Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
173



"Percintaan remaja memang rumit yah" gumam Aldre yang tengah berbaring di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar.


Ara terkekeh kecil mendengar gumaman random yang keluar dari mulut sang suami.


Mereka baru saja pulang dari kediaman sang kaka. Dan begitu tiba di pintu utama, Erick langsung berlari menuju kamarnya. Sudah bisa di pastikan bahwa bocah itu kembali menangis.


"Memangnya kamu dulu gak kaya gitu?" Sahut Ara.


"Hey!! Ya... Sama sih hehehe"


"Dasar tijel"


"Apa itu tijel?"


"Tidak jelas"


"Huhhhh"


"Si kembar sudah tidur?" Tanya Aldre.


"Sudah. Kenapa?" Ara balik bertanya sambil menengokkan kepalanya ke belakang. Karena posisinya saat ini Ara tengah berdiri di depan meja, menyusun perlengkapan bayi yang sebelumnya ia bawa.


"Gak apa-apa, nanya aja"


"Kirain kamu mau sesuatu"


Mendengar perkataan sang istri, Aldee sontak bangkit dari posisi berbaringnya dengan penuh semangat. "Memangnya kamu mau?"


Ara menggeleng dengan ekspresi polosnya. "Engga"


"Ett dahh!!" Protes Aldre.


"Hehehehe"


"Tapi kita udah lama Lo yang, enggak ehhmm"


"Apasih? Gak jelas"


"Yuk Yang yuk. Mumpung anak-anak udah tidur" ajak Aldre dengan senyum menggodanya.


"Gak!" Tolak Ara cepat.


"Pelit"


"Bodo"


Selesai dengan acara membereskan perlengkapan sang anak, Ara berbalik merangkak naik ke atas ranjang. Membaringkan tubuhnya di tengah-tengah, mengabaikan tatapan mesum sang suami padanya.


Setelah mendapatkan posisi Yang pas, kedua tangan putih itu menarik selimut, menutup rapat tubuhnya seolah menjadi pelindung dari terkaman manusia buas yang tengah mengawasinya.


"Apa? Mau yaaaa??? Enggak dulu say" ledek Ara dengan ekspresi bahagianya.


Aldre mendengus keras, dirinya gagal mendapatkan jatah malamnya. Padahal yang di bawah sudah siap bertempur.


"Tega banget" lirihnya sedih.


Ara terkikik geli, niatnya hanya ingin mengerjai sang suami, tapi reaksi lelaki itu membuatnya geli.


"Al, sini" panggil Ara. Aldre menoleh masih dengan ekspresi sedihnya.


Tapi perlahan raut sedihnya berubah menjadi senyum bahagia begitu melihat tangan Ara yang perlahan membuka kancing piyamanya sendiri.


Selanjutnya yang terjadi hanyalah olahraga panas yang mereka lakukan.


**


"Besok mau antar Jeno ke bandara?" Tanya Ana sambil mengelus rambut Erick yang tiduran di pangkuannya.


Erick mengangguk lemas tanpa suara. Sebenarnya dirinya tidak ingin ikut, tapi Jeno memaksanya untuk datang besok. Jika saja Jeno tidak mengancam akan melupakan semua impiannya, Erick jelas pasti akan menolak permintaan lelaki itu.


"Jeno akan kembali, sayang. Mamah ingin Erick berhenti bersedih. Jika Jeno milik Erick, maka Jeno akan kembali pada pemiliknya. Jeno melanjutkan mimpinya, maka Erick pun harus begitu. Erick paham kan maksud mamah?" Kata Ana lembut.


Erick kembali mengangguk lemas. "Erick mengerti mah. Erick hanya tidak siap di tinggal Jeno. Erick masih ingin main bersamanya" ungkap Erick.


Erick bangkit dari posisinya, berpindah pada ranjang. Ana menarik selimut, memakaikannya pada Erick yang sudah berbaring nyaman di atas ranjang. Kemudian mematikan lampu setelah memberikan satu kecupan di dahi sang putra dan mengucapkan selamat malam.


**


Pagi harinya.


Semua orang di kediaman mansion Scander sudah bersiap untuk mengantarkan si sulung Scander yang akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri.


Isabella merapihkan kembali pakaian sang putra. Wajahnya sedih, jika dirinya adalah wanita yang mudah menangis, sudah bisa di pastikan air matanya mengalir sejak tadi.


"Jeno hanya akan sekolah, bunda. Bukan akan berperang, jadi jangan berekspresi seperti itu" ucap Jeno geli.


"Diam kamu! Pergi sana!" Usir Isabella kesal.


"Tega sekali"


Jesslyn menghampiri keduanya, tanpa berucap apa pun langsung memeluk erat kaka kembarnya. Seolah mengatakan bahwa dirinya tidak ingin di tinggal.


"Kenapa?" Tanya Jeno. "Tega ninggalin aku sendiri" protest Jesslyn.


"Kan ada Jovan"


"Nanti kan Jovan nyusul kamu"


"Aku akan pulang ko"


"Tetep aja lama"


Jeno hanya bisa tersenyum maklum. Selama ini Jesslyn tidak pernah bersama orang lain, gadis itu selalu mengikutinya dan Jovan. Tidak pernah bisa jauh dari kedua saudaranya.


Tapi sekarang, Jesslyn harus mulai belajar untuk melakukan segalanya sendiri, tanpa kedua saudara kembarnya. Dan harus mulai bisa melindungi dirinya sendiri.


"Tau kan apa yang harus di lakukan jika aku dan Jovan gak ada? Terutama saat kamu dalam bahaya" Tanya Jeno mengingatkan.


Jesslyn mengangguk. "Aku ingat. Mulai sekarang aku akan belajar melindungi diri ku sendiri" ucapnya penuh semangat.


"Good girl" puji Jeno.


"Jeno jangan lama-lama ya? Nanti kalau aku kangen, jauh nyamperinnya"


"Iya, sayang. Aku akan cepat pulang ko. Aku akan menghubungi kamu setiap hari. Oke?"


"Oke"


"Ka Jenoooooo" dari arah taman, Valerie berlari menghanpiri sang kaka. Gadis kecil itu baru saja mendapat wejangan dari sang ayah, karena terus menangis sambil memeluk koper sang kaka. Tidak memperbolehkan kakanya untuk pergi.


"Hai, sweetie" Jeno menangkap tubuh Valerie dengan cepat. Bisa dirinya lihat, wajah sang adik yang sembab.


"Valerie habis nangis hm?"


Valerie mengangguk gemas. "Arie sedih. Tapi kata ayah, kaka mau sekolah jadi Arie tidak boleh sedih. Harus kasih kaka semangat" jawabnya lucu.


"Ayah benar, kalau Arie sedih nanti kaka jadi tidak semangat sekolahnya"


"Ahhhh jangan. Kaka harus semangat, Arie tidak akan sedih lagi. Tapi kalau Arie kangen kaka harus pulang ya"


"Siap bos kecil!"


"Hihihihi! Kaka gak boleh nakal di sana loh. Nanti kalau nakal, ka Ericknya Arie umpetin" ancam Valerie dengan tangan yang terlipat di depan dada, dan wajah yang di buat marah.


"Ouuuhhh pintarnya. Kaka janji tidak akan nakal di sana. Pinky promise?"


"Pinky promise"


****


T b c?


Bye!