Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
18. Silent



Hari berlalu lebih cepat. Hubungan Erick dan sang kakek kini sudah kembali membaik setelah Rayyan akhirnya berhasil menekan egonya dan meminta maaf atas sikapnya pada sang cucu.


Meski begitu, setelah berbaikan pun terkadang Erick masih enggan jika di ajak mengobrol oleh sang kakek, mengingat kakeknya itu masih belum meminta maaf pada sepupu kesayangannya.


"Kapan Jeno akan berangkat menyusul Geo, sayang?" Ana bertanya pada Erick yang membantunya merapihkan meja makan.


Gerakan Erick yang tengah menata piring terhenti, menoleh pada sang mamah. "Entahlah. Erick belom pernah bertanya"


"Bukankah Jeno anak aksel?" tanya Ana lagi.


"Aksel?" Erick menatap bingung mamanya. Apa itu Aksel?


"Akselerasi sayang. Yang lompat kelas kamu tau?"


"Ahh, iyaiya. Erick baru ingat kalo Jeno anak Aksel"


"Jadi?"


"Entahlah. Nanti Erick tanyakan pada Jeno. Tumben mamah nanyain ini, kenapa?"


"Hanya ingin tau, apakah putra mamah yang tampan ini sudah siap berjauhan dengan kekasihnya atau tidak"


"Aahhh mamahhhh"


"Hehehe. Jangan di pikirin ya, mamah kan cuma nanya"


"Mamah jelek"


"Loh ngambek"


Mansion Scander.


"Kapan mau bilang ke Erick?" Jeven memandang lekat Jeno. Adiknya itu tengah melamun entah memikirkan apa.


"Jen!" panggil Jeven lebih keras. Jeno tersentak kecil, kepalanya spontan menoleh pada sang abang yang menatapnya lekat.


"Kau melamun"


Jeno menggeleng, memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut. "Tidak. Aku hanya sedikit pusing" jawabnya yang tentu saja sebuah kebohongan.


"Kau sudah bicara pada Erick?" Jeven kembali mengungkapkan pertanyaaan yang dirinya ajukan sebelumnya.


Jeno menggeleng kecil. "Aku belum mendapat kesempatan"


"Kau harus segera memberi tahunya. Waktu keberangkatan mu semakin dekat"


"Ya. Aku akan segera bicara padanya"


**


Pagi harinya, Cartesy High School.


Hari ini sekolah tampak ramai karena ada pensi, para siswa bertebaran di setiap sudut sekolah bahkan ada beberapa siswa dari sekolah lain yang mulai berdatangan. Sebab pensi kali ini mengundang beberapa artis terkenal dan di buka secara umum, jadi siswa sekolah lain yang ingin menonton pun bisa datang. Tentu saja dengan membeli tiket yang di jual oleh anak osis.


Beberapa stand makanan yang didirikan oleh perwakilan setiap kelas mulai berdiri di sekitar area lapangan. Ada juga yang membuka stand aksesoris dan photobook, yang langsung ramain di serbu oleh para remaja yang ingin mengabadikan momen.


Berbeda dengan Erick, setelah meletakkan tas miliknya ke dalam loker, Erick berjalan menyusuri koridor. Matanya melihat ke setiap sudut seperti tengah mencari seseorang. Tidak satu pun dari para sahabatnya yang terlihat, bahkan sepupunya Keano pun belum menampilkan batang hidungnya.


"Dimana mereka?" gumam Erick. Matanya menelisik ke setiap area tapi tidak menemukan satu pun dari mereka.


"Kantin kali ya?" Erick memutar arah tujuannya menuju kantin. Biasanya para sahabatnya itu akan berkumpul di sana.


Setibanya di kantin Erick mendapati bangku yang biasa mereka tempati masih kosong, bahkan area kantin tidak seramai biasanya karena hampir semua orang berkumpul di lapangan.


Kedua tangan Erick tersampir di pinggang, menghembuskan nafas pelan dengan bibir yang sedikit mengerucut ke depan.


"Kemana hayoooo???"


"AISSSHHH- ngagetin lo anjing!" sebuah suara yang berasal dari belakang telinganya mengejutkan Erick. Dirinya hampir saja melayangkan tinju pada sosok yang membuatnya terkejut.


"Kkkkkk" Keano, pelaku yang membuat Erick sukses mengumpat keras di lagi hari tertawa dengan bahagianya.


"Kok lo sendiri? Yang lain mana?" tanya Erick setelah berhasil meredakan tawanya.


"Ya ini gua lagi nyari. Pada belom dateng kali ya"


"Telpon coba"


"Mager ah"


"Bodo amat anying"


"Kkkkk"


Di parkiran.


Virzan, Brian, dan Jeno baru saja tiba dengan motor mereka disusul Jovan dan Jesslyn yang mengendarai mobil.


Kelimanya sedikit terlambat karena jalanan yang cukup padat hari ini. Jeno melepaskan helm yang masih menempel di kepalanya, mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Jarinya bergerak cepat mencari nomor sang kekasih. Hanya ada suara deringan yang terdengar, sepertinya Erick tidak tau jika dirinya menelpon. Kebiasaan Erick yang selalu mensilent ponsel miliknya.


"Mau naro tas dulu gak?" tanya Virzan. "Taro loker aja lah" jawab brian sembari bergerak turun dati motor.


"Ayo"


Kelimanya berjalan beriringan menuju loker untuk meletakkan tas mereka, kecuali Jeno yang tidak membawa apapun kecuali ponsel yang berada di genggamannya dan dompet di saku celananya. Jeno memang tidak mau repot membawa tas jika sedang tidak ada pelajaran seperti ini.


Setelah selesai menyimpan tas mereka, kelimanya pun berjalan beriringan menuju kantin. Di sepanjang koridor banyak para siswa dan siswi yang menyapa mereka hangat, meski hanya di balas senyuman tipis.


Tidak heran jika mereka selalu menjadi pusat perhatian, terutama Jeno dan Virzan yang merupakan pewaris sebuah perusahaan besar nomor 1 dan 2 di dunia. Jelas akan ada banyak orang yang berlomba-lomba untuk mendapati hati keduanya.


"Nah tuh mereka dateng" kelimanya di sambut oleh seruan Keano. Erick menoleh ke belakang, posisi duduknya memang membelakangi pintu kantin. Mendapati kekasih dan empat sahabatnya yang lain baru saja datang.


"Kalian udah dari tadi?" tanya Brian yang sudah berdiri di hadapan Keano dan Erick.


"Gaj juga sih, kita baru lima menit disini" jawab Keano.


Jeno merunduk, menyamakan posisi kepalanya dengan wajah Erick. "Aku nelpon kamu tadi, hpnya di silent lagi ya?"


Spontan Erick langsung menampilkan cengirannya. "Hehehe, baru aku lihat. Tadinya mau balik nelpon, tapi kamu udah dateng"


Jeno menjawil hidung mancung kekasihnya itu. "Kebiasaan" ucapnya. Meraih ponsel Erick yang berada di atas meja, menyalakan nada dering di ponsel kekasihnya itu.


"Jangan di matiin! Kalo ada yang nelpon dan itu penting, nanti kamu jadi gak tau"


Erick mengangguk patuh. "Oke"


Kedua tangan Brian menangkup pipi Virzan, menirukan apa yang di lakukan Jeno pada Erick sebelumnya. "Jangan di matiin. Nanti ad--"


"Apasih anying!" belom selesai Brian bicara, Virzan sudah lebih dulu menangkis tangan kaka sepupunya itu.


"Biar mesra"


"Pala lo mesra!"


"WKWKWKWKWK"


****


See you!