkuh menatap kearahnya.


"Akan ku buat dia mengandung anak ketujuh kami. Lihat saja nanti!" Justin berdesis dengan hati yang luar bisa gondok dengan tingkah istrinya itu.


"Helo my husband muaaacccchh" Isabella memberikan flying kiss dan lambaian tangan anggunnya kearah Justin, yang dibalas acungan jari tengah Trillionaire tampan itu.


Wajah centil Isabella lenyap berubah menjadi kalem. Dibelakangnya Darren tertawa dengan begitu kerasnya. "Selamat. Aku yakin beberapa bulan lagi anak Aldre dan Ara akan mendapat teman baru" ledek Darren.


"Sialan!" Isabella mengigit bibir bawahnya. Dirinya lupa dengan sifat sang suami yang selalu melampiaskan amarahnya lewat ***. "Mati aku!" Serunya panik.


"Semangat ka Bella" ucap Sin dengan polos, mengangkat satu kepalan tangannya tanda semangat.


"Berisik!"


"Kekekeke"


"Bukankah itu tuan Darren dan nona Sin?" Robert menunjuk dua orang berbeda gender yang berdiri dibelakang Isabella.


Justin baru tersadar dengan kehadiran dua orang yang lainnya karena terlalu fokus pada wanita bar-bara yang sayangnya adalah pujaan hatinya.


"Apa masa hukuman Sin sudah selesai?"


"Mungkin saja, tuan. Atau ini konpensasi"


"Konpensasi apa maksudmu?"


"Pengurangan masa hukuman tuan, atau mungkin saja nona Sin kembali dipindahkan ke LA dengan syarat masih berada dalam pengawasan"


"Seperti tahanan rumah maksudmu?"


"Kurang lebih seperti itu"


Isabella, Darren, dan Sin turun dari kapal, berjalan mendekat pada Justin dan Robert yang sudah menunggu mereka.


Isabella menampilkan cengiran lebarnya, tawa gugup keluar dari bibir tipis ibu enam anak itu. Justin menatap tajam sang istri. Dirinya harus kehilangan jatah malamnya karena istrinya itu yang tiba-tiba pergi dan membawa kabur salah satu kapal kesayangannya.


"Ka Justin bisa mengikatnya sekarang, dan terimakasih atas kapalnya" celetuk Darren memanasi suasana.


Robert meringis mendangarnya, Sin menepum kencang lengan sang kaka, sedangkan Isabella sudah berkeringat dingin.


"Aku bisa jelasin, bok" ucap Isabella memasang wajah memelas.


Sayang sekali Justin sama sekali tidak terpengaruh. "Tidak perlu! Dasar tidak bisa dipercaya. Kalian berdua, kita lanjutkan besok, aku harus mengeksekusi manusia satu ini" Justin menarik kasar tangan Isabella menuju mobil. "Antar mereka Robert"


"Babay. Sampai jumpa, semoga selamatttt.... Diatas ranjang maksudnya" teriak Darren lantang.


"Kakaaaakkk!!"


"Hehehe"


"Mari tuan Darren, nona Sin. Saya akan mengantar kalian pulang"


*


*


08.40am.


"Liat baby, daddymu baru selesai berkelana dialam mimpinya" bibir Ara mencebik sambil berbicara dengan bayi mungilnya.


Pasalnya, Aldre baru saja membuka matanya saat waktu hampir menunjukan pukul 9 pagi. Padahal semalam, lelaki itu yang lebih dulu tidur daripada dirinya. Ara tau Aldre kelelahan, dan Ara bisa memakluminya jika Aldre kelelahan karena bekerja, Ara jelas akan sangat mengerti itu. Tapi masalahanya lelaki itu tidak kelelahan karena bekerja, tapi kelelahan karena bermakn game.


"Selamat pagi, daddyyyyy. Apa mimpi daddy indah?apa luar biasa? Jangan bercerita daddy karena baby sungguh tidak perduli" ucap Ara datar diakhir kalimat.


Aldre menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal. Matanya memicing tipis karena baru saja bangun. Cengiran canggung Aldre tampilkan.


"Mandi sana! Dasar pengangguran!" Ara berseru dengan sangat ketus.


Dengan patuh Aldre melangkah menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya sebelum mendapatkan amukan lain dari kekasih tercintanya itu.


20 menit kemudian Aldre keluar dengan keadaan yang jauh lebih segar. Tetesan air turun dari rambutnya yang basah.


"Alooo baby muach muach" kecupan-kecupan kecil Aldre layangkan pada pipi sang putra. Kepalanya kemudian menoleh pada putri kecilnya yang masih berada didalam inkubator.


