
Ceklek...
Ara yang tengah membereskan pakaian bayi kembarnya menoleh begitu mendengar pintu kamar yang terbuka. Disana, Aldre baru saja masuk dengan setelan kantornya yang masih menempel rapih ditubuhnya. Kecuali jas yang menggantung dilengannya.
"Aku pikir kamu pulang ke Mansion Skholvies" ucap Ara begitu Aldre tiba di hadapannnya.
Aldre melatakkan jas dan tas kerjanya ke atas sofa, tangan dirinya mengendurkan dasi yang masih melilit rapih dilehernya.
"Tadinya. Tapi aku khawatir Alaner akan rewel lagi" ucap Aldre.
"Alasan"
"Hehehe. Aku kangen kamu sayang" dengan hati-hati, Aldre memeluk Ara. Kepalanya merengsek masuk ke perpotongan leher kekasihnya.
"Aku belum sempet cium kamu sejak kita kembali bersama" ucap Aldre lagi. Bibirnya mulai mengecup kecil sisi wajah Ara.
"Kalau belum cium aku, kita gak mungkin punya dua anak" balas Ara.
"Bukan itu maksud aku sayangggg muachh"
"Geli, Al. Mandi sana, kamu bau"
"Mandiiinnn"
"Hih"
"Kekekek"
Kemudian Aldre berjalan masuk menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya yang bekeringat karena seharian bekerja. Suara gemericik air terdengar tak lama kemudian.
Ara baru akan berbaring di atas ranjang, namun niatnya terhenti ketika mendengar suara rengekan dari putra kecilnya.
Helaab nafas berat keluar dari bibir tipis Ara. "Tau banget kalau daddynya udah pulang, langsung bangun gitu" gerutunya.
Dengan gerakan pelan Ara turun dari atas ranjang, berjalan dengan langkah amat pelan menuju box bayi.
"Dasar anak daddy. Yang ngandung kamu itu mommy loh" omel Ara yang hanya dibalas tawa kecil Alaner. "Kenapa ketawa? Mommy lagi marah loh ini"
"Eeuunngg hehehe"
"Apa hehehe? Pokoknya mommy marah ya sama Alaner"
Alaner tertawa semakin geli. Bayi tampan itu sepertinya mulai tau cara menggoda orang dewasa. Dia tau benar kapan waktu yang tepat untuk membuat para orang dewasa gemas sekaligus kesal dengan tingkah rewelnya.
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Aldre yang keluar hanya berbalut handuk yang melilit pinggangnya. Ara hanya menoleh sekilas, pipinya bersemu merah karena tidak sengaja melihat tubuh sang kekasih.
'Yaampun yaampun tenang Ara tenang" batin Ara menjerit.
"Ouh? Anak daddy bangun kah?" Seru Aldre dengan tangan yang sibuk mengusakkan handuk ke rambutnya.
Aldre hendak mendekat, tapi dengan cepat Ara menghentikan langkah kekasihnya.
"Jangan mendekat! Jangan mendekat!"
Aldre mengernyit bingung. "Kenapa sih?"
"Pakai dulu baju kamu" Ara menunjuk badan Aldre yang tidak mengenakan apapun kecuali handuk dipinggangnya.
Aldre menunduk menatap tubuhnya. Sedetik kemudian seringai tipis terbit di wajah lelaki itu.
"Ayolah sayang, tidak perlu malu. Kamu kan sudah melihat semuanya" goda Aldre.
Ara melotot tajam. "Aldre!! Pakai baju atau kamu keluar dari kamarku!"
"Tega?"
"Tega!!"
"Galak banget" Aldre berbalik kemudian masuk keruang ganti.
Tidak lama kemudian lelaki itu kembali keluar dengan mengenakan setelan tidur berwarna biru tua.
"Nah pangeran daddy, ayo tidur. Daddy akan menggendongmu sampai kau tidur"
Aldre mengambil alih Alaner dari gendongan Ara, mengajak bayi tampan itu ke pintu balkon. Tubuhnya bergoyang pelan ke kanan dan ke kiri bergantian. Bibirnya menyenandungkan nada indah pengantar tidur.
Ara menatap hal itu dengan senyum bahagia. Hatinya menjadi hangat melihat pemandangan indah yang akan menjadi hal terakhir yang dirinya lihat sebelum tidur mungkin sampai beberapa tahun kedepan.
