
Pasar pagi, 06.30 am
Hari ini adalah hari minggu, itu kenapa sejak pagi buta Jeno sudah berkeliaran di pasar pagi. Entah apa yang tengah di lakukan bocah itu, padahal dia sudah sarapan dan mencoba beberapa jajanan, tapi Jeno seperti enggan untuk kembali ke asrama.
Jeno menatap seluruh area pasar yang mulai tampak ramai karena hari yang sudah menjelang siang.
Saat ini Jeno tengah menikmati segelas lemon tea hangat sambil duduk di pinggir trotoar.
Suasana ramai disini ternyata cukup mampu membuat Jeno tenang. Dirinya bisa melupakan sedikit rasa lelahnya, ternyata pasar juga bisa menjadi tempat healing terbaik.
"Aku bisa mengajak Erick kesini nanti, dia pasti tidak akan berhenti jajan" Jeno bergumam diiringi tawa kecil.
Melihat banyaknya berbagai macam penjual makanan membuat Jeno kembali teringat pada sang kekasih. Tempat-tempat seperti ini tidak akan mungkin Erick lewatkan.
Nafas Jeno berhembus pelan, matanya menatap kosong ke arah gelas berisi teh hangat yang telah tersisa setengah. Memainkan nya dan sesekali menggoyangkannya.
"More than five years" . "It's a long time"
Kepalanya menunduk dalam, air mata menggenang di pelupuk matanya. Jeno tau semua orang sangat menentang keputusannya, dan sungguh semua ini juga sangat berat baginya.
"Kenapa kisah cinta remaja 14 tahun bisa seberat ini? Menyebalkan" serunya sinis.
Setelah satu jam lebih duduk di trotoar, Jeno akhirnya memutuskan untuk pulang. Sudah terlalu lama dirinya berdiam diri sambil melamun di pinggir jalan, sampai beberapa orang mungkin sudah bosan melihatnya.
Dengan langkah gontai, Jeno berjalan ke arah parkiran. Ia datang dengan mobil kampus karena mobil miliknya tengah berada di bengkel.
"Huh"
"Mari kembali menjalani hidup"
Taman komplek, Cartesy School.
Geo, Kanfa, Hiro dan Noer salah satu teman satu kelas Geo yang sudah akrab dengan mereka berempat.
"Kita ngapain sih duduk di sini?" Noer bertanya pada ketiga temannya hanya diam sambil memandang ke arah gerbang komplek sejak beberapa puluh menit yang lalu.
Pasalnya mereka tidak hanya terus menatap ke arah gerbang, tapi juga duduk di depan pintu taman menghalangi jalan. Sudah persis seperti pagar yang berjejer.
"Nungguin Jeno" jawab Kanfa yang masih tidak mengalihkan pandangannya.
Noer menggaruk kepala bagian belakangnya yang sama sekali tidak gatal. Ia tidak mengerti kenapa mereka harus menunggu Jeno sambil duduk di depan pintu taman seperti ini. Mana menghalangi jalan pula.
"Harus banget nunggu disini?" Tanya Noer. "Iya!!" Ketiganya menjawab dengan kompak yang membuat Noer cukup terkejut.
Noer hanya bisa menghembuskan nafas pelan, ia tidak mau ikut-ikutan tingkah tidak jelas ketiga temannya, lebih baik ia fokus pada makanan miliknya yang belum tersentuh.
Beberapa menit berlalu, Hiro, Kanfa, dan Geo masih fokus pada kegiatan mereka, sedangkan Noer sudah sampai di makanan terakhir miliknya.
"Kalian ngapain disini?" Sebuah suara mengejutkan Noer dari acara mengunyahnya.
Dengan reflek Noer mendongak pada sosok yang tengah berdiri di depannya. "Lah, Jen?" Kagetnya begitu melihat Jeno.
Netra hazel Jeno menatap ke empat sahabatnya itu heran. "Kalian ngapain duduk disini?" Jeno kembali mengulang pertanyaannya.
"Nungguin lo" jawab Noer. Satu tangan Noer yang tidak memegang apapun menepuk pelan bahu Hiro.
"Ro ro" panggilnya. Hiro menepis tangan Noer. "Bentar Er, gua lagi sibuk" jawabnya masih dengan posisi yang sama.
