
Pukul 7 malam akhirnya kedua anak kembar Ara dan Aldre dipindahkan keruang rawat sang ibu. Selama itu juga Aldre tidak beranjak dari posisinya yang tengah menjaga kedua anaknya, sedangkan Carissa gadis itu memutuskan untuk pergi ke ruang rawat sahabatnya satu jam kemudian.
Ceklek...
Pintu ruang rawat Ara terbuka, membuat semua orang yang berada disana reflek menoleh. Dua orang suster yang mendorong masing-masing satu inkubator yang berisi dua bayi mungil, dan seoarang lelaki tampan dengan keadaan agak kacau melangkah masuk bersamaan.
Aldre menoleh keranjang rumah sakit tempat kekasihnya berada. Kelopak mata gadis itu masih terpejam erat. Apakah Ara belum sadar sejak tadi?
"Ara belum sadar ya?" Tanya Aldre berbisik pelan yang masih bisa didengar.
"Tadi dia sempat sadar, tapi hanya sebentar" jawab Ana.
Aldre mendekat pada sang kekasih, memeluknya erat, dan menghujani wajah kekasihnya dengan kecupan-kecupan kecil. Aldre menyatukan keningnya dan kening Ara. Tangis bahagianya kembali menguar, jatuh tepat diatas kening Ara, yang ternyata berhasil mengganggu tidur tenang wanita yang baru saja melahirkan itu.
"Al..." Panggil Ara lirih nyaris berbisik.
Aldre mengangkat kepalanya, menatap wajah sayu Ara yang tengah memandangnya. "Hai... How do you feel?"
"Mm.. Better. Where's the baby?"
"Here"
Aldre menggeser tubuhnya membiarkan Ara melihat anak-anak mereka. Mata Ara berkaca-kaca ketika mendapati kedua anaknya. Beberapa saat kemudian kening Ara mengkerut.
"Kenapa hanya dua?" Tanyanya lirih. Aldre menatap Ara bingung. "Hanya?"
"Ara melahirkan bayi kembar tiga Aldre. Tapi yang satu tidak bisa diselamatkan karena tidak berkembang dengan baik. Dia berhenti berkembang saat usia kandungan 5 bulan" jelas Ana.
Wajah Ara berubah sedih dengan cepat, padahal dirinya sudah membayangkan akan menjadi seperti sang kaka dan sang mamah yang mempunyai bayi kembar tiga.
"Tidak apa-apa, little princess. Yang terpanting kedua bayimu sehat dan baik-baik saja" Revan mengelus sayang rambut sang putri.
"Waktunya menyusui bayi anda nona Ara" ucap salah satu suster. Ara tersentak. "E-eh? Ba-bagaimana caranya?"
"Kami akan membantu anda" suster tersebut kemudian mengeluarkan salah satu bayi dari dalam inkubator dengan hati-hati.
"Apa akan baik-baik saja jika dia keluar dari inkubator ?" Tanya Charles agak khawatir dengan keadaan kedua keponakannya.
"Tentu tuan. Selama mereka tidak berada diluar terlalu lama" sang suster kemudian menyerahkan bayi perempuan digendongannya kepada sang ibu.
Ara menerima bayinya dengan hatu-hati, dia agak takut jika menggendong bayi yang masih merah seperti ini.
"Keluar Al" pinta Ara pada sang kekasih. Aldre mungerut tak suka. "Tidak mau"
"Alllll. Keluar"
"I said no. Aku mau disini, aku mau lihat anakku menyusu" ujarnya diiringi seringaian kecil.
"Aldre!" Sentak Ara pelan. "Kenapasih? Malu? Lagian aku udah lihat semuanya" balas Aldre tak mau menyerah.
"Aaks--" Isabella membekap mulut Aldre yang hampir berteriak karena dirinya menarik kencang telinga bocah nakal itu, kemudian menyeretnya keluar dari sana.
Ara terkikik geli. Kemudian mulai membuka kancing baju rumah sakit yang dikenakannya seperti arahan suster.
Diluar ruangan
Tangan Aldre mengusap-usap.kasar telinganya yang memerah, wajahnya merengut kesal. Ia masih ingin bersama anaknya, tapi wanita menyebalkan ini mengganggu kesenangannya.
"Apa hah?!" Seru Isabella setengah berteriak. "Sudahlah, bee" lerai Justin.
