Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
93 | LEO YANG MENYEBALKAN



Beberapa hari kemudian.


Aldre sungguh tidak tau berapa banyak lagi ungkapan cinta yang akan tumpah dari mulutnya untuk sosok pria tua di apartment nya ini.


Bahkan ia tidak bisa menghabiskan waktu bersama kekasihnya dengan baik karena pria tua itu terus mengikuti kemanapun mereka pergi.


Sudah macam penguntit!


Didalam kamarnya, Aldre terus mengomel tidak jelas. Kakinya menendang-nendang udara dengan kesal. Ia tidak bisa tidur karena suara tv yang cukup keras. Menyesal karena lupa memasang kembali peredam suara dikamarnya yang baru saja diganti.


Aldre berhenti ketika ia mulai merasa lelah. Berdiri ditengah ruangan sambil berkaca pinggang. Sedetik kemudian lelaki itu terperanjat, ketika mengingat bahwa tv diruang tamunya terhebung dengan ponsel miliknya.


Aldre berjalan kearah nakas, meraih ponselnya kasar. Lelaki itu membuka aplikasi tv miliknya kemudian menekan tombol off didalam aplikasi tersebut. Tidak ada lagi suara berisik dari luar membuat lelaki itu tersenyum puas.


BRAK!!


Baru akan kembali membaringkan tubuhnha diranjang, Aldre harus kembali menahan kesal karena pintu kamarnya yang didobrak paksa.


"Ka Leo!!!" Jeritnya kesal.


Pasalnya pria tua yang beberapa hari ini terus mengganggunya, baru saja mendobrak paksa pintu kamarnya. Dan tanpa bersalah pria itu berbaring diatas ranjangnya dengan santai.


"Aissshhh, pria tua sialan"


BRUK!!!!


"Haishh sialan!!" Ungkapan penuh cinta meluncur dengan manis dari bibir pria tua itu.


"Rasakan itu!"


"Kau tidak berperikemanusiaan, Aldre!"


"Persetan denganmu! Iblis sepertimu tidak pantas diberi hak asasi manusia!" Semprot Aldre penuh kasih sayang.


"Haissshhh, pantat indahku" Leo mengusap-usap pantantnya yang terasa nyeri. "Bocah bajingan" umpatnya lagi.


Aldre tidak menggubris lagi ucapan pria tua itu, ia memilih memejamkan matanya dan terlelap. Tubuhnya sudah benar-benar lelah saat ini, dan ia butuh mengisi kembali energinya.


Leo menyerah, memilih berbaring diatas sofa, ia akan melanjutkan aksi mengganggunya esok pagi.


.


"Bagaimana acara kencanmu dengan Aldre tadi siang?" Charles mengusap lembut puncak kepala Ara.


Bibir Ara mengerucut, ekspresi wajahnya menunjukan bahwa ia tengah kesal saat ini. Dahi Charles mengerut,"kenapa? Berantem lagi?" Ara menggeleng keras.


"Loh, terus kenapa?" Tanya Charles lagi.


"Aaaaaaaa Ara kesal, kakaaaa!" Ara merengek.


"Kesal kenapa? Kaka Tanya berantem lagi kamu geleng, terus kenapa?"


"Ka Leo"


"Kenapa sama ka Leo?"


"Dia ngintilin aku sama Aldre. Ihhhh keselllll!!!!"


Charles tertawa kecil, lelaki itu tau tentang ka Leo yang terus membuntuti Aldre. Kaka sulungnya, Devan barusaja memberitau tadi pagi bahwa Leo akan mengajak Aldre untuk bekerja sama dengan mereka. Padahal bocah nakal itu sulit didekati.


"Kakaaaaa maaaahhhhh. Jangan ketawa issshhh, Ara lagi kesal loh ini!" Ara melipat kedua tangannya didada. Bibirnya mengerucut semakin maju.


"Ya terus kaka harus gimana sayang? Ini ka Leo loh, mana berani kaka negurnya"


"Ara keselllllll. Ka Leo jelek! Bintang zero sangat tidak ramah"


"Yaudah yaudah. Sekarang Ara tidur, besok ngadu sama papah ya" ucap Charles.


Ara mengangguk, mulai membaringkan tubuhnya. Charles menarik selimut untuk sang adik. "Selamat malam, little princess"


"Selamat malam, kaka"


Cupp


Skip


Pagi harinya.


