Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
158



Hari-hari terus berlalu. Sejak kejadian dimana Carissa bertemu sang mantan hingga kini dirinya masih belum bicara pada sahabatnya, padahal Sin selalu mengiriminya pesan tapi tidak satu pun yang Carissa jawab.


Bukannya marah atau kesal, Carissa hanya tidak tau harus menjawab apa jika Sin bertanya perihal dirinya dan Rolen. Carissa tidak ingin lagi mengingat apa pun tentang lelaki itu.


Dan hari ini dirinya memutuskan untuk kembali memulai aktifitasnya setelah berhari-hari mengurung diri di dalam kamar hingga membuat keluarganya kebingungan.


Pagi ini Carissa sudah rapih dengan pakaian kerjanya. Sejak dirinya sembuh Carissa memutuskan untuk mulai bekerja, gadis itu melamar di perusahaan kaka sepupunya, Justin bersama para pelamar lain. Melamar di bagian manager pemasaran, dan itu cukup membuat Justin terkejut karena saat sedang melakukan interview dirinya mendapati adik kecilnya menjadi salah satu dari sekian banyak pelamar.


Padahal Carissa bisa saja mengatakan pada Justin jika ingin bekerja di perusahaannya. Tapi gadis cantik itu bilang, dia ingin memulainya dari nol. Tidak ingin bergantung pada keluarganya.


"Selamat pagi sayang" Kalea menyapa sang Putri yang baru saja memasuki ruang makan.


"Pagi mamih" Carissa memberikan satu kecupan kecil di pipi sang mamih.


"Wahhh, Putri kecil sudah besar" ledek Sania yang tengah menyiapkan sarapan.


Wajah Carissa merengut seketika. Padahal suasana hatinya sedang sangat baik pagi ini, tapi kaka iparnya itu malah dengan senang hati merusaknya.


"Jangan menggodanya, Sania. Nanti dia ngambek lagi pada mu" tegur Kalea.


Sania terkikik, sangat bahagia menggoda adik iparnya. "Iya mih iya"


"Selamat pagi" sapaan hangat dari Jason dan Sena datang bersamaan.


"Selamat pagi"


"Dimana David?" tanya Kalea. "Sedang menerima telpon, mam" Jawab Jason mengambil tempat di sebelah kanan.


"Kau yakin tidak ingin pindah ke perusahaan keluarga kita, sayang?" Jason bertanya pada sang adik yang tengah sibuk dengan ponselnya.


Carissa menggeleng keras. Mendongakkan kepalanya menatap kaka keduanya. "Tidak. Gaji di perusahaan ka Justin lebih besa" jawabnya santai.


Jason menatap sinis adiknya. Bibirnya mencibir dengan nada yang sangat ketus.


"Hahahaha. Udah ah, ayo sarapan" lerai Sena.


Tidak lama kemudian David masuk ke dalam ruang makan. Dengan setelan casual khas orang yang hendak bepergian.


"Loh kok kamu gak pakai baju kerja?" Sania menatap bingung sang suami yang pagi ini berpakaian santai. Padahal dirinya sudah menyiapkan setelan kerjanya.


"Aku tidak akan pergi ke kantor hari ini. Ada sedikit urusan di luar" jawab David. "Jason tolong handle perusahaan selama kaka pergi"


"Aman ka" balas Jason sambil mengacungkan jempol.


*


Pagi ini Darren tengah sibuk membereskan sisa sarapan mereka, kebetulan dirinya dan sang istri, juga anak mereka menginap di rumah Sin sejak semalam. Tapi bukannya membantu Sin malah mondar-mandir mengikuti dirinya dari belakang.


Darren berbalik, menatap malas sang adik. "Kamu tuh ngapain sih ngikutin kaka terus dari tadi" keluh Darren.


Sin hanya menampilkan cengiran miliknya. "Hehehe"


"Kamu mau apa hm?"