"Kejam! Cuma Ka Bella yang tega memisahkan seorang ayah dari anaknya. Tidak berperikeayahan" Aldre berucap dengan penuh dendam.
"Berisik! Lagipula aku tidak sudi keponakanku memiliki ayah seperti mu!"
"Hey! Bagaimana jika anakku kekurangan kasih sayang seorang ayah? Apa ka Bella mau tanggung jawab?!"
"Aku tidak perduli ashole! Jauh lebih baik jika keponakanku tidak memiliki ayah!"
Tangan Aldre meremata erat baju bagian dadanya, wajahnya menunjukan ekspresi terluka yang begitu dramatis.
"Ka Bella menyakiti hati seorang lelaki tampan yang baru saja menjadi ayah bagi dua orang anak. Apa ka Bella sadar apa yang ka Bella telah lakukan?" Kata Aldre seperti orang tersakiti.
Isabella diam memandang bocah sialan didepannya ini dengan wajah datar, lalu menoleh pada sang sahabat.
"Kau atau aku yang membuatnya koma?" Tanyanya tajam.
Ara yang baru saja selesai menyusui kedua bayinya terperanjat karena tindakan kekasihnya itu.
"Kamu kenapa sih? Lari-lari kaya gitu? Nanti kalau anak kita kaget gimana?"
"Ka Bella... Mau membuatku koma"
"Hah?"
"Ka Bella, sayang. Dia bilang mau membuatku koma"
"Apaansi? Tau ah. Aku pusing ngeliat kamu" Ara tidak mau report memikirkan kelakuan kekasihnya itu. Ia memutuskan untuk kembali membaringkan tubuhnya.
"Kalau begitu kami pamit keluar dulu, nona Ara. Tolong jangan lupa untuk menghabiskan makan malam anda, karena anda membutuhkan banyak nutrisi selama menyusui" ucap suster.
"Tentu, terimakasih suster"
"Sama-sama. Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu"
Aldre melangkah mendekat pada inkubator kedua anaknya setelah kedua suster keluar. Jarinya mengetuk-ngetuk pelan kaca inkubator.
"Halo anak daddy. Nyenyak sekali tidurnya" Aldre menyapa dengan nada yang begitu riang.
"Apa jenis kelamin mereka?" Tanya Aldre pada Ara.
"Sepasang. Tapi yang perempuan yang menjadi kaka" jawab Ara. Aldre tersenyum. "Tidak masalah siapa yang menjadi kaka, yang penting mereka bisa akur dan saling menjaga seperti semua saudramu"
"Mm. Tentu"
"Kamu sudah siapkan nama untuk mereka?"
"Aldara Jeverus Skholvies dan Alaner Revano Courtland"
"Kenapa marganya berbeda?"
"Biar semua orang tau, jika mereka berani melukai kedua anakku maka mereka akan berhadapan dengan dua keluarga mengerikan"
Kekehan manis keluar dari bibir Ara setelah mendengar jawaban Aldre. "Bisa-bisanya kamu berpikiran seperti itu"
"Hehehe. Nah ayo makan" Aldre mengambil nampan berisi makan malam Ara dari atas meja. Membuka pembungkusnya lalu mulai menyuapi sang kekasih.
"Makan yang banyak momny" godanya. Ara mendengus. "Daddy jelek"
"Hahaha"
Dibalik jendela.
"Aldre akan menjadi ayah yang hebat" gumam Charles. Isabella mendengus tak suka. Bibirnya mencebik keras.
"Kau masih kesal dengan adikku?" Tanya Galih sewot. "Aku lebih kesal melihat wajah jelekmu" jawab Isabella asal.
"Heh--"
"Berisik!"
"Ka Justin tolong ajak istrimu wleowleo. Dia menyebalkan tidak mendapat wleowleo darimu sepertinya" Galih berucap pada Justin yang menatap dirinya dan Isabella jengah.
"Tidak perlu gengsi jika kau ingin, Ge. Ada kamar mandi tidak jauh dari sini" balas Isabella polos.
"Anj-- mmmhhh" belum selesai berbicara mulut Galih sudah ditutup oleh sang suami. "Jangan mengumpat didepan anak-anak" tegurnya.
Galih merengut kesal. melirik sinis wanita menyebalkan yang sayangnya adalah soulmatenya.
"berhenti menjaili orang lain, Bee. sudah aku katakan berapa kali!" tegur Justin.
"kekekeke"
.....
T b c?
Bye!