"Apa dia sudah menyusu?" Tanya Aldre. Ara mengangguk kecil kemudian menyerahkan putra kecilnya pada Aldre. "Letakkan didalam inkubator, Al. Dia sudah lebih dari 20 menit berada di luar, sejak tadi aku menunggu suster tapi kunjung datang"


"Kemana memangnya?"


Aldre mengambil tubuh mungil itu, menciumnya sekali lagi sebelum memasukkannya kembali kedalam inkubator.


"Carissa tidak kesini?" Aldre berbalik kembali mendekat kearah sang kekasih.


"Nanti siang mungkin. Dia ada kontrol hari ini kan"


"Mm"


Ara merapihkan pakaian rumah sakit yang dikenakannya, mengancingkan kembali dua kancing teratasnya. Mendadak Ara merasa dirinya gugup, matanya melirik kekasihnya yang terus menatapnya lekat.


"Ke-kenapa ka-kamu ngeliatin aku kaya gitu?" Tanya Ara dengan nada gugup yang begitu kentara.


"Memangnya tidak boleh?" Suara Aldre yang berat dan lembut membuat hati Ara menghangat.


"Ya boleh. Tapi gak perlu ngeliatin aku kaya gitu juga"


"Aku lagi menatap indahnya duniaku yang diciptakan tuhan. Jadi aku harusnya dengan setulus hati dan rasa bahagia"


Pipi Ara bersemu merah. Kenapa rasanya seperti remaja yang baru saja jatuh cinta? "Allll. Aku malu" rengeknya.


Aldre terkekeh, gemas sekali calon istrinya ini. "Gemasnyaaa"


Ceklek...


"Ka Darren?" Ara melotot terkejut melihat siapa yang masuk kedalam ruang rawatnya. Seingatnya ka Galih mengatakan bahwa ka Darren tengah mengunjungi Sim, lantas kenapa sekarang dia ada disini?


"Bukannya ka Darren pergi ke tempat Sin?" Tanya Ara. "Kok sekarang ada disini sih? Ka Darren! Ayo jawab!"


"Wowowo sabar little princess. Satu-satu oke" ucap Darren.


Ara menatap lelaki itu kesal. Dirinya kesal karena Darren melupakan janjinya.


"Jangan menatap ka Darren seperti itu, ka Darren minta maaf oke?"


"Pokoknya Ara kesel"


"Iya-iya ka Darren juga kesel"


"Iiihhh ka Darrennn"


"Hehehehe"


Aldre hanya bisa menatap keduanya heran. Tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada kedua orang ini.


"Sin!!!" Teriakan keras keluar dari bibir Aldre, mengakibatkan kedua anaknya menangis karena terkejut.


"Yahhh ketauan" celetuk Darren.


"Sin?" Ara lemas. Tubuhnya lemas, ia tidak percaya dengan pemandangan didepannya saat ini. Bahkan tangisan kedua anaknya pun tidak Ara hiraukan.


Aldre berusha meredakan tangisan kedua bayinya. Merasa bersalah karena sudah membuat mereka terkejut.


"Sin!!" Seruan keras Carissa membuat sikembar semakin menangis kencang.


"Aaaiiishhh jangan berteriak!" Omel Aldre.


Carissa lamgsung menutup mulutnya rapat. Ana yang berada dibelakang gadis itu bergegas menghampiri Aldre, membantunya menenangkan si kembar.


Sin mendekat begitu juga dengan Carissa. "Sin..." Panggil Ara lagi.


"Hai" sapa Sin pelan.


Ara merentangkan tangannya meminta sang sahabat untuk memeluknya. Sin menyambut pelukan Ara keduanya berpelukan erat sambil menangis.


Carissa memukul mukul lengan Darren. Dirinya marah tidak diberitau kedatangan sahabatnya.


"Aduhhh kenapa jadi kaka yang dipukulin?"


"Ka Darren gak bilang kalau Sin akan datang!"


"Namanya juga surprise"


"Bagaimana kamu bisa diizinkan kesini Sin?" Tanya Ana yang tengah menggendong si kecil Aldara.


"Sin tidak datang hanya untuk menjenguk Ara. Mulai sekarang Sin dipindahkan kembali ke LA dengan masih dalam pengawasan" jelas Darren.


"Aaaahh Siinnnn" Carissa berhambur memeluk kedua sahabatnya. Akhirnya setelah sekian lama mereka akan berkumpul kembali.


"Kangeeenn"


"Aku juga kangen kalian"


.....


T b c?


Bye!