"Bolehkah aku bekerja?"


"Bekerja?" Beo Darren. Sin mengangguk dengan semangat.


"Hm? Kamu benar-benar ingin bekerja?" tanya Darren lagi. Sin kembali mengangguk, kali ini lebih semangat.


"Nanti kaka tanyakan pada ka Bella ya"


"Janji?"


"Janji"


"Yes. Thank you kaka, cupp..."


Setelah memberikan kecupan singkat di pipi sang kaka, Sin berlari kabur kembali menuju kamarnya.


"Lalu kamu jawab apa?"


"Aku bilang aku akan tanya pada Isabella terlebih dahulu"


"Kenapa tidak pindahkan butiknya saja ke sini" usul Lynea.


"Oh benar jugs. Aku tidak terpikirkan. Tapi kita tetap harus meminta ijin kaka sepupu dan paman mu"


"Aku mengerti"


Lynea berjalan ke sisi samping rak. Mengambil gelas berukuran sedang, lalu menuangkan es jeruk dari dalam teko ke gelas. Kemudian membawanya ke ruang santai.


"Kamu gak mau bantuin aku?" Suara Darren menghentikan langkah sang istri.


Lyne berhenti, menoleh dengan pandangan malas ke arah sang suami. "Males banget. Semangat kerjanya" setelahnya kembali melenggang pergi dari sana.


Darren hanya bis memandang tumpukan piring kotor di hadapannya dengan lemas. Bisakah piring-piring ini mencuci dirinya sendiri?"


"Harusnya aku tidak membuat perjanjian itu dulu" ucapnya sedih.


*


*


"Ouh baby Aldara pintar sekali, tidak rewel seperti adiknya"


Rengekan kecil di sebelahnya menyauti perkataan Aldre. Alaner merengke kecil, mengajukan protest tak terima karena dirinya di bilang rewel oleh sang daddy.


"Tuh tuh tuh. Baby Ra dengar? Ada yang protes sayang" ucap Aldre lagi yang membuat rengekan Alaner berubah menjadi lebih keras.


Aldre terkikik bersama Aldara yang tertawa lucu. Gemas sekali putranya ini, bisa-bisanya dia mengertj apa yang dirinya katakan pada saudara kembarnya.


"Kenapa? Al mau marah sama daddy? Marah aja daddy gak takut" tantang Aldre.


Rengekan Alaner terhenti, raut bayi tampan itu berubah menjadi datar dengan kedua mata yang melotot lebar ke arah sang daddy.


Tawa Aldre menggema. Putranya sungguh pintar, bagaimana mungkin bayi berusia tiga bulan bisa sepintar ini?


"Wahhh anak ini berbahaya. Kenapa Alaner bisa mengerti perkataan daddy hm?"


Alaner tertawa gemas merespon Aldre. Dirinya sudah seperti aktor cilik yang pandai berakting.


Puk puk puk


Aldara memukul-mukul kepalan tangan kecilnya ke pipi saudara kembarnya. Seperti memberikan pujian betapa pintar adiknya itu.


"Ka Ara juga bangga pada dede Al ya. Uhhh anak daddy pintar sekali" Aldre mencium gemas keduanya bergantian.


Di ambang pintu kamar, Ara menatap ketiganya dengan gelengan kepala. "Ada-ada saja tingkahnya" bisiknya pelan.


Ara mendekat dengan dua botol susu hangat di kedua tangannya. Menyerahkan masing-masing pada kedua anaknya yang di terima si kembar dengan rakus. Sepertinya mereka kelelahan meladeni candaan sang daddy.


"Mommy harus menghindari kalian dari daddy. Kalian bertiga tidak jelas jika berkumpul bersama" Ara menggerutu sebal.


"Bilang aja mommy iri karena tidak di ajak" balas Aldre sinis.


"Nyinyinyi Aldre jelek!!"


"Dih"


.....


T b c?


Bye!