Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
78



"Baik, ka. Biar aku yang tangani anak itu"


Isabella langsung menutup telponnya begitu ia selesai berbicara. Tangannya yang menggenggam ponsel miliknya meremat benda pipih itu kuat. Mungkin jika tidak di sadarkan sang suami, benda pipih itu pasti sudah hancur di dalam genggamannya.


"Bee" panggil Justin yang menyadarkan Isabella dari rasa kesalnya. "Ada apa?" Tanyanya.


"Putramu!" Seru Isabella kesal. Satu alis Justin terangkat, "who?" kepala Justin miring ke kiri tidak tau siapa yang sang istri maksud, karena mereka memiliki empat orang putra dimana yang terakhir bahkan belum berusia satu tahun.


"Jeven! Anak itu kabur entah kemana sekarang!" jawab Isabella masih dengan nada kesalnya.


Helaan nafas ringan meluncur bebas dari bibir Justin. "Mau mencarinya?"


Bibir Isabella mengerucut lucu seperti anak kecil. "Apa dia akan membuat masalah?" tanyanya memastikan.


"Sejauh ini tidak pernah ada masalah yang di ciptakannya kecuali dengan sang daddy" balas Justin sambil berjalan mendekati sang istri.


Kedua lengan kekar sang tuan besar keluarga Scander itu melingkar apik di pinggang ramping sang nyonya besar. Sesekali mengelus lembut pinggang sang istri.


Netra hazel Justin menatap lekat wajah cantik yang selalu dipujanya sejak kecil itu. Pikirannya melayang pada banyaknya hal yang mereka lalui agar bisa sampai di titik ini


"Jangan mengganggu konsentrasi ku, Boo" ujar Isabella yang tengah memejamkan matanya. Wanita cantik itu tengah menerawang dimana sekiranya keberadaan putra sulungnya yang sangat nakal itu.


Justin terkekeh kecil, "maaf maaf. Silahkan di lanjutkan" ucapnya dan membiarkan sang istri kembali fokus pada kegiatannya.


Asrama Cartesy High School, Jerman.


"Apa kau akan memberitahu bunda mu?" Tanya Kanfa sembari memperhatikan Jeno yang terlihat tenang. Seperti tidak terlalu khawatir dengan hilangnya Geo.


"Daddy Veno pasti sudah mengadu pada bunda bahwa putranya yang menyusahkan itu kembali kabur" balas Jeno yang sudah sangat paham apa yang akan terjadi jika abangnya itu kabur seperti ini.


"Aunty Isabella pasti menerawang dimana keberadaan bang Jeven" timpal Hiro menebak hal yang mungkin dilakukan bibinya itu.


Jeno mengangguk kecil, membenarkan perkataan Hiro. "Biarkan dia berurusan dengan bunda" ucap Jeno lagi.


"Terus kira-kira, kapan kita bakalan makan Jen?" Tanya Kanfa sambil menunjukan ekspresi kelaparannya pada Jeno.


Lemparan bantal mengenai tepat wajah Kanfa, dan pelakunya tentu saja Jeno yang kesal dengan tingkah sahabatnya itu yang selalu meminta makan padanya.


"Kerjaan lu tiap hari makan aja. Cucu piringnya! Awas aja kalau gak di cuci" sembur Jeno kesal.


"Iya iya. Galak banget buset"


Hiro tertawa geli, ada untungnya ia tidak bisa memasak jadi tidak perlu menghadapi perut karungnya Kanfa.


"Padahal emak bapak lu jago banget masak, Fa Fa. Lu doang emang demen nyusahin temen" cibir Hiro sambil menggeleng-geleng kan kepalanya. Sedangkan si pelaku hanya menampilkan cengiran tanpa dosanya.


"Yaudah si, kan itu gunanya pertemanan. Saling menyusahkan hehehe"


"Ohhh aaaasuuuu" sambar Jeno.


"Wkwkwkwk"


---


"Laper banget" keluh Geo mengusap perutnya yang mulai mengeluarkan suara berisik.


"Abang kemana sih? Gak balik-balik dari tadi"


Mata Geo mengedar ke penjuru ruangan. Kamar yang ia tempati saat ini memiliki nuansa gold yang Geo tau hal ini sangat jauh dari kesan seorang Jeven Arthur.


"Sejak kapan dia suka warna gold?" gumam Geo bertanya pada dirinya sendiri.


Tidak banyak barang di dalam kamar ini, bahkan Geo tidak melihat adanya pekerja rumah tangga disini.


Sepertinya rumah ini baru saja selesai di bangun, Wangi cat baru masih bisa Geo cium meski agak samar.


"Hp gua disita abang lagi, bosen banget"


"Jangan ngedumel terus, ayo makan" sebuah sahutan mengejutkan Geo yang masih asik melihat sekeliling.


"Abang! Bisa gak jangan ngagetin?!" omel Geo. Jeven terkekeh pelan, satu tangan nya yang kosong bergerak menutup pintu, setelahnya ia berjalan mendekati yang masih duduk di atas ranjang.


"Abang darimana?" tanya Geo begitu Jeven meletakkan makanan yang dibawanya ke atas meja.


"Masak" jawab Jeven singkat. "Emang bisa?" tanya Geo lagi kali ini dirinya menampilkan ekspresi tak percaya.


"Sembarangan banget kalo ngomong"


"Ya kan cuma nanya"


"Bawel. Ayo makan"


Raut bingung menghiasi wajah Geo. "Kenapa piringnya cuma satu? Abang gak makan?" tanyanya sambil terus menatap ke arah piring yang berada di atas meja.


"Makan kok" jawab Jeven menampilkan senyum penuh artinya. "Lah? Ini piringnya cuma satu" ucap Geo heran.


"Kita makan sepiring berdua" jawab Jeven lagi kali ini dengan senyum menyebalkannya.


Geo mendelik kesal. "Dih, najis banget"


"Heh?! Gak sopan"


"Bodo"


Dengan kesal Geo meraih piring dan mulai makan dengan serampangan. Bocah itu bahkan sampai lupa untuk berdoa.


"Kaya orang kelaperan" cibir Jeven.


"Berishsikk"


"Kkkkkk"


----


See you!