
Di dalam mobil, Geo menekan dadanya yang terasa berdenyut. Setelah bertahun-tahun, kenapa rasa sakit itu masih betah bersarang di hatinya.
"Harusnya aku tidak perlu pulang" gumamnya lirih.
Dirinya pikir, melarikan diri dengan alasan pendidikan akan membuatnya lupa dengan segala rasa sakit yang ia rasakan di sini. Nyatanya semua usahanya justru tidak bekerja sama sekali.
Geo tidak tau siapa yang harus dirinya benci. Hatinya? Keano? Atau dia? Siapa yang salah pun, Geo sama sekali tidak tau.
Sejujurnya, Geo sudah melihat kedatangannya dari balik jendela kamarnya tapi dirinya memilih untuk berpura-pura tidak tau.
Geo hanya tidak ingin bertengkar dengan adik kembarnya, di tambah Keano bersikap seperti seorang selingkuhan yang hampir ketauan pacar aslinya.
"Kenapa harus kau, Key? Kenapa aku harus bersaing dengan mu? Tidak bisakah kau mengalah untukku?"
Cklek
Geo buru-buru menghapus air mata yang menggenang di kelopak matanya begitu merasakan pintu mobil di sebelahnya terbuka. Tak Lama sang daddy, Kevin masuk ke dalam mobil, menatap lekat putra sulungnya yang bisa ia tebak hampir menangis.
"Daddy bertanya-tanya kenapa mobil mu tidak juga berjalan sejak tadi. Sedang menangis ternyata" ucap Kevin.
"Aku tidak" jawab Geo cepat.
"Benarkah?" Seru Kevin tak percaya. "Diamlah daddy" sentak Geo sinis.
Kevin menghela nafas berat. "Daddy tau perasaan mu. Daddy dan papah bahkan mengerti kenapa kau memilih untuk pergi"
"Daddy..." Geo menatap Kevin terkejut.
"Daddy tidak akan membiarkan putra daddy bersaing soal cinta. Tidak kamu atau pun Keano. Tidak satupun dari kalian yang akan bersamanya"
"Tapi Keano mencintainya, dad"
"Kau juga, bukan?"
"Dad... Geo--"
"Jika kau terluka karena, maka Keano harus mengerti luka mu. Kalian saudara, berbagi rahim dan segala hal bersama sejak masih di kandungan papah. Jika kau merasakan sakit, maka Keano pun begitu"
"Geo akan mengalah, dad"
"Tidak ada kata mengalah, nak. Dia yang harus mundur dari kalian" putus Kevin mutlak.
*
Di dalam rumah..
"Pulanglah, Jeven" usir Galih halus pada keponakannya itu.
Jeven menatap pamannya bingung. Kenapa dirinya di usir? Biasanya juga tidak masalah jika dia datang.
"Kenapa, pah?" Tanya Jeven.
"Kamu kesini hanya ingin bertemu Keano kan? Maka pulanglah"
"Pah.." Sela Keano.
"Tidak Keano!! Pulang sekarang, Jeven!"
"Pasti karena Geo kan?!" Seru Keano yang mulai kesal.
Galih menatap marah putra bungsunya, netra birunya menusuk tepat kedua netra cokelat milik Keano.
"Sadar kau bicara seperti itu Keano?"
"Tapi memang benar kan? Papah dan Daddy selalu seperti ini jika ada Geo di rumah!!"
Keano marah, dirinya bukan tidak tau apa yang terjadi pada saudara kembarnya dan Jeven. Tapi bukan berarti orang tuanya bisa bersikap tidak adil seperti ini padanya.
Galih kembali mengalihkan pandangannya pada Jeven. "Pulang Jeven!! Dan jangan pernah datang lagi kesini. Mulai sekarang kamu tidak boleh lagi berhubungan dengan Keano!!"
"PAH!!!" Bentak Keano tak terima.
"IYA!! KEANO BERANI KENAPA MEMANGNYA?!!"
BUG!!
Kepala Keano terlempar ke samping dengan keras setelah mendapatkan pukulan telak dari sang kaka.
"Begitu cara lo ngehargain orang tua? Pantes Lo bersikap kaya gitu ke papah hah?!!" Murka Geo.
Keano menatap nyalang saudara kembarnya. "INI SEMUA GARA-GARA LO!! LO GAK PERNAH BERSIKAP ADIL SAMA GUA!!" Tunjuknya tepat di depan wajah Geo.
"Gara-gara gue?! Gue atau Lo sama sifat childish Lo?! Kapan gue gak pernah ngalah sama Lo hah?! Kapan?!"
"Nenek sama kakek bahkan lebih perduli sama Lo daripada gua!! Seumur hidup gua gak pernah di peluk mereka, Keano!! Tapi gua gak pernah protes!! Gua gak pernah nyalahin lo atas apa yang pernah gua terima.
Gak satu orang pun kecuali papah sama daddy jenguk gua selama gua sekolah. Mereka cuma perduli sama Lo!! Lo dan Lo!!
Gua cuma punya Jeno yang mau nerima gua. Gua cuma punya abang dan Lo ambil dia!! Belom puas Lo hah?!!
Belom puas ambil kebahagian gua?! Sejak kecil bahkan sejak kita lahir gua selalu ngalah sama Lo!! SELALU BAHKAN SAMPAI SEKARANG!!
Gua juga gak marah sama lo saat lo minta abang jauhin gua!!! Lo bahkan milih sekolah yang berbeda dari gua supaya abang gak perlu ketemu gua kan kalau dia ngunjungin Lo?! Lo pikir gua bego?!! Lo childish Keano!!
KENAPA GAK LO MATIIN GUA SEKALIAN?!!"
Tepat setelah meluapkan seluruh isi hatinya Geo pergi begitu saja. Membawa mobilnya melaju kencang meninggalkan area mansion keluarganya. Tidak memperdulikan sang adik, Kiransa yang berlari mengejarnya sambil menangis.
Keano terdiam. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya setelah mendengar semua yang diucapkan sang kaka. Begitupun Jeven yang tidak bereaksi apa pun.
Galih menangis keras. Hatinya terasa teriris setelah mendengar pengakuan sang anak, bahkan tubuhnya sampai jatuh meluruh ke lantai. Kevin menghampiri sang istri, memeluk erat tubuh lelaki yang sangat di cintainya itu.
Kiransa kembali masuk terburu-buru ke rumah. Tangan kecilnya memukul-mukul kencang tubuh Keano.
"Kiran benci ka Keano!! Ka Keano udah bikin ka Geo terluka!! Kiran benci kaka!!!" Teriaknya histeris.
****
"Gua gak tau kalau Keano seegois itu" ucap Jovan.
Setelah Kiransa menghubungi sambil menangis dan menceritakan kejadian yang terjadi di mansion Aldebaran. Jovan dengan cepat bergegas menyusul sahabatnya itu.
"Udah biasa" jawab Geo santai sambil menyesap rokok miliknya.
"Kenapa Lo diam?"
"Terus gua harus ngapain? Ngedrama? Sorry, gua bukan soulmate Lo"
"Cih!"
"Virzan khawatir"
"Apa urusannya?" Tanya Geo heran.
"Gua lagi di mansion grandpa tadi. Kita lagi kumpul keluarga" jelasnya singkat.
"Terus?"
"Lo gak tau kalau Virzan suka sama Lo?" Ujar Jovan mengungkapkan fakta yang tidak pernah Geo tau sebelumnya.
"Anjai pewaris tahta" balas Geo bercanda.
"Gua serius"
****
T b c?
Bye!