"Besok sebelum berangkat kerja, rekamin suara kamu ya, Al"
"Buat Alaner. Mau aku setelin pas dia bangun, jadi dia gak akan nangis kalau kamu tinggal"
"Okeh. Aku rekamin sebelum berangkat kerja besok"
"Apa Aldara rewel?"
"Tidak, anak itu anteng sekali. Aldara bahkan jarang menangis"
"Syukurlah. Jadi kamu gak terlalu kerepotan"
Hening setelahnya, tidak ada suara lagi yang keluar diantara mereka. Ara sibuk memandang Aldre, sedangkan Aldre sibuk dengan putra kecilnya.
"Mm.. Pernikahan kita-- sudah selesai kah?" Ara memberanikan diri menanyakan hal yang membuatnya penasaran seharian ini.
"Tinggal 30% lagi. Kenapa? Udah gak sabar ya?" Ucap Aldre dengan senyum menggodanya.
"Apaansih orang cuma nanya!"
"Dih. Dasar tsundere"
Ara memutuskan untuk membaringkan tubuhnya, matanya terpejam dengan cepat begitu kepalanya menempel pada bantal.
"Mommy kecapean mengurusmu dan saudaramu, little boy. Jadi setelah ini tidak boleh rewel lagi setelah daddy pergi kerja. Mengerti?"
Alaner mengedipkan matanya beberapa kali, seolah patuh dengan apa yang dikatakan sang daddy.
*
Pagi harinya.
Sebelum berangkat kerja, seperti yang Ara katakan semalam Aldre merekam suaranya untuk sang putra. Hanya sapaan selamat pagi, dan senandungan lagu yang biasa Aldre nyanyikan untuk Alaner setiap malam.
Setelah selesai merekam, Aldre mengirimkannya melalui pesan chat kepada Ara. Setelah selesai baru dirinya pergi bekerja. Tidak lupa memberikan satu kecupan singkat dikening kekasihnya yang masih terlelap.
Ara terbangun dari tidur lelapnya. Matanya mengedar ke penjuru ruangan, mencari sosok Aldre yang lagi-lagi pergi sebelum dirinya terbangun.
Ara meraih ponselnya, membuka pesan yang Aldre kirimkan. Isinya sebuah rekaman dan ucapan selamat juga permintaan maaf karena kembali pergi sebelum dirinya terbangun.
Suara rengekan yang berasal dari box bayi terdengar. Ara dengan cepat memutar rekaman yang Aldre kirimkan. Seketika suara rengekannya berhenti. Ara mendekat ke tempat dimana dua bayinya berada, dan benar seperti dugaannya putra kecilnya yang terbangun.
"Pagi mommy lebih tenang kali ini" gumamnya. Ara melangkah menuju kamar mandi untuk memulai ritual paginya, setelahnya Ara akan menyusui keduanya, baru setelah itu memandikan mereka.
"Ouuhh? Hai Valerie" Ara terkejut dengan kehadiran Valerie dikamarnya. Gadis kecil itu tengah mengajak ngobrol kedua anaknya.
"Valerie sendiri?" Tanya Ara. Valerie mengangguk dengan wajah polosnya, membuatnya terlihat menggemaskan.
"Sebentar ya. Bibi mau susuin sama mandiin dedenya dulu, baru setelah itu Valerie bisa main"
"Iya bibi" Ara meraih tubuh Alaner menyusui bayi tampan itu.
sepuluh menit kemudian Ara selesai menyusui Alaner, dirinya memeriksa box bayi apakah putri kecilnya sudah bangun atau belum. tapi ternyata gadis kecil itu masih belum bangun, jadi Ara memutuskan untuk memandikan Alaner terlebih dahulu.
Alaner selesai mandi bertepatan dengan Aldara yang terbangun. Ara meraih tubub sang putri, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya pada Alaner.
Kini keduanya sudah kembali terlihat tampan dan cantik. Valerie merangkak naik keatas ranjang, mengajak kedua saudaranya itu bermain.
"kenapa Valerie agak ajak Fero kesini?"
"Fero gak mau"
"loh kenapa?"
"ayah mau keluar kota, jadu Fero menangis"
"ouuhh"
'persis sekali dengan Alaner' gumam Ara dalam hati.
Selanjutnya Ara hanya memperhatikan keponakannya yang tengah asik mengajak kedua anaknya bermain. Dirinya hanya memerhantikan, sesekali juga menyahuti setiap Valerie bertanya padanya.
.....
T b c?
Bye!