Mengingat perkataan sang kaka semalam, pagi ini Ara memasuki ruang makan dengan terburu-buru. Gadis itu bahkan lupa membantu sang mamah untuk menyiapkan sarapan.


"Papahhhhh" teriaknya begitu memasuki ruang makan.


"Kenapa sih teriak-teriak?" Tanya Ceyora, istri Charles.


"Papahhhh" Ara tidak menggubris kaka iparnya, gadis itu masih sibuk merengek pada sang papah.


"Ada apa, little princess?" Tanya Revano dengan lembut.


"Ka Leo!!!"


"Kenapa dengan Leo?"


"Bilangin sama ka Leo jangan ganggu aku sama Aldre!"


"Iisshhsh papah. Kemarin pas aku sama Aldre lagi kencan, ka Leo tuh ngintilin kita berdua. Kesel tau" ucapnya kesal.


"Aahhh, hahahahaha. Papah mengerti, nanti papah bilangin sama ka Leo, ya"


Ara tersenyum sumringah mendengar perkataan sang papah. "Janji?"


"Janji"


"Yes, sayang papah"


"Sudah. Sekarang duduk dan makan sarapanmu, little princess" ucap Sofia.


.


Kembali ke apartment Aldre.


"Harusnya kau Leo lakukan seperti ini sejak kemarin" seru Aldre dengan mulut yang masih penuh.


Pagi ini ia terbangun karena mencium aroma masakan yang sungguh harum. Lelaki itu bergegas keluar dari kamar guna mencari darimana aroma itu berasal.


Yang ia dapati, pria tua yang sejak kemarin menganggunya tengah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


"Anggap saja ini sogokan sebelum aku kembali mengganggumu" ucap Leo santai.


Aldre kembali memasang wajah datarnya. Pria tua ini.... Bagaimana cara membasminya?


"Kira-kira jika aku menyemprotkan obat nyamuk padamu apa kau akan mati?"


"Coba dengan sianida"


"Kau mati?" tanya Aldre dengan polosnya.


"Aku iblis bodoh, sianida mana mempan! Dasar bocah bodoh"


"Sialan!! Aku akan menenggelamkan Edward di Niagara jika dia bertingkah laku sepertimu!" Desis Aldre kesal.


"Wahhhh. Benarkah?"


"Anjing!!"


"Kasyar sekali. Apa kau sedang pms?"


"Kau memang manusia paling bajingan yang aku kenal, ka Leo!" Aldre semakin sering menumpahkan ungkapan cinta dari mulutnya sejak bersama Leo.


"Ya thank you. Itu nama belakang ku omong-omong" jawab Leo dengan bangga.


"Aku tidak terkejut"


"Bisakah kau bersihkan apartment ku sekalian?" Tanya Aldre santai setelah menghabiskan sarapannya.


Leo mendelik, bocah ini semakin menyebalkan. "Kau pikir aku pembantumu?"


"Kau mirip tukang kebuh di mansion ayah sebenarnya" ucap Aldre santai.


"Sialan bocah!!"


"Wkwkwkwk"


kembali ke dalam kamar. Aldre belum sempat membersihkan dirinya saat ia keluar tadi. bahkan lelaki itu tidak menggosok giginya.


Aldre malangkah menuju kamar mandi, melakukan ritual paginya yang sempat terlewat. mengisi bathtub dengan air hangat, kemudian menuangkan sabun kedalamnya.


sudah lama ia tidak berendam. Jadi ia ingin sedikit merilekskan pikirannya pagi ini, setelah perdebadatan tidak jelasnya dengan pria tua diluar sana.


"aahhh segarnya" Aldre memajamkam matanya.


25 menit kemudian lelaki itu bangkit menuju shower, membilas sisa bisa yang menempel ditubuhnya.


hampir satu jam ia habiskan untuk bersiap-siap. setelah semuanya siap, Aldre meraih kunci mobil, ponsel, juga tas kerjanya, kemudian melangkah keluar dari kamar.


bisa ia lihat, Leo yang sudah rapih dengan pakaian hitam-hitamnya. persis seperti ketika lelaki itu tengah menjalankan misi.


"mau kemana kau?"


"kepo!"


"idih si anjir"


"ayo jalan"


"jalan? kemana?" tanya Aldre tidak mengerti.


"ya ke kantor. kemana lagi emangnya?" jawab Leo.


"fucek" Aldre mengacungkan jari tengahnya kearah Leo, yang dibalas Leo dengan seringai lebarnya.


.....


T B C?


BYE!