"Halah fokus fokus tai. Ini Jeno disini woy" seru Noer cukup keras.
Geo, Kanfa, dan Hiro kompak menoleh ke belakang. "Dih si anjir, di tungguin dari tadi udah disini" semprot Kanfa kesal.
Satu alis Jeno menukik ke atas. "Yang nyuruh lo nungguin disini siapa? Ngalangin jalan lagi"
"Bocah magadir emang" balas Hiro.
Plak!!
Jeno mengerang kesakitan, memegang kepalanya yang batu saja mendapat ciuman dari sebuah sepatu putih.
Jeno menatap kesal soulmatenya itu, bisa-bisa nya Geo memukul kepalanya dengan sepatu yang entah milik siapa itu.
"Sakit bodoh"
"Bodo amat!"
"Yo sepatu gua yo" seru Kanfa mengambil kembali sepatu miliknya yang di lepaskan paksa oleh Geo dan digunakan cowok itu untuk memukul kepala Jeno.
Neor bangkit dan melerai keduanya. "Udah-udah, malah ribut lu berdua. Ayo balik, udah siang nih" ucapnya. "Mana mobil Jen?" tanya Neor lagi.
Dengan malas Jeno menunjuk ke sisi lain taman, dimana mobil yang dirinya bawa terparkir apik.
"Mau jajan lagi gak lu berdua?" Noer bertanya pada Kanfa dan Hiro. Keduanya menjawab dengan gelengan kompak.
"Yaudah ayo balik" Noer berjalan duluan, meninggalkan Kanfa dan Hiro, juga Geo dan Jeno yang saling melemparkan tatapan tajam.
Namun baru beberapa langkah berjalan, Noer kembali berbalik, kedua tangannya bertengger di pinggang dengan wajah malas.
"WOI BALIK ANJING!" Teriaknya marah.
Hiro dan Kanfa sontak bangkit dan berjalan cepat kearah temannya itu, begitupun dengan Geo dan Jeno yang menyudahi acara bertatapan mereka sebelum Noer kembali berteriak.
"Nah gitu dong" ucap Noer dengan senyum sumringah.
**
Cartesy Junior School, Los Angeles.
Begitu sampai di parkiran sekolah, Jovan dengan cepat keluar dari dalam mobil miliknya dan berjalan cepat ke arah kelas Erick.
"Erick ada gak?" Tanya Jovan pada salah satu teman sekelas Erick yang berdiri di depan kelas.
"Eh Jovan. Ada tuh, baru dateng anaknya" jawab siswi tersebut. Jovan mengangguk kecil. "Thanks ya"
Jovan melangkah masuk ke dalam kelas, netra berbeda warnanya langsung menemukan Erick yang duduk di kursi miliknya, nomor tiga dari belakang.
"Rick" panggil Jovan. Erick mendongak. "Hai, Van" sapanya ramah.
"Tadi gua ke rumah buat jemput lo, tante Ana bilang Lo udah berangkat pake motor"
Erick mengangguk membenarkan perkataan Jovan. "Kenapa lo bawa motor lagi Rick?" Tanya Jovan dengan ekspresi cemas.
Erick mengedikan bahunya santai"Ya gak apa-apa, cuma pengen aja. Sayang motor gua gak di pake. Kenapa emangnya?"
"Kan lo bisa berangkat bareng gua. Gua yang bakal antar jemput lo mulai sekarang" ucap Jovan.
"Gua cuma pengen aja, Jov. Sayang motor gua cuma jadi pajangan di garasi" jelas Erick lagi.
"Tapi besok-besok biar gua yang antar jemput lo ya?" Pinta Jovan yang terdengar sedikit memaksa.
"Terserah Lo aja" Erick memilih untuk mengalah, tidak akan ada habisnya jika ia berdebat dengan adik dari kekasihnya ini.
"Udah sana balik. Bentar lagi bel tuh" usir Erick pada Jeno.
"Oke. Gua ke kelas dulu kalau gitu. Inget! Mulai besok gua yang antar jemput Lo!"
"Iya bawel"
Senyum puas tersampir di wajah Jovan, cowok itu pun melangkah keluar dari kelas Erick setelah mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
"Adik sama kaka sama aja" gumam Erick sinis.
